Matahari mulai menerangi kamar seorang gadis bertubuh kecil dan berparas cantik, ia memiliki nama Milla yang di berikan oleh mendiang ayahnya. Milla menggeliat di tempat tidurnya, ia tidak puas dengan tidurnya, karena tadi malam Milla harus mengerjakan tugas kuliahnya. Milla adalah seorang mahasiswi tingkat 5, siapa sangka walaupun tubuhnya kecil ia memiliki kemampuan yang sangat besar. Cita-citanya menjadi illustrator terkenal. Milla selalu semangat bila di suruh kuliah, tetapi tidak pagi ini. Rasa kantuk masih merayapi tubuhnya. Alarm terus berdering, akhirnya Milla bangun dengan perasaan yang berat meninggalkan kasurnya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00, tetapi dosennya belum juga datang. Milla mulai membuka akun instagramnya untuk melihat-lihat hal yang mungkin seru. Tetap saja Milla hanya men-scroll ponselnya, 'tidak ada yang menarik." Batinnya.
Tak lama ada seorang perempuan yang duduk disebelahnya, ia adalah Raina, teman Milla dari SD hingga sekarang. Ia datang langsung memeluk Milla seperti biasanya, Milla sudah terbiasa akan hal itu.
" Millaa! Iih..kangen. " Ucap Raina dengan nada khas manjanya
" Na, kan kemarin baru ketemu. Aneh lo ah. "
" Tetep aja kangen Milla! "
Raina masih tetap memeluk Milla, lalu, Mila? Dia hanya diam dan fokus terhadap ponselnya.
" Ih udah bangun pagi, ternyata dosennya gak ada. " Ucap Milla dengan nada kesal, sambil memasukkan ponselnya di saku celana jeans-nya
" Yaudah kita jalan aja, mau gak Mill? "
Milla masih bimbang dengan ajakan Raina, ia sebenarnya mau pulang dan tidur saja, tapi gak mungkin karena Raina tidak biasa di tolak. Atau bisa-bisa ia akan ngambek dan puasa berbicara dengan Milla.
Milla hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Saat di Mall, Raina asik sendiri dengan mencoba-coba baju. Milla jarang sekali membeli baju, karena ekonomi Milla tidak seperti Raina yang orangtuanya pemilik perusahaan ke-5 di seluruh negri. Bukannya Milla minder berteman dengan Raina, tapi pada saat seperti ini Milla hanya bisa melihat baju-baju bagus dan mengamatinya. Saat Milla sedang asik memandangi baju-baju Raina memanggilnya untuk melihat baju yang ia kenakan. Milla terbangun dari lamunannya dan memperhatikan Raina, Milla mengajukan ibu jarinya tandanya itu cocok untuk Raina. Raina yang melihat itu langsung ingin membelinya.
Sekarang Milla sedang duduk sendirian di Food Court. Kemana Raina? Ia sudah pulang karena ada suatu hal yang mendadak. Milla seharusnya mau pulang saja, tapi perut Milla juga harus diisi sesuatu untuk menambah energinya. Milla akhirnya berdiri menghampiri restoran cepat saji di depannya. Saat sedang mengantri tiba-tiba ada seorang laki-laki tinggi yang menyenggol punggung Milla. Bukan Milla lemah, tapi Milla sudah capek karena seharian harus menemani Raina.
" Haduh , jangan dorong-dorong dong. " Ucap Milla sambil menghadap ke lelaki yang tidak sengaja mendorongnya.
" Eh maaf ya, dia gak sengaja. " Ucap seorang yang berada di samping laki-laki itu.
' mungkin temannya.
' Batin Milla
Milla hanya mengangguk dan menatap sinis lelaki yang telah 'tidak' sengaja mendorongnya.
' minta maaf kek seenggaknya, malah temennya yang minta maaf. Gak tau diri. '
Antrian masih panjang kaki Milla sudah lemas, karena kurangnya energi.
" Lemah banget sih, baru juga ngantri beberapa menit. " Ucap seseorang di belakang Milla.
Milla mau marah, karena ia pikir kata-katanya di tunjukkan kepadanya. Ternyata tidak, saat Milla menoleh ke belakang. Ia melihat seorang lelaki sedang mengelap dahi temannya. Ya benar! Seseorang yang menabrak Milla tadi mengelap keringat temannya yang meminta maaf kepada Milla. Milla pun langsung membalikkan tubuhnya kedepan, ia ingin saja mencuci matanya karena yang ia lihat tadi dapat membuat matanya ternodai. Milla akhirnya memesan makanannya sambil mengherdikkan badannya karena merasa aneh dengan apa yang tadi ia lihat.
Setelah selesai makan, Milla akhirnya pulang ke kost-kostannya.
" Ah akhirnya bisa bertemu lagi sama kamu. " Ucap Milla sambil menghempaskan dirinya ke kasur.
Milla aneh? Memang, sudah banyak yang bilang. Tapi Milla tidak memperdulikannya. Yang ia perdulikan sekarang kuliah, lulus, cari keja, dapat uang, dan membahagiakan ibunya yang sekarang ada di kota yang berbeda dengannya. Seketika Milla kangen ibunya. Ia keluarkan ponselnya dan mencari nama 'Ibu' disana. Saat sedang memencet tombol panggilan, ada suara ribut diluar.
" Sepertinya gue gak asing sama suaranya. " Ucap Milla yang 'kepo' dengan keributan di luar kamar kostnya.
Saat sedang membuka pintunya Milla melihat punggung orang yang tak asing menurutnya.
"kaya kenal" ucapnya sambil berjalan mendekati sosok lelaki tinggi itu.
" loh si homo? " ucap Milla dengan spontan. Lelaki yang ia juluki si ' homo ' itu langsung mendelik tak suka dan berkata
" Siapa si homo? Jangan suka nuduh sembarangan lo anak kecil. " Ucap lelaki itu sambil menunjukkan ekspresi kesalnya.
Milla malah tertawa melihat ekspresinya, Milla menganggap itu lucu karena terngiang dikepalanya kejadian di antrean tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
miniera
Teen FictionMilla Seorang gadis biasa yang tinggal di ibu kota Jakarta yang kejam, tapi saat bertemu dengan seorang Mathew ia urungkan lagi kata 'kejam' itu di kamusnya. Mathew Seorang laki-laki yang giat bekerja dan tak memperdulikan sekitar, banyak gosip t...
