"Andre!" Suara gadis yang kukenal tengah meneriaki namaku. Aku berhenti dan menengok ke belakang.
"Tungguin." Dia berlari kecil untuk menyusulku.
"Ngapain sih?" Tanyaku.
"Tadi mobilnya mogok." Ucapnya pelan. Aku hanya ber-ooh ria.
Sekilas aku menatapnya, dari ujung kepala hingga ujung sepatu. Manis.
"Eh, nanti ulangan bahasa inggris gue nyontek ya." Aku menyenggol pundak Ree sambil terkekeh.
"Makanya belajar, Ndre. Jangan ngandelin nyontek mulu." Ree membalas dengan mencubit pinggangku lalu melengang mendahuluiku memasuki kelas.
Aku melangkah melewati banyak pasang meja dan kursi, lalu duduk di tempatku. Aku selalu ingin duduk di bagian paling belakang. Karena di tempat ini aku bisa menyendiri, juga bermain game dari smartphone-ku. Jauh dari Ree. Dia duduk di bagian depan tepat di tengah. Bisa dibilang Ree adalah murid yang cukup pandai dan selalu meraih peringkat tiga besar di kelas.
Dulu waktu masih SMP, aku pernah dapat satu kelas sama Ree. Dia memang multitalent sejak kecil. Aku sudah bersahabat dengannya dari dulu, dari kelas 5 sekolah dasar. Saat itu Ree murid pindahan dari Jakarta.
"Good Morning." Ucap Mrs. Anne masuk ke kelas sambil menebar senyumnya yang paling manis sejagat raya.
"Good Morning, Mrs."
"How are you today?"
"I'm fine. Thank you. And you?"
"I'm verrywell. Thank you." Mrs. Anne menaruh buku dan kertas-kertas ulangan di mejanya lalu mulai mengabsen murid di kelas.
***
"Ree, Makasih ya." Ucapku sambil berjalan melewati kursi Ree, tanpa menengoknya. Aku lalu memasang earphone di kedua pasang telingaku, tak lupa aku play lagu yang menurutku menenangkan.
"Sama-sama, Ndre. Senyum ngapa lu." Balas Ree kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Lalu memasukkan buku dan pensilnya ke dalam tas. "Mau ngantin, ya? Ikut dong!" Ree berlari kecil mengikutiku. Aku hanya mengangguk pelan.
"Ndre."
"Hmm?"
"Kapan sih lu ngga cuek sama gue?" Ucap Ree pelan sambil melipat tangannya di depan perut.
"Hah?" Gue melepas sebelah earphone-ku. "Kan gue emang gini dari dulu." Jelasku singkat.
"Ya kali aja lu bisa ngga cuek, sehari aja."
"Lu tunggu aja kapan gue ngga cueknya." balasku.
"Janji ya." Ree mengembangkan senyumnya. "Yey!" Dia mencubit pinggangku.
"Ree!" Aku memelototi Ree. Dia hanya tertawa pelan dengan suara tawa khasnya. Dan aku pun kembali memasang earphone di kanan dan kiri lubang telingaku.
***
"Pak, bakso satu sama es teh manis satu." Aku duduk di samping Ree.
"Aku mau nasi goreng satu, es jeruk satu." gantian dia yang memesan makanan.
"Kapan lu bosen sama es jeruk?" Tanyaku cuek sambil bermain game di smartphone untuk menghilangkan rasa bosan.
"Lu juga kapan bosen sama bakso?" Balasnya ditambah dengan menyenggol pundakku. Masa ditambah akar dua lima. Matematika dong namanya. Yah ngga lucu. (:
"Suka-suka gue lah." Aku menjawabnya dengan masih fokus memainkan game.
"Yaudah gue juga suka-suka gue lah. Kan itu minuman favorit gue." Ree mengerucutkan bibirnya.
YOU ARE READING
BINGUNG
Teen FictionReyna Andriana Paulo, gadis yang sudah menemani hari-hariku sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu, dia murid pindahan dari Jawa Barat, tepatnya kota Bandung. Dari kecil, wajah Ree tidak pernah berubah. Selalu ada seulas senyum yang mem...
