Vote dulu, boleh? Abis itu baca lalu komentar. Aku suka di kasih kritik atau saran ko, asal menggunakan kata-kata yang baik dan benar. No kata kasar atau binantang. Dosa
👱🏻👱🏻
.
.
.
"Eh, mending es teh manisnya buat gue aja! Cape gue lari-lari." Grey menatap sahabatnya tersenggal-senggal sehabis pelajaran olahraga. Lelaki bermata kelabu itu melirik dan memberikan es itu dengan terpaksa.
"Beli kali, beli. Uang di simpan terus juga gak baik." Sapo— alias Marchel Sapoilan itu menyengir dan mengambil posisi untuk duduk di samping sahabatnya.
"Si Hiu kemana?" Hiu itu namanya Pras, ada cerita lain mengapa ia dipanggil seperti itu.
"Katanya, si, ijin pulang. Emaknya sakit." Sapo membulatkan bibirnya lalu menyeruput es teh manis sisa sedikit itu. Tidak banyak bicara, sampai-sampai sebagian murid lelaki berlari kearah mereka.
"Eh, ada anak baru di kelas 11 IPA 2. Cantik abis ... " Sapo menyenggol Grey dan yang disenggol menatap kesal dengan lelaki asal Medan itu.
"Apaan si? Ganggu banget orang makan bakso." Sapo mendekat dan ia berbisik.
"Udah gak tertarik begitu-begitu. Kapok gue main api sama cewek dari SMP." jawab Grey.
"Lo trauma di tinggal Hannu begitu aja kan? Jangan bohong lo!"
"Trauma? Gue suka sama itu cewek bondol aja enggak!"
"Kok, gue gak caya, ya!" Sapo membuang muka dan kembali ke posisi semula, menjauh dari Grey sejenak. Itu lebih baik, dibanding memancing amarahnya.
..
Grey dan kelima sahabatnya sedang berkumpul di halte bis, obsesi lelaki itu adalah menebar pesona, agar para cewek mau atau jika hal gagal, ia yang akan memaksa supaya mau. Meskipun selama ini belum pernah melakukan opsi kedua.
Sekali senyum, 10 dari 10 perempuan akan jatuh pingsan. Selebihnya bohong ... mereka akan terpesona sampai ada dua dari sepuluh orang pingsan.
Perempuan itu bernama Hanna. Dia adalah sahabat perempuan pertama Grey, sejak lelaki itu kelas tujuh. Penampilannya menarik, tapi cewek itu setara dengan lelaki. Kekuatannya tidak bisa di ragukan. Ia mampu berlari keliling lapangan bola sekolah selama 20 kali dalam 10 menit. Gila!
Sampai kelas delapan, mereka selalu bersama kemanapun kecuali kamar mandi. Sebenarnya Grey tahu perasaan Hanna, tapi Grey diam, terlihat tidak peduli demi hubungan persahabatan mereka.
Ia benci jauh dari Hanna dan ia benci kalau Hanna sudah menghilang barang satu jam saja.
"Gue mau ke rumah Laila dulu ya?"
"Enggak kapok mainin hati perempuan? Dalam sehari jalan sama empat cewek. Gak capek apa?" Perempuan itu mulai cemberut dan Grey mengacak rambutnya yang sering disebut "mini hair"
"Hei mini hair, jangan cemberut gitu, ah. Abang jadi gak tega ninggalin kamu kalau begitu." Tiba-tiba saja suara sorak-menyorak terdengar dan Grey malu, bahkan pipi Hanna berseri-seri.
"Udah ah, gue pergi dulu. Nanti malam si Atika ngajak gue nonton soalnya."
"Bodo amat, Greyuu!"
Tak di sangka itu adalah percakapan terakhir mereka, keesokan harinya tidak terlihat Hannunya. Sudah di tunggu sampai bel masuk, juga tak kunjung datang, padahal ia tidak pernah sekalipun bolos ataupun terlambat.
Di telpon juga tidak bisa.
"Si Hannuman kemana?"
Sapo dan Chiken—alias Widyo Bagus Prakoso menggeleng tidak tahu kemana perginya Hannuman, Hannu, Hantunya Grey.
Seminggu menunggu, tapi Hanna tak juga muncul. Jadwal kencan sehari dengan lima cewek seperti biasa, ia batalkan begitu saja. Entah mengapa kehilangan Hanna membuat hati dan hasrat akan obsesi gila itu hilang seketika.
"Udah ada kabar tentang Hannuman?"
"Lo mau tau?" jawab Yudho, ia adalah ketua kelas. Lelaki berpakaian super rapi dan licin itu mengatakan sesuatu yang membuat selera Grey hilang begitu saja.
Hannu yang selalu ada di sampingnya.
Hannu yang selalu mengerjakan semua pr bahasa Inggrisnya.
Hannu yang selalu marah kalau ia bermain api dengan para wanita.
Hannu yang selalu menyadarkannya agar tidak main gila dengan guru bk.
Dan Hannunya sudah tiada, ia pergi tanpa pesan, tanda, dan penjelasan.
...
"Eh, lo ngelamunin apaan si?"
"Enggak. Nih, bayar semuanya." Sapo mengangguk dan menerima uang lima puluh ribu dari tangan Grey.
Sesampai di kelas kehebohan mengenai anak baru seakan membuat ketenangan Grey terusik. Sejak di tinggal Hanna ia tidak lagi mempunyai teman sebangku. Pernah sehari-dua hari ada yang duduk disitu tapi Grey selalu menyuruh pindah, meskipun itu para sahabatnya. Karena baginya Hanna akan kembali dan bakal duduk disampingnya lagi.
"Selamat siang anak-anak, sekarang kita kedatangan teman baru. Sini sayang masuk," Ibu Sekar—wali kelas mempersilahkan anak baru itu masuk dan para hawa di dalam kelas memasang wajah kagum.
"Ah, tapi masih gantengan Grey. Meskipun ia susah di raih,"
"Njrit, Hamish Daud masuk kelas kita,"
"Gila-gila ... make up, mana make up,"
"Perkenalkan nama saya Pandu Wicaksana, asal dari Solo."
"Lo jauh banget dari Solo, di sana gak ada SMA lain apa?" Pandu tersenyum tipis dan para adam di kelas ini tertawa, kecuali Grey.
"Kebetulan papa saya pindah kerja, jadinya saya sekolah di sini,"
"Kok bisa ya, pindah sekolah ke sekolah negri. Lo nyogok ya?" Mereka semakin kelewatan dan Grey geram sejadi-sejadinya. Ia berdiri dan menarik kerah baju Reno yang terkenal suka meledek orang atau di sebut 'lelaki comel'
"Lo bisa diem gak?" Bu Sekar yang baru datang dari kamar mandi melerai mereka. "Ada apa ini? Grey yang ibu kenal gak suka berantem. Kenapa kamu?"
"Dia mau memukuli saya bu. Padahal daritadi saya diam saja." Ruangan kelas seakan riuh dan pada menyoraki Reno yang berkata bohong.
"Benar begitu?"
"Maaf bu. Orang ini tadi meledek saya dan G—rey membela saya." Pandu sedikit terbata menyebut nama kebaratan milik putra kedua Mira dan Dirga.
"Bener begitu anak-anak?"
"Bener bu. Si lemes ini belum tobat juga." Bu Sekar menggelengkan kepala dan meminta Reno keluar dari ruang kelas.
"Kamu duduk dengan Grey ya?"
Pandu tersenyum tapi Grey mendengus. Bangku ini seharusnya untuk Hannunya.
.....
Next part?
Dukung aku terus ya?
Aku suka minder kalau posting cerita, eh yang view dikit, yang vote dan komentar gak ada. 😭😭😭😭
Salam kenal.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Segitiga
DiversosSebuah kenangan secara tidak langsung menjadi salah satu bagian di dalam hidup. Mau mengampik hal itu tidak penting atau sebaliknya, kenangan selalu ada. Gemerlap harapan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari kenangan itu sendiri sudah di lakuka...
