Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Rumi pergi bersama para pejuang muda lainnya. Meski wanita, ia nampak gagah dengan baju yang dikenakannya. Aura perwira terpancar indah dari matanya.
Ada harapan besar terselip di dalam hatinya, berjuang untuk negara, dan bertemu kembali dengan Suyitno, kekasih hatinya.
Dalam derap langkah kakinya, ia terus mengingat setiap kata yang tertulis di dalam surat cinta Suyitno, yang dikirimkan enam bulan yang lalu.
-----------
Kepada : Dek Rumi
SUMPAH PEMUDA
Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia
Dek Rumi, ingatkah kamu akan hari itu? Tiga tahun yang lalu, bersama-sama kita mengucapkan Sumpah Pemuda di Sekolah Rakyat, dan hari ini, kita terpisah jarak yang sangat jauh.
Dek, jaga dirimu baik-baik. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, karena rakyat Indonesia membutuhkanmu.
Sekian surat dariku, aku menunggu kepulanganmu. Sampai bertemu lagi di garis depan medan perang. Cinta untuk negara, itulah cinta kita.
Salam cinta pejuang
Suyitno
------
“Mas Suyitno, aku sudah pulang. Sebentar lagi kita akan bertemu di sana, di garis depan medan perang. Aku sudah membawakanmu perlengkapan obat, dan aku siap untuk merawatmu,” bisik Rumi di dalam hati.
Tiba-tiba lamunan Rumi terhenti oleh antek-antek kompeni. Peperangan pun tak terhindarkan. Demi keselamatan, Rumi bersembunyi di balik semak-semak. Sambil berdoa, mata liarnya terus mengamati teman-temannya yang sedang berjuang untuk melawan musuh.
Peperangan berlangsung sengit, dan seorang antek-antek kompeni terjatuh di dekat persembunyian Rumi. Dengan jiwa patriotnya, Rumi mengambil sebilah keris dari selongsongnya. Dalam keremangan, ia dapat melihat wajah lelaki di hadapannya.
“Mas Suyitno?” tanya Rumi.
“Rumi? Kapan kamu kembali?”
“Maksud kamu apa, Mas? Kenapa kamu memakai baju kompeni?”
“Aku, aku …. “
“Rumi sangat kecewa dengan sikap Mas Suyitno,” Rumi memotong ucapan kekasihnya, “cinta kita karena negara dan negara kita adalah Indonesia. Dengan begini, berarti Mas Suyitno tak lagi mencintaiku.”
“Tapi, Rumi …. “
“Maaf, Mas. Aku tak bisa lagi mencintai seorang pengkhianat!” Rumi mengarahkan kerisnya ke tubuh Suyitno.
Jleeeebbbb!
Sebilah pedang menancap di tubuh Rumi dari belakang.
“Rumi …. “ pekik Suyitno dengan berurai air mata. Ia mencoba mengguncangkan tubuh Rumi yang tersungkur di atas dadanya.
“Ayo, kita tinggalkan mereka. Kita dibayar dan bekerja untuk kompeni,” ucap antek-antek kompeni lainnya.
*TAMAT*
YOU ARE READING
Pejuang Cinta Untuk Negeri
Historical FictionKekecewaan Rumi kepada Suyitno, kekasih hatinya, yang berkhianat dengan berbalik menjadi antek-antek kompeni. Rumi memutuskan untuk menghabisi Suyitno, namun....
