"Aku akan hidup sesuai dengan takdir Tuhan. Meski takdirku tidak pernah bersamamu."
**********************************
"Kalian serasi."
Lelaki itu mulai terlihat geram. Sesekali meremas rambutnya frustrasi. Menangkupkan wajahnya dalam telapak tangan. Kartu undangan berwarna merah jambu bertinta emas. Kususuri setiap huruf yang berembos di kedua nama yang tercetak paling besar dan indah.
"Bukan itu yang harus kau ucapkan!" matanya mengkilat tajam. "Kau harusnya mengerti kenapa aku datang ke sini. Sekarang waktunya kita berjuang!" lanjutnya lagi.
"Sudah kubilang. Hubungan ini tak akan berjalan lancar."
Kali ini tangannya masih bisa kurasa. Hangat mengapit jari-jari. Dia tertunduk. Tak berbicara lagi. Seorang wanita duduk di sampingnya. Agak jauh. Dia terisak. Pundaknya bergetar sementara tangannya sibuk menyapu bulir-bulir yang keluar melalui celah bulu-bulu matanya. Keadaan kafe sudah semakin lengang. Waktu semakin malam. Sedang udara di luar begitu dingin masuk menembus kaca-kaca bening, lalu menembus ke dalam kulit melalui pori-pori.
Lelaki itu mulai mendongak, seolah energinya kembali. Genggaman tangannya semakin erat.
"Kita masih punya waktu," bisiknya meyakinkan.
'Kuharap kita juga masih punya caranya.'
Aku memandanginya tak percaya.
"Dan aku harus menghancurkan pesta, lalu kabur denganmu dengan bersembunyi di kota terpencil? Begitu maksudmu? Kau pikir ini sebuah drama? Jangan gila, Sam!"
"Tapi aku dan Alea tidak saling mencintai!" bentaknya cepat. Dadanya terlihat naik turun. Tatapannya lalu beralih melirik wanita itu meminta dukungan.
"Benar Mily. Aku tidak mencintainya."
'kamu mencitainya.'
Alea, wanita itu akhirnya buka suara. Aku menatapnya tajam.
"Jangan persulit hatiku, Sam," kutatap matanya lekat. Perlahan melepaskan tangan dalam genggamannya. Pipiku mulai terasa basah di sana. "Penyanyi kafe yang dibesarkan oleh seorang single mother. Hidup berdua dengan kesepian."
Mataku menerawang jauh. Miris. Apa aku sedang membicarakan diriku sendiri sekarang?
"Kamu sempurna dan aku mencintaimu. Sangat."
"Orang tuamu mengambil keputusan yang tepat. Kalian serasi dilihat dari segi mana pun."
Aku tersenyum getir. Sam terlihat sangat kacau. Hatiku juga sama. Sama kacaunya.
***
Sinar mentari menerobos kaca tanpa ampun sampai pada bola mataku yang mulai menyipit. Irisan mentimun berserakan dari ranjang hingga sampai di lantai. Sampah tisu berserakan juga di bagian lantai yang lain. Di nakas tempat tidur, ponselku mati sejak tiga hari yang lalu. Rasanya enggan untuk berhubungan dengan dunia luar sekarang.
Lantai keramik berubah seperti jarum-jarum. Dinginnya menusuk sampai membekukan seluruh organ tubuhku. Membuat gigil tanpa ampun.
Aku terlonjak kaget saat mendapati seseorang dengan piyama kusut dan rambut selebat singa. Mata hitam terlihat lelah dipadukan dengan pipi yang sedikit tirus. Ya Tuhan, beginilah aku sekarang? Cermin itu terlihat lebih jujur dari pada sang empu yang selalu bilang baik-baik saja di depan mamanya.
Aku mulai bergerak. Meninggalkan tempat tidurku--yang bahkan aku ragu untuk menyebutnya sebagai tempat tidur--yang berantakan.
Di luar kamar, aku mendapati keheningan yang serupa dengan hatiku. Mama... Ah, barangkali belum pulang, atau tidak pulang? Aku seringkali melupakan keberadaannya di rumah ini. Rumah peninggalan Papa. Ralat! Rumah hasil mereka berdua saat masih menjadi sepasang kekasih penuh cinta, mungkin. Aku hanya menebak-nebak. Kalaupun tebakanku tak salah, itu berarti aku bukan anak yang terlahir dari cinta.
YOU ARE READING
WHY
ChickLitKita adalah mengapa yang selalu kupertanyakan. Kata tanya yang terlahir tanpa jawaban. Why?
