"Pilih sekarang!", mataku membulat saat Brama tengah menatapku sambil menyodorkan sebuah brosur di atas meja di hadapan kami.
Seorang wanita yang bertugas melayani kami hanya bisa tersenyum kagum memandangiku dan Brama bergantian. Sontak aku mendenguskan nafas kasar. Tingkahnya saat ini benar-benar menohok semua harga diri yang selalu kuagung-agungkan. Aku menggebrak meja seraya balik menatapnya tak kalah bengis.
"Kamu pikir, aku bisa dibeli hanya dengan sebuah mobil? Apa kamu pikir aku akan berubah pikiran, lalu menerima lamaran kamu hanya karena sogokan sampah seperti ini?", bentakku tak ayal mengetuk-ngetukan jari telunjuk di atas lembaran brosur tersebut.
Brama hanya tersenyum manis menanggapi amarahku yang meluap-luap. Sedetik kemudian dia membuang pandang ke arah wanita di hadapan kami.
"Yang itu aja, mbak! Hari ini juga tolong antar ke alamat ini. Biaya adsministrasi bakal saya tambah kalau mobil itu hari ini juga bisa terparkir di depan rumah calon istri saya ini", Brama menggeser telunjukku yang tanpa kusadari tengah menetap di salah satu gambar mobil berharga tak masuk akal.
Aku terkejut. Sangat terkejut hingga lupa bagaimana cara menerjamahkan sebaris kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Brama.
"Satu syarat sudah terpenuhi. Dua lagi, bukan?", seringai itu terlengkung indah di lekuk bibirnya.
"Mak-sud ka-mu?", aku mencoba menghilangkan rasa keterkejutanku atas nominal gila yang mengecoh lusinan nilai rasional yang kumiliki.
"Kamu bilang, akan menikah saat semua target konyol kamu berhasil tercapai. Ah!! Kecuali yang terakhir--- jodoh", dia terkekeh sendiri. "Masih jadi tanda tanya besar buat kamu, bukan? Seorang Renata Deviandara masih bingung dengan pencapaian terakhir yang dia buat--- tentang apakah dia hanya perlu percaya saja pada Tuhan yang sudah netapin jodohnya sebagai takdir; atau apa dia perlu melakukan intervensi dalam rencana Tuhan-nya itu?", Brama menangkap ekspresi bingung pada wajahku.
Jujur saja, aku juga masih mempertanyakannya. Rahasia jodoh yang bahkan tidak bisa diungkap oleh rumus eksak; ditebak persis oleh sang master cenayang; atau bahkan dirancang sempurna olehku, si mahluk rasional dengan segala macam target hidup yang sudah terancang pasti.
***
Note
Cerita belum direvisi yaa..
Ada banyak kata2 yg salah eja. Maafken diriku karena setelah revisi ada pula yang masih terlewat 😂 ampun dah!
Sambil nulis Mr Sky, aku coba usaha revisi kembali Abu2 sama Gave up, maybe it's you.
Well, happy reading.
