Ketika sang mentari masih malu menampakkan sinarnya. Dan seiring dengan irama nyanyian burung yang berkicau ria. Semestinya hari ini adalah hari yang special dan memberikan kesan padaku. Namun tak kuanggap serius apa yang terjadi hari ini. Biarkan saja aku tak cukup peduli dengan hari ini.
Tepatnya hari ini hari pertamaku untuk menginjakkan kaki di madrasah baruku. Dibuat bagaimanapun aku juga tak akan peduli karena ini bukan pilihanku.
Seperti apa wujud madrasah baruku ini, akupun belum tahu. Tak sempat untukku membuat ekspektasi mengenai madrasah baruku ini. Dan tak ada waktu untuk membuat khayalan mengenai wujud madrasah baruku.
Segera ku bereskan semua buku yang kiranya kuperlukan nanti. Sampai diruang tamu kulihat dia sedang berbicara dengan Umi. Wajah yang selalu ditemani senyum simpul itu masih sama seperti tiga tahun lalu sebelum kepindahannku. Mungkin dia bisa menjadi secercah motivasi awalku nanti di madrasah baruku.
"Umi, Alby berangkat ya!".
"Hati-hati dijalan, jaga bidadari satu ini ya!".
"Yah Umi, Alya kan jadi malu!" sahut Alya dengan menutupi wajahnya yabg memerah.
Ya, namaku Alby, Alby Putra Habibie lengkapnya. Dan dia yang sedari tadi ku ceritakan, Alya. Dia sahabatku, tetanggaku dan putri dari salah seorang sahabat Umi dan Abi.
Dia masuk di sekolah yang sama denganku, dan berhubung aku belum tahu dimana sekolah baruku berada, dia berangkat bersamaku.
Ternyata tidak nampak begitu buruk, justru terkesan cukup menarik. Kususuri koridor yang masih cukup sepi bersama dia untuk mencari letak kelasku. Selain disatu sekolah dia juga satu kelas denganku.
Sesampai dikelas kuletakkan ranselku di meja terdepan. Segera ku keluar dari kelas yang mungkin akan kutempati setahun mendatang.
"Alby, mau kemana?" tanya Alya padaku saat ku melangkah keluar kelas.
"Aku mau mencari masjid."
"Boleh aku ikut?"
Hanya anggukan kecil yang kuberikan untuk menjawab pertanyaannya.
Tak kulewatkan waktu ini untuk memperhatikan madrasah baruku. Dengan kerapian dan kebersihan yang terjaga, madrasah ini mulai membuatku merasa nyaman. Semua ruang tertata rapi dan strategis.
" By, Alby!"seru Alya .
"Eh, iya," tanyaku penuh kebingungan.
"Masjidnya ada disana,". Suara Alya menghentikan lamunanku seketika. Kuniatkan untuk melakukan dua rakaat shalat sunnah dan kusambung dengan doa agar Dia meneguhkan niatku.
Seperti biasanya diawal pembelajaran, materi yang disampaikan hanya berisi pengenalan sekolah. Hipotesaku benar, tak ada yang special dibandingkan sekolah lain. Memang dari segi akhlak madrasah ini jauh lebih di depan dibandingkan dengan yang lain.
Namun, bagiku tak cukup dengan itu saja jika ingin menjadi sebuah madrasah yang hebat. Sebenarnya fasilitas yang dimiliki sudah cukup memadai, namun hanya saja kualitas, mutu dan kinerja para siswa dan siswinya masih jauh dari kata cukup. Sedangkan sebuah sekolah akan menjadi idola setelah memiliki banyak goresan tinta emas yang telah diukir oleh siswa siswinya.
Ya memang seperti itu keadaannya, bagaimanapun juga memang ini yang harus kusyukuri dan kuikhlaskan. Seperti yang Alya ungkapkan tadi saat menuju kelas, sesuatu akan terlihat indah kala hati mulai memahami.
Ditemani redupnya sinar rembulan dan alunan detak jam dinding yang berada di ujung kamarku. Masih terbayang dan terngiang-ngiang perkataan Abi saat makan malam tadi. Kucoba untuk memaknai dan memahami apa yang dikataakaan Abi setelah kuceritakan semua isi hatiku terhadap madrasah baruku.
" Jangan menganggap yang menghalangi keberhasilanmu kelak adalah sebuah permasalahan, karena itu sebuah tantangan. Dan jika kau ingin berjuang mengenai sesuatu maka tempatkan sesuatu tersebut dihatimu, maka apa yang kau lakukan itu akan tulus," begitulah tanggapan Abi.
Pagi ini dengan semangat menggebu dan tekat yang membara. Disinilah gerbang perjuanganku, awal dari perjalananku dan tantangan baruku bersama ditemani birunya langit yang menjadi saksi ceritaku.
Kunaiki mimbar yang menjadi sorotan ratusan pasang mata yang membekukanku. Kusingkirkan rasa ragu yang melandaku dan kuusir kegugupanku dengan menyebut dan memuji nama-Nya.
"Kita semua disini sudah cukup tau dengan keadaan madrasah kita ini. Madrasah ini sangat mengedepankan akhlak dan tak lupa menjunjung tinggi ilmu. Dari beberapa bidang memang kita sudah unggul dibandingkan dengan sekolah lain. Namun madrasah ini masih belum cukup jika dibilang sebagai madrasah idola. Tidak perlu mencaritau siapa yang bersalah, yang dibutuhkan saat ini adalah siapa yang berani untuk membawa madrasah ini menjadi yang terbaik. Melalui kesempatan yang telah diberikan kepada saya, dengan diamanahinya saya sebagai ketua OSIM yang baru. Tak banyak yang ingin saya janjikan, tapi saya akan berjuang memberikan ribuan bukti. Dengan kesempatan yang sangat istimewa ini, saya mepunya sebuah visi yaitu mendorng dan memajukan mutu dan kualitas siswa-siswi di madrasah ini dengan mendirikannya organisasi, ekstra kulikuler dan kelompok belajar baru yang dapat menjadi jalan dari visi saya. Akan kita tingkatakan dan kita asah bakat dari siswa-siswi di madrasah ini agar kita mampu mengukirkan dan menggoreskan tinta emas yang berharga untuk madrasah tercinta kita. Tunjukkan semangat kalian tekad kalian demi memajukan dan bentuk pengabdian dari wujud cinta terhadap madrasah ini karena Madrasahku Idolaku madrasah idola. Sekian sambutan saya, terima kasih."
Itulah akhir dari ceritaku namun awal baru perjalananku. Berkat sebuah argument yang Abi berikan padaku, yang mampu merubah pandanganku dan menjadi motivasiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luluh
Fiksi Remajaketika sebuah pandangan menjadi motifasi, kala sebuah akhir menjadi awal perjalanan baru.
