Akhirnya aku tahu hal yang paling menyenangkan dari gelap. Saat gelap bersama waktu berkompromi untuk kisahmu hari esok. Sebuah rahasia yang menantimu dengan harap-harap cemas setelah tengah malam menanti terangnya pagi bersama fajar yang menyembul...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Genta mengemudi dengan kecepatan sedang bersama Leon yang duduk di sebelahnya. Sibuk menelepon memastikan Rachel dan Naely, dua temannya yang lain siap ikut bersama mereka. Melakukan perjalanan super dadakan yang berawal dari random chat yang digawangi Leon kemarin malam di grup obrolan. Kemalasan Leon untuk datang ke sekolah menular pada teman-temannya. Bahkan pada Naely sekali pun, cewek paling rajin dengan nilai hampir sempurna disetiap tugas dan ulangan di kelas mereka.
Jakarta terasa begitu ramai saat jam kantor. Butuh waktu sedikit lebih panjang untuk bisa sampai di kostan Rachel kalau sudah begini ceritanya. Jari-jari Genta mengetuk-ngetuk stir mobil, mengikuti irama musik sembari menunggu lampu jalan berganti menjadi hijau. Malam itu mereka sepakat untuk pergi ke Ranca Upas. Tanpa persiapan dan rencana yang jelas sesampainya mereka disana. Menghabiskan dua atau tiga hari untuk membolos. Tergantung mood dari masing-masing mereka.
Dua puluh menit kemudian Genta memarkirkan mobilnya tepat didepan kostan Rachel. Sebuah bangunan asri yang memiliki lima belas kamar kostan. Naely sudah menunggu sejak tadi sementara Rachel masih terlihat sibuk dengan tumpukan baju yang membingungkannya. Maklum, si fashionista yang selalu ingin tampil keren disetiap kesempatan.
Genta tidak ikut masuk bersama Leon kedalam kamar Rachel. Hanya menunggu di luar sembari sibuk mengamati Mang Udin yang duduk di pos satpam menahan kantuk. Tidak perduli atau mungkin tidak sadar dirinya sedang menjadi objek Genta untuk direkam saat Leon, Rachel, dan Naely sibuk didalam kamar dengan urusan para cewek. Sampai akhirnya mereka keluar dari kamar siap untuk berangkat.
"Awas kualat loh Ta, ngerekam orang tua sampe segitunya." Naely mengingatkan setibanya di dekat Genta.
"Tata! Kok ngeliatin Mang Udin nggak ngajak-ngajak!" protes Leon sambil berlari ketempat Genta untuk ikut menyaksikan ekspresi lucu Mang Udin setiap kali wajahnya terlepas dari sanggahan tangannya.
"Yee... nih anak bukannya ikutan ngelarang malah ikutan nonton. Dasar!" Omel Rachel pelan.
Mang Udin sudah menarik perhatian Genta dan Leon sejak pertama kali mereka ke kostan Rachel. Tingkah laku Mang Udin selalu berhasil menciptakan tawa untuk Genta dan Leon. Tubuhnya yang tua tidak memudarkan jiwa mudanya yang penuh canda. Istilah-istilah yang digunakan Mang Udin juga mengikuti zaman. Bahkan Mang Udin terkesan terlalu anak muda untuk usianya yang tidak lagi muda.
"Mang Udin!" panggil Rachel tiba-tiba.
"Eh! Iya neng?" Mang Udin terlonjak dari duduknya. Kaget dengan suara Rachel yang tiba-tiba muncul memanggilnya. Mengundang tawa dari Genta dan Leon siang itu.
"Rachel mau pergi, Mang Udin jagain kamar Rachel ya?"
"Siap Neng!" kata Mang Udin meletakkan ujung tangannya ke kepala. "Neng, kalau mama papa telepon tanya Neng pergi kemana Mamang jawab apa?"
"Oke neng, Mang Udin sudah hapal luar kepala. Mas Genta, hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut. Jagain Neng Rachel." Mang Udin mengingatkan Genta yang masih tersenyum geli bersama Leon mengingat ekspresi Mang Udin tadi saat dibangunkan Rachel.