Di tengah daun - daun maple yang berjatuhan , aku berjalan di antaranya melihat - lihat pemandangan. Hari ini tanggal 31 Oktober 2017. Seketika teringat ulang kejadian sekitar 10 tahun yang lalu.
Ya. Kenangan yang manis memang, sudah berlalu begitu lama ternyata.
Aku tersenyum sendiri dan mulai mengingat semuany satu per satu dari awal. Semua melintas begitu saja melewati pikiranku. Melihat ada sebuah bangku kayu kosong, aku lalu memasukkan tanganku yang agak kedinginan ke dalam saku coat-ku yang sedang ku pakai. Sambil berlari kecil, aku lantas duduk di bangku kayu tersebut sambil memasang earphone di iPod-ku.
Now playing - Taeyeon - Fine
"저기... " (jeogi...: permisi)
"네?" (Ne?: iya?)
Perempuan itu menunjuk ke arah tas ranselku dan ternyata gelang perempuan itu tersangkut di resleting tasku saat tak sengaja tersenggol di MRT yang sangatlah ramai pada jam pulang kerja.
"엏...미안해" (eoh... mianhae: ohh, maaf)
"엉... 아니, 괜찮아" (eong... ani, kwaenchana : mm, tidak apa-apa)
Aku pun mengembalikan gelang yang tersangkut kepada pemiliknya sambil kembali melanjutkan mendengar lagu.
Sekarang , aku sendiri, tidak memiliki teman banyak di sini selain teman kerjaku di kantor.
Ya, memang. Penghasilanku sebulan bisa mencapai 60juta. Aku adalah seorang general manager di sebuah perusahaan fashion terkenal yaitu Guess. Bukan kantor pusat Guess yang di Amerika, hanya kantor pusat yang ada di Korea Selatan. Kalian bisa membayangkan betapa besarnya omset perusahaan fashion di Korea Selatan, sampai - sampai penghasilanku bisa mencapai sebegitu tinggi.
Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Yoon MiYoung atau biasa dipanggil Yun.
Mengapa aku bisa disini?
Awalnya aku tinggal di Indonesia, seperti orang biasa. Walau tidak memiliki ayah, beliau meninggal karena penyakit kronis, namun aku tetap bahagia hidup seperti ini karena mama memiliki penghasilan yang bisa terbilang lumayan besar dan cukup untuk menghidupi aku dan adikku yang dua tahun lebih kecil dariku. Aku bersekolah di XX School di Jakarta. Waktu itu aku masih kelas 2 SMP, dan pelajarannya sudah terbilang cukup berat. Setiap hari ada saja tugas yang diberikan dan akhirnya tugas - tugas itu menumpuk, yang aku mau tak mau harus menyelesaikannya dengan SKS atau sistem kebut semalam.
Saat aku kelas 1 SMP, sekolah mengadakan kerjasama dengan kedutaan di China dan akhirny beberapa dari kami dapat pergi Study Tour di Beijing. Selama 2 minggu disana, seorang kakak kelas ternyata tertarik denganku dan ingin lebih dekat dengan diriku. Sebut saja namanya Gio. Gio sangatlah perhatian denganku selama beberapa hari yang singkat saat di Beijing sana. Bahkan dia membelikanku boneka couple dengannya. Saat di bandara pun dia menawarkan bantuan untuk membawakan koperku namun aku tolak karena merasa tidak enak, dia juga membelikanku eskrim saat menunggu pesawat, tetapi aku tidak menyentuhnya sama sekali karena aku sedang tidak enak badan dan itu jam 3 subuh! Bayangkan saja saat aku merasa tidak enak dan dalam keadaan seperti itu , aku sudah pasti tidak akan nafsu memakan apapun itu. Akhirnya, aku merasa bersalah dengan Gio karena membuang eskrimnya yang sudah keburu mencair. Ya mau bagaimana lagi coba?
Akhirnya setelah pulang ke Jakarta, kami PDKT selama hampir 2 bulan, dia menyatakan perasaannya, namun aku tolak karena tidak memiliki perasaan lebih dari sebatas teman.
Tidak mungkin aku menolaknya dengan alasan tidak ada perasaan sama sekali, jadi saat dekat dengan Gio, aku juga dekat dengan cowo lain yang bernama John. Aku mulai dekat dengannya semenjak membelanya dari salah satu guru killer di sekolah-ku. John adalah anggota dari OSIS inti di sekolah. Dia orangnya humoris, terus dia jago bermain gitar dan nyanyi, walo gak ganteng banget, tapi dia termasuk good-looking, menurut aku sih.
Ceritanya John waktu itu harus perform di depan adik kelas yang sedang MPLS / masa pengenalan lingkungan sekolah. Pas jamnya itu bentrok dengan pelajaran guru killer kita. Nah, dia gak diijinin turun karena dia sudah ketinggalan catatan, dia diberi turun dengan syarat besok catatannya lengkap. Tapi kelihatan jelas di muka teman- temanku tidak ada yang bersedia meminjamkannya catatan. Lalu karena kasihan, aku memberi kode kepadanya untuk turun saja, nanti aku akan memfoto catatanku untuk dia salin. Akhirnya saat pulang, aku benar - benar foto kepadanya dan dia sangat berterima kasih kepadaku. Mulai dari sono kita ngechat terus hampir setiap hari. Dan mungkin aku juga mulai ada rasa nyaman kepadanya. Ya, bodohnya, aku tidak sadar kalo itu hanya sekedar naksir. Jadi aku ya nyaman- nyaman aja kayak gini.
Gak tau kenapa banyak yang bilang dia playboy, padahal kalo pacaran cewenya yang mutusin duluan. Akhirnya kami PDKT satu bulan, bersamaan dengan Gio, kalian boleh bilang aku playgirl tapi ini kan masih PDKT, jadi gpp gebetan banyak dong yang penting bukan pacar. Akhirnya aku jadian dengan John, menolak si Gio yang jauh lebih talented dan baik dari John. Gak tau kenapa, tapi aku lebih nyaman di sisi John, lagipula lama kelamaan kelakuan Gio ini membuatku menjadi ilfeel. Jadi aku memilih bersama John aja.
Okay. Setelah 1 bulan bersama John, aku mulai merasa kurang nyaman lagi , tidak seperti sebelumnya, ada yang berubah sepertinya. Ya. Mungkin saja John sudah bosan denganku yang mungkin terkesan cuek saat chat dengannya. Aku tidak tahu pastinya seperti apa, yang jelas, dia berubah.
Lelah dengan keadaan seperti ini, apalagi kami pacaran backstreet, otomatis tidak ingin ada orang ketiga yang tau lagi. Aku tidak ingat jelas kapan itu, yang jelas, aku minta putus dengannya, dan sepertinya dia juga oke oke aja, terkesan tidak terlalu peduli, jadi aku anggap hanyalah angin lewat. Dan satu lagi, dia pacar pertamaku selama hidup di bumi ini 13 tahun. Tapi sepertinya aku hanya sekedar naksir kepadanya, tidak benar- benar suka apa adanya. Jadi aku merasa biasa - biasa aja saat putus dengannya.
Saat aku putus dengannya, pikiranku langsung tidak ada lagi tentangnya. Lalu, perhatianku teralih oleh seorang cowo yang benar- benar mengubah hidupku selanjutnya. Sebenarnya bukan dia yang mengubahnya, tapi aku berubah karena dia.
Untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang begitu tulus dan dalam. Untuk pertama kalinya aku menyatakan perasaanku kepada seorang cowo. Untuk pertama kalinya aku benar- benar merasa dipermalukan oleh kelakuannya. Dan untuk pertama kalinya aku diperjuangkan kembali namun disia- siakan sekali lagi begitu saja.
Bagaimana keadaannya sekarang?
Aku tidak tahu.
Aku tidak pernah bertemu dengannya ataupun contact dengannya sudah lebih dari 6 tahun semenjak reuni SMP kali itu. Saat itu kami pun hanya berbincang- bincang pendek tentang keadaan sendiri saat itu. Yang jelas, dia tidak meminta nomorku untuk bisa dihubungi kembali. Dia juga sepertinya tidak ada niat untuk bertemu denganku. Malah dia kelihatan untuk berusaha menghindar dariku.
Tapi aku sudah terbiasa, namun tak berarti ini sudah tidak menyakitkan hatiku lagi. Aku berusaha melupakannya tapi tidak bisa. Semakin aku mencoba, aku semakin teringat dengannya.
Bagaimanapun dia memperlakukanku selama kurun waktu itu, aku tidak akan pernah melupakannya. Seperti diberi harapan lalu memusnahkannya kembali dan sebagainya.
Sebenarnya dia tidak salah, hanya saja dia tidak mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.
Dia akan menemukan orang yang tepat untuknya, mungkin...
YOU ARE READING
What Should I Do?
Teen FictionShould I accept him again and give another chance or just ignore him?
