MONALISA

28 4 2
                                        


Siapa yang tak kenal namanya?

Si gadis cantik bak permata. Sorot matanya tajam menusuk. Hati pria mana yang tak tertunduk. Kulitnya putih bersih tak tergores tinta setitik. Jangan tanyakan seberapa banyak pasang mata yang melirik.

TENG...TENG!

Suara lonceng gereja berbunyi.

"Siap?"

Tangannya bergetar tatkala seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Lengkung di sudut pipinya memberi tanda bahwa dia berusaha untuk tetap tenang.

"Aku gugup."

Satu kalimat terucap. Gadis itu masih tak bergeming dari tempatnya. Telapak tangannya tampak basah, membuat beberapa butiran keringat di ujung tangkai bunga yang di pegangya erat.

Dengan ragu dia bertanya, "Apa aku sudah cantik?"

Gadis itu menoleh ke arah lawan bicaranya. Seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi teman hidupnya. Tak ada jawaban apapun di sana. Hanya suara batuk yang terkesan menggoda. Hingga akhirnya pukulan yang lemah mendarat di dada bidang sang pria.

Sambil tersenyum pria itu menatap dalam mata sang gadis. "More and more."

Gadis itu menarik nafas dan membuangnya perlahan.

Pipinya merona bak buah delima. Wajahnya kini tak lagi kaku, dan dengan mantab dia melangkahkan kaki.

"Baiklah. Aku siap!"

***

-Waktu akan terus berlalu. Tak sedikit pula meninggalkan luka di sudut pilu. Ketika masa lalu memberi kenangan. Seketika dunia itu akan membuatmu rindu.-

Perlahan senja mulai memudar. Angin mengantar sejuta benih bunga dandelion ke peraduannya. Meninggalkan seorang gadis yang tengah duduk di atas rumput yang bergoyang. Matanya sendu, seakan menahan rindu sekian waktu. Riak sungai di depan matanya seakan mengingatkan betapa banyak kesedihan yang harus dia tanggung.

Saat itu aku masih berumur 7 tahun. Usia yang sangat muda untukku mengerti bahwa rasa kehilangan itu sangat menyakitkan. Ibu yang meninggal saat melahirkanku dan ayah yang pergi ke negara asalnya di Skotlandia. Aku yang akhirnya terdampar di panti asuhan menunggu untuk seseorang yang mau mengangkatku sebagai anak asuhnya.

Aku benci....

Aku marah!

Akan tetapi....

"Di sini rupanya!" Suara baritonnya terdengar tegas.

Tiba-tiba seorang pria datang dan duduk di samping gadis itu. Senyumnya yang lebar membawa beribu keceriaan. Sang gadis membalas dengan senyum hangat yang tak kalah meneduhkan. Tangannya menarik pundak sang pria dan menyandarkan kepala di sana.

"Kau ingin sesuatu?" Tanya sang pria.

Gadis itu mengangkat kepalanya. Dia menoleh ke arah pria yang sekarang tengah duduk di sampingnya. Diraihnya tangan pria itu dan di genggam erat, "Apa kau akan mengabulkannya?"

Si pria mengangguk. "Katakanlah."

Air mata bergulir membasahi wajah sang gadis. "Aku rindu tempat itu."

***

Hujan!

Seseorang menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah bangunan yang bertuliskan 'Panti Asuhan Hairunnisa'. Payung berwarna abu-abu menaungi seorang gadis cantik yang keluar dari dalam mobil itu. Sisa-sisa air hujan menggenangi jalan setapak menuju pintu masuk.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 29, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MONALISAStories to obsess over. Discover now