Di tulis oleh : @ArlenLangit
Suster berbadge Yunia menggeser pintu kamar Anggrek nomer sembilan. Di tangannya ada setumpuk kertas-kertas bertuliskan perkembangan pasien-pasien yang sudah ia periksa. Ia menyapa seorang pasien yang terbaring lemah di kelilingi mesin-mesin penunjuk kehidupan seorang gadis berambut hitam terpejam diam di sana.
Hanya mesin-mesin yang bersulur menempel di tubuhnya lah semua orang tahu bahwa ia masih hidup, namun sedang menari di alam bawah sadarnya. Suster yang ramah itu selalu mengajaknya bicara, apa saja yang ia lewati sebelum datang padanya. Ia mengeluarkan sesuatu dalam kotak plastik bertutup biru. Membuka bungkusnya yang terbuka separuh dan mendorongkan ujungnya ke dalam selang bening bersulur berujung di punggung tangan sang Gadis.
"Kau sudah sarapan, dan obatnya sudah masuk. Cepatlah bangun, Nona Aquila." ujar suster Yunia pada telinga sang Gadis.
Ia hanya bisa berpuas diri bahwa mesin di belakangnya lah yang menjawab. Bukan pria yang baru saja masuk dengan membawa sebuket bunga mawar biru yang harum.
"Anda sudah datang, Nona Aquila baru saja mendapat obat paginya."
"Terima kasih suster." Pria itu berjalan mendekat, bertukar tempat dengan suster yang membawa kertas-kertas di tangannya dan kotak plastik di pelukan tangan kanannya.
Pria itu mengecek semua alat penunjang hidup wanitanya. Ia akan duduk di tepian seperti biasanya, memegang lembut jemari tangan wanita yang masih setia terlelap di atas bangsal.
"Cepatlah bangun, Aquila." bisiknya di sela jemari tangan Aquila. Ia memutar cincin di jari manis Aquila, yang berkilau di tengahnya.
Cincin yang sama berkilaunya dengan yang dikenakan gadis berambut hitam, berdiri di ujung kaki Aquila. Gadis itu menatap nanar punggung pria berkemeja abu-abu yang membungkuk mencium punggung tangan raganya.
Senyumnya mengembang disela air matanya, ia belum ingin mengikuti langkah pria yang meninggalkannya sekejab mata. Ia masih ingin melihat wajah pria yang merajai hatinya. Air matanya menggenang, saat tangannya terulur menembus punggung prianya.
Pria itu berdiri dan mencium kening Aquila. Langkahnya menyusuri lantai abu-abu cerah rumah sakit. Ia memejamkan mata karena angin yang mengaburkan matanya. Ia tak lagi berada di depan tubuhnya.
"Kau ingin tahu siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya pria berwajah seputih kapas tersenyum pada Aquila. Aquila mengangguk.
Ia berdiri di depan sepasang kekasih yang sedang mengobrol, mereka beradu mulut dan tangan dalam tawa. Menyendokkan es krim cokelat-vanilla ke dalam mulut masing-masing. Tetap berdebat yang membuat Aquila tersenyum.
"Tiga hari sebelum kecelekaan."
"Tak ada yang aneh, kami makan es krim setelah makan malam bersama di sini. Lalu kami pulang,"
Pria itu membawa Aquila ke ruangan hangat dengan empat kursi mengelilingi meja makan, rumahnya. Di sana, ia melihat dirinya sedang memeluk erat kekasihnya Ang. Ke dua kakinya bertumpu pada kaki Ang, bergerak seirama dengan musik ciptaan mereka dalam hati. Langkah ke duanya masih seirama dan berakhir di atas ranjang. Bergelung dalam selimut, dan senyuman selamat malam.
"Aku tertidur karena aroma tubuhnya yang hangat."
Pria itu menyentuh sesuatu tak terlihat, di mana setiap adegan yang ia lihat dipercepat seakan menonton film di laptop. Mata Aquila mengikuti langkah Ang keluar dari kamar di mana ia tertidur. Ia mendapati Ang menarik lengan seorang gadis yang datang, mereka bercumbu dalam keremangan malam, tak terlihat oleh mata tubuhnya.
YOU ARE READING
Dissonance
Short StorySong Literatur Event 2017 Di saat hati membutuhkan sebuah ekspresi pengungkapan yang tepat; Sebuah lagu lah jawabannya. Banyak hal dapat diungkapkan melalui isi sebuah lagu; Kehilangan, mendapatkan, juga melepaskan. Aku terbiasa mendengarkan untuk m...
