Seperti halnya setiap agama mengenal syurga dan neraka, cinta juga mengenal bahagia dan terluka dalam suatu rangkaian kehidupan manusia
- Cannaya Zahra -
***
Pagi ini udara panas menyelimuti segala penjuru ruangan. Meskipun musim penghujan, namun hawa panas masih saja kerap terasa menyengat. AC di ruang kelas juga seperti tidak berfungsi, aku pun berlari menuju luar ruangan kelas untuk sekedar mencari hawa segar demi menghilangkan panas.
"Ngapain disini?" Ucapnya sembari duduk di sampingku.
"Lagi cari angin aja. Di dalem AC nya nggak kerasa sih. Lebih enak disini sambil nunggu bel masuk."
"Aku temenin ya?" Tawarnya padaku.
"Boleh.."
Kami hanya saling terdiam beberapa saat, agak sedikit canggung untuk memulai percakapan di antara kami. Aku memang sudah mengenalnya, namun aku tak pernah berbicara dengannya. Meskipun kami satu kelas, tapi tak pernah ada perantara yang membuat kami bercakap-cakap. Banyak juga perempuan yang berebut untuk berusaha mengenalnya, usaha mereka begitu keras hanya untuk berkenalan dengan sosok Syahdan Alfarizy yang kini duduk di sampingku. Bagiku tak ada yang istimewa, atau mungkin aku yang belum mengetahui kelebihannya yang membuat banyak perempuan di sekokah ini luluh.
"Nay, ikut aku yuk.. Temenin ke perpus nyari buku tentang monyet." ucap Rania mengagetkanku. Dia sahabatku sejak satu tahun yang lalu, kami mulai mengenal saat MOS berlangsung. Sikapnya yang hangat membuatku ingin mengenalnya dan akhirnya dapat bersahabat dengannya. Ia memang sering mengajakku, untuk sekedar pergi bermain atau berburu buku.
"Boleh, yuk.. Tapi, bentar lagi kan udah masuk. Nanti kalau kita telat bisa dihukum Ran. Pas istirahat aja gimana?" tawarku padanya, karena memang sebentar lagi waktu masuk kelas.
"Ya udah deh. Nanti sebelum ke perpus, kita ke kantin dulu ya. Pasti nanti laper."
"Oke deh Ran.."
Rania kembali masuk ke kelas, kembali membiarkanku dan Syahdan terdiam di sini. Entah, aku pun ingin kembali masuk ke kelas. Aku tak bisa berlama-lama dengan seseorang tanpa berkata apapun. Namun jika harus aku yang mengawalinya, aku pun tak mampu. Di kelas memang ia anak yang hangat sifatnya, dia ketua kelas pula. Mungkin hanya aku satu-satunya perempuan yang belum akrab dengannya. Aku selalu merasa canggung dan rendah diri ketika bersamanya, menganggap aku bukan siapa-siapa dibanding perempuan yang mendekatinya.
***
Bel istirahat berbunyi, aku ingin segera pergi ke kantin untuk mengisi perutku yang sedari tadi sudah kelaparan. Namun Syahdan belum memperbolehkan siapapun anggota kelas untuk keluar dari kelas. Ada pengumuman yang akan ia sampaikan.
"Teman-teman, sebentar lagi kan acara HUT sekolah kita. Nah, kepsek minta tiap kelas buat menampilkan drama sama menampilkan satu pasangan terbaik. Kita mau bahas ini." ucapnya lantang disertai teriakan beberapa siswi yang melihatnya dengan heboh.
"Drama apaan bro? Sama satu pasangan juga siapa?" ucap Ari membabi buta. Seakan begitu antusias untuk acara ini.
"Untuk dramanya aku masih belum tau, tapi untuk pasangannya nanti mereka bakalan nyanyi di panggung dan akan diperlombakan. Dan untuk calon pasangan sih wali kelas udah ada, aku sama Cannaya. Tapi emang ada yang namanya Cannaya di kelas ini?" jelasnya panjang lebar, membuat kondisi kelas makin ricuh.
"Cannaya bro, ah elah.. Kamu jadi ketua kelas berapa tahun sih. Masa sama anggota kelasnya belum hafal." Ari menepuk jidatnya perlahan. Sedangkan aku hanya menyimak mereka bercengkrama. Bahkan ketika namaku yang menjadi usulan, aku tak seberapa mempermasalahkan. Hanya saja, satu kalimat yang begitu terasa menyakitkan
"Tapi emang ada yang namanya Cannaya di kelas ini?"
kalimat itu yang membuatku sedikit miris. Segitu tak dianggapnya aku olehnya. Apa aku ini transparan? Atau aku makhluk yang tak kasat mata? Bahkan aku sudah satu tahun lebih berada bersama mereka, dan dia tidak mengenaliku sebagai salah satu anggota kelasnya.
"Padahal Cannaya kan anaknya supel, masa kamu nggak kenal sih Dan? Orang kita sekelas aja kenal. Kamu sih, terlalu fokus sama cewe-cewe yang ngedeketin kamu. Makanya sampe kelewat buat mengamati cewe langka kaya Cannaya. Cannaya tuh yang biasanya bareng sama si Rania." Ari kembali menjelaskan, seolah semakin menjelaskan tidak dianggapnya diriku oleh sosoknya. Tapi aku tak begitu mempermasalahkan, hanya sedikit miris menyimak mereka bercengkrama.
VOUS LISEZ
Queen Of Scince
Roman pour Adolescents"Sekalipun aku berusaha sama kaya dia, kamu juga nggak akan suka sama aku kan?" "Rasa itu muncul dengan sendirinya, akan ada seseorang yang mencintaimu lebih dariku. Jangan jadikan dirimu seperti dia untuk membuatku jatuh cinta, karena itu hanya aka...
