~ Mengetahui jika kau bukan satu- satunya untuk dirinya, apa yang kau rasakan? Kesal? Sakit hati?~
Inilah konsekuensi terlahir menjadi anak dari keluarga kaya yang tak mau merugi dan tak puas dengan pencapaiannya. Menjadikan anaknya sebagai tumbal untuk menambah lagi dan lagi kekayaannya. Kang Hyebin bernasib seperti itu. Ayahnya yang terlampau kaya raya tiba- tiba bangkrut tanpa sebab yang jelas, sampai harus menggadaikan rumah besar yang disebut istana itu ke pihak bank.
Dirinya begitu ingin melihat bagaimana sengasara keluarganya saat tak mempunyai uang sepeserpun. Sebenarnya ini merupakan kesempatan besar untuk membuat ayahnya jatuh. Sebab 3 tahun lalu dia telah gagal membakar habis ruangan pribadi ayahnya, untuk membakar kertas- kertas tipis bernilai milyaran won yang dijaga begitu baiknya.
Mungkin ini terlihat jahat tetapi untuk manusia di kelas serakah seperti Ayahnya, itu adalah hukaman yang setimpal. Tetapi harapannya melihat keluarganya miskin tak bisa menjadi kenyataan, pasalnya Ayahnya itu berhasil meminta pinjaman dari perusahaan terbesar di Korea. Padahal prediksinya yang tak pernah meleset itu memperkirakan tak akan ada pembisnis yang mau menolong perusahaan ayahnya. Keherannya terjawab ketika ayahnya mengatakan akan menikahkannya dengan pria kaya, tentu pria yang berhasil dia pinjami uang. Maka bisa diketahui, dirinya dijual untuk mempertahankan kekayaan dan reputasi keluarga. Gila? Iya jika itu anak dari kalangan biasa, tetapi baginya itu adalah konsekuensi hidupnya saat memilih terlahir menjadi anak orang kaya yang tentunya serakah.
Disinilah dia sekarang, sedang menaiki tangga berliku di rumah sang suami. Suami? Pria itu lebih pantas disebut sang 'pembeli' karena dia telah di jual. Bibirnya memberenggut kesal menaiki tangga yang belum juga menemukan ujungnya. Apa tangga ini jalan menuju neraka? Oh shit! Ini memang neraka baginya.
"Sial" Hyebin mengumpat kesal setelah sampai di tangga terakhir. Peluhnya bercucuran jatuh ke lantai yang beralaskan karpet merah. Gaunnya yang berat dan panjang menambah kekesalannya. Terseok- seok kakinya menuju pintu besar yang ia yakini itu kamar yang dikatakan oleh salah satu pelayan rumah ini. Higheelsnya sudah ia lepas ketika masih berada di tangga dan ditinggalkan disana.
Langkah beratnya terhenti ketika sebuah pintu segi panjang terbuka disebalah kirinya, menampakan pria yang telah resmi menjadi suaminya 2 jam lalu itu sedang berdiri gagah dengan setelan jas hitam didalam sana. "Lift?" dahinya mengkerut dengan dadanya yang naik turun mengatur nafas.
"Kau!" tunjuk Hyebin ketika suami nya itu sudah keluar dari lift. "Kenapa tidak memberitahuku jika ada lift disini?!" teriaknya kencang. Walaupun nafasnya mulai menipis dan lelah, dia tidak terima dengan perlakuan yang telah diberikan. Pelayan rumah ini hanya memberitahunya tentang letak kamarnya, sama sakali tidak memberitahunya tentang lift ini?!. Sungguh menyebalkan. Jika saja dia mengingat wajah pelayan itu, dia benar- benar akan membuat perhitungan!
"Cho Kyuhyunnn!" teriaknya kencang dan panjang ketika pria bernama Kyuhyun itu hanya mengindikan bahu dan pergi melewatinya. "Pria sialannn!" teriaknya sekali lagi dan membuatnya "uhuk..uhuk" tersedak akan umpatannya.
.
.
20 menit waktu yang ia butuhkan untuk menaiki tangga berliku tadi dan 10 menit untuk mencapai ganggang pintu yang menjadi tujuannya.
Hyebin langsung mencari ranjang ketika ia sudah masuk kedalam kamar ini. "Ah" serunya ketika tubuhnya ia jatuhkan keranjang, tidur terlentang memenuhi ranjang. Dan itu berguna untuk meredakan sakit di sekujur tubuhnya. Dari mata dan bibirnya yang lelah terbuka dan tersenyum, lalu kedua tangannya yang lelah memegangi gaun panjang nan berat, pinggangnya yang terasa remuk dan kakinya yang seperti mati rasa! Lengkap sudah kesakitan yang ia dapat hari ini.
YOU ARE READING
Memories
FanfictionGadis yang tidak suka dengan namanya pernikahan dan sangat tidak menyukai anak kecil kini harus berhadapan dengan semua itu karena perjodohan 'bodoh' yang di putuskan ayahnya. Menikah dengan pria beranak membuatnya berpikir hidupnya kini telah beru...
