Prolog

32.9K 2K 34
                                    

Petrichor

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Petrichor.
The smell of eart after rain.

Aku menghirup lagi bau tanah yang menguarkan aroma khas selepas hujan. Tidak mempedulikan tanah basah dan becek yang sedang kuinjak ini. Gulungan awan mendung masih berada di atas langit. Hujan masih menyisakan rintik-rintiknya. Hembusan angin dingin makin membuat suasana ini menjadi syahdu.

Daun bergoyang dan meneteskan air yang kini membasahi sebagian rambutku. Aku tidak peduli. Aku ingin sekali lagi merasakan hujan. Ingin sekali lagi berani menghadapi air yang turun dari langit.

Aku menyukai bau petrichor. Tapi aku membenci hujan. Seperti saat ini.

"Rain."

Aku bergeming. Tidak menghiraukan panggilan itu.

"Rain kamu di mana?"

Kutengadahkan wajahku lagi. Membenci langit yang kini masih meneteskan air hujan di atas kepalaku.

"Astaga Rain. Kamu masih belum boleh terkena air hujan."

Suara itu mendekat. Tapi aku masih bergeming. Menatap nanar ke arah rimbunnya pepohonan yang kini bergoyang lagi. Menandakan hujan akan turun lagi. Desau angin yang semakin berhembus kencang menembus wajahku. Menggigil.

Sebuah dekapan hangat kurasakan tiba-tiba dari arah belakangku. Kecupan basah itu makin membuatku menggigil. Bibir hangatnya..dan suara paraunya mulai membuatku takut.

"Rain."

Hembusan nafas hangat itu akhirnya berhasil mengalihkan ku dari tetes air hujan. Membalikkan tubuh dan akhirnya bertemu dengan sepasang mata elang yang menatapku tajam.

"Apa pedulimu kalau aku di sini."

Dekapan hangat tangannya yang melingkar di perutku kini membuat tubuhku menggelenyar.

"Aku peduli karena aku mencintaimu."

Kuacuhkan pernyataan itu. Aku melepaskan diri. Mendorong untuk di beri jalan, dan menapakkan kakiku yang telanjang di atas tanah becek ini. Aku benci hujan. Karena membuat semuanya menjadi basah dan dingin. Basah dan kotor. Aku benci hujan karena telah...

"Sebentar lagi Mama dan papa akan ke sini. Kamu tidak bisa begini Rain. Kamu harus segera mandi dan berganti pakaian."

Tentu saja mendengar itu semua aku akhirnya menghentikan langkah. Kutatap pria yang kini sudah ada di sampingku.

Tubuhnya menjulang tinggi di sampingku. Kepalaku cuma sebatas tulang selangkanya.

Sosok yang di minati banyak wanita kini telah ada di sampingku. Dengan rambut hitam tebalnya, senyumnya yang memikat dan alis tebalnya yang membingkai kedua mata elang miliknya. Membuat wajahnya tampil bak sosok seorang CEO tampan yang di gambarkan di dalam novel-novel romance.

Tapi dia memang CEO. Dan dia juga suamiku.

"Baik. Akan aku laksanakan perintahmu. Aku toh hanya boneka mainanmu yang bisa kamu pamerkan kepada siapapun. Termasuk kedua orang tuamu."

Berbalik. Dan tidak mempedulikannya lagi. Aku berderap melangkah masuk ke dalam rumah. Mengabaikan kaki kotorku yang mulai mengotori lantai marmer yang baru saja aku pijak.

Dengan cepat menaiki tangga yang melingkar dengan indah. Membawaku ke atas dan langsung menuju kamar milikku.

"Rain."

Suara itu lagi. Entah kenapa aku makin membencinya. Tiap hari mendengar dia memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak suka.

"Rain kamu tidak boleh mengabaikan ku. Ini akan buruk di depan Mama dan papa."

Kubuka pintu kamar dengan cepat. Dan langsung berderap menuju ranjang besar yang menghiasi dengan indah kamar ini.

Tapi langkahku terhenti seketika. Ada buket mawar merah di atas seprai warna putih yang kini menutupi ranjang. Tangisku seketika pecah. Dia menyiksaku dengan berbuat seperti ini. Kenapa?

"Abel Aditya Bagaskara. Kamu kejam!"
Aku langsung berbalik dan menatap pria yang kini tetap berdiri kokoh di depanku. Pandangannya tidak sedikitpun teralih dariku.

"Masa lalu itu harus di lupakan Rain. Rega sudah pergi. Dan di sini hanya ada aku. Suamimu."

Tangis ku seketika pecah. Aku tidak bisa. Aku membenci Abel sebesar aku membenci hujan. Karena mereka berdua lah yang telah merenggut Rega, kekasihku.

Bersambung

Ini tuh kehapus sendiri dari watty padahal udah tamat di sini. Yang mau baca lengkap bisa langsung ke karyakarsa atau lsg wa 081255212887

Ad promo pdfnya

RAINY DAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang