Allah maha adil adalah realita yang berhasil Menafikan hati seorang hamba yang sempat putus asa. Lebih tepatnya aku, bernama rofiq Hudawiy yang sempat putus asa karena beruntunnya sebuah sebab dan menurutku sebab itu bukan biasa melainkan membabi buta. Seperti pada kisahku sebelumnya yang sempat terceritakan olehku dalam karya sebelumnya tentang kisahku dengan seorang wanita. Ketika sedang aku berjuang untuknya sampai sampai sebuah organ bernama paru paru telah berhasil dijajahnya kemudian dia pergi begitu saja tanpa dosa menanyakan kenapa nafasku tersengal sengal sejak kehadirannya tiada, dia penyebab utamanya kemudian dia juga dengan sendirinya yang menanyakan kenapa, dia yang menyulut lalu menanyakan siapa pelaku yang kebahagiaanmu olehnya telah terenggut.
Seperti kalian tahu, kalian yang telah mengenal diriku bertemu secara langsung di berbagai acara bedah bukuku doakan jangan duakan aku adalah manusia yang sedang berusaha keras mencari seorang pasangan agar sedihku dapat terhapuskan dan bahagiaku bersama bisa terbagikan. Aku hanya berusaha mencari siapakah tempat cintaku berlabuh tidak separuh namun secara utuh.
Benar memang hati tidak begitu mudah dimengerti. Bukan tentang cantik yang pasti menarik ataupun manis yang kata orang dapat menghipnotis, beberapa kali bertemu wanita yang dikenalkan orang katanya begitu cantik, baik, dan menarik. Namun bukan hati namanya jika keputusannya masih dapat diintervensi. Intinya berkaki aku dikenalkan berbagai wanita dengan perangai ya sempat mencoba namun belum berani berusaha dengan ketakutan atas nama kecewa.
Pada akhirnya aku memaksakan diri memilih untuk berputus asa sampai pada titik Dimana aku sebagai lelaki lebih memilih untuk menunggu daripada menjemput meskipun pada dasarnya aku tahu wanita itu dijemput bukan menjemput.
Selama lamanya orang bilang lebih nyaman sendiri adalah kemunafikan terbesar menurutku sebagai hamba di dalam hati. Karena sejak lahir pun Allah telah menitipkan sebuah perasaan bernama cinta di didalam hati manusia. Selalu teringat olehku sebagai seorang santri kyaiku selalu bilang "tidak ada yang bisa hidup tanpa cinta namun pasti bisa hidup tanpa pacaran". Premisnya bahwa tidak ada satupun manusia yang bisa hidup tanpa cinta begitupun saya sebagai seorang manusia dan hamba yang berusaha menjalankan persnya sebaik baiknya agar Allah sebagai pencipta semakin menyayangi saya.
Berhari hari hidupku berjalan pada siklus yang sama setelah seseorang atas nama DIA saat itu merenggut kebahagiaan besarnya dengan jiwa biasa. Bangun pagi melihat ponsel tak Bernafsu membuka laptop malas beranjak dari benda empuk bernama kasur kemudia mulai enggan merawat diri dengan hal hal kOnkrit yang dibutuhkan manusia seperti mandi, makan dan berinteraksi. Aku Cukup nyaman Menjadi rofiq lain yang kata orang terasingkan oleh sosok yang menakutkan karena ulahku membangun sosok tersebut sendiri. Saling berbalas DM Instagram dengan beberapa pembaca yang seberusaha mungkin dengan semunya senyumku aku menghibur mereka ya karena aku yakin prestasi tertinggi seorang penulis bukan pada jumlah buku terjual atau popularitas namun pada pembaca setia yang minimal dengan senyum ataupun indah kata kata selalu mengekspresikan kebahagiaannya setelah karya karyaku berhasil tersemat di hatinya.
Aktivitas ini pula yang atas izin Allah berhasil membawaku kepada seorang wanita yang kali ini teramat istimewa aku menyebutnya KAU, istilah yang sekalipun belum pernah aku gunakan dalam satu pun karya karyaku selanjutnya penuh kebanggaan.
Bulan Juli, bulan kelahiranku pertama kalinya kau hadir di direct Message Instagramku. Berbeda dengan sebelumnya penasaranku kali ini lebih besar dari perhatianku pada diri sendiri, jika mandi tiga kali sehari pun aku tidak peduli, menunggu balasan pesan darimu berkali kali sudah menjadi seperti rutinitasku sehari hari lebih dari makan dan mandi alias setiap saat dan setiap waktu. Ya aku hanya mengenalmu lewat pesan pesan singkatnya
Terima kasih pertama tama pada Allah yang telah menyematkan rasa penasaran Padamu untuku. Padamu yang cukup misterius waktu itu karena pertanyaan tentang identitasmu selain nama tak pernah kau mau jawab dengan suka cita dan lebih cenderung untuk menyembunyikannya. Yang aku tahu kau bernama Laila dan kau sebagai pembacaku yang keterlaluan ya luar biasa karena ketika suatu waktu aku mengisi acara di Jakarta dan duduk di rumah makan yang sama untuk Menemuiku secara suka rela kau enggan melakukannya. Cukup aneh untuk seseorang yang mengatasnamakan sebagai pembaca setia yang biasanya lumrahnya ingin mengabadikan momen dengan penulis yang karyanya telah terbaca.
Pada akhirnya di malam itu juga di rumah makan yang sebenarnya dekat sekali dengan tempatmu berada aku sendiri dengan penasaranku yang semakin memuncak berusaha untuk mencari tahu dan menjawabnya. Sayang malam itu obrolan dengan banyak kawan sedikit mengalihkan penasaranku untuk terjawab saat itu juga.
Semakin hari sosokmu yang menutupi diri membuat rasa ingin semakin besar dihati. Aku mengenalmu pada awalnya bukan lewat dirimu lebih tepatnya dari orang lain yang katanya mengenalmu. Mungkin kau penganut paham bahwa "kaca terbaik dari diri sendiri adalah orang lain" sungguh wanita yang bijak menurutku karena aku kira biasanya manusia cenderung membaik baikan dirinya pada perkenalan pertama namun tidak denganmu. Kamu berbeda dan itu membawaku semakin dekat dengan misteriusnya sosokmu yang saat itu masih aku anggap sebagai pembaca meskipun tak terpungkiri di hatiku telah tumbuh rasa suka.
.Bersambung.....
