Disini kutapaki jalan yang penuh duri dan bebatuan, membuat perih telapak kaki siapapun yang melintasinya. Aku berjalan beriringan dengan sunyi yang mencekam, membuat takut para pejalan yang lain. Siang hari ini terlihat gelap bahkan mentaripun enggan menunjukkan dirinya, hanya sang mega yang datang menyelimuti segenap hati para pencari jalan.
Setelah sekian lamanya aku berjalan siang ini, akhirnya terlihat juga pintu rumah yang selama ini aku cari. Dari depan pintu itu terdengar begitu jelas suara lesatan ratusan meriam mendentum begitu keras. Terdengar pula suara teriakan seribu serdadu pertanda engkau ingin berperang. "Mengapa ? Mengapa engkau ingin berperang dan siapakah yang engkau ingin perangi itu? Apakah itu aku ?" Tanyaku dalam hati yang kalut penuh ketakutan.
Bilapun yang engkau ingin perangi itu aku sebagai wujud ketaksudianmu menerima kedatanganku ini, ketahuilah hai kekasih aku tak akan mundur sedikitpun, akupun tak punya niat untuk membalas seranganmu kepadaku ini apalagi untuk berniat menantangmu berperang.
Siang ini tak terlihat bayangku, hanya gelap ini kalut menyelimuti semakin mencekam tatkala aku semakin dekat dengan pintu rumahmu itu. Aku yang masih saja berdiri dengan lutut yang gemetaran, telapak kaki yang penuh luka, tubuh yang tertusuk ribuan pedang dan anak panah serta wajah yang dipenuhi lumuran darah yang menghilangkan identitas dan jati diriku di jalanan ini.
Dipenghujung siang ini, masih nyata terlihat sisa-sisa perangmu itu juga ribuan prajurit yang masih setia berbaris di depan pintu mu menarik busur dan menghunuskan pedangnya, entah apa yang diharapkannya. Aku hanya bisa berteman dengan para anjing yang sedari tadi menamaniku sepanjang perjalanan siang tadi. Sahut menyahut, menggong-gong ikhlas dibelakang ku. Juga dengan kadal yang masih saja sabar menunggu peran kelak di dalam rumah.
Di depan pintu ini, lirih begitu menyayat, gelak tangis yang begitu kencang serta tawa yang samar terdengar menyelimuti hati pasukan yang tak kuat dan membuat getir para pasukan yang berperang.
Di depan pintu ini, terik pancaran sinar mentaripun terasa dingin, menusuk sukma yang masih saja berharap.
YOU ARE READING
Cemoro Kasih
RomanceCemoro Kasih adalah novel yang mengisahkan bagaimana perjuangan seorang makhluk untuk berjumpa dengan kekasihnya. Tentunya ada banyak pergolakan yang terjadi di dalam proses penantian akan perjumpaan dengan kekasihnya, hasutan-hasutan yang akan mena...
