"Menurut pantauan wartawan CBN Indonesia dari NASA Johnson Space Center di Houston, USA, sebuah asteroid bernama A-997 telah mendekati Bulan. Diperkirakan meteor tersebut akan bertubrukan dengan Bulan 7 jam lagi."
Dina berbaring di ranjangnya sambil menonton saluran berita nasional. Ia merinding mendengar bahwa Bulan akan lenyap.
"Bu! Ibu dimana?" Dina memanggil ibunya.
"Ibu disini! Di dapur!"
Dina segera turun dari kamarnya di atas.
"Bu, tadi aku melihat TV. Berita disitu mengatakan Bulan akan ditabrak oleh meteor."
"Oohh itu. Ibu tahu. Tapi kan hanya Bulan yang ditabrak. Pasti Bumi tidak ditabrak."
"Tapi kan Bu, Bumi kan dekat de...."
"Ah sudahlah. Ibu mau memasak."
Dina kecewa ibunya tidak memberikan penjelasan tentang berita di TV. Dina pun keluar ke teras, duduk di kursi kayu buatan kakeknya. Dina melihat beberapa anak bermain dengan cerianya di tepi jalan. Dina hanya berpikir, apakah anak ini tidak mengetahui apa yang akan terjadi?
Hampir jam makan siang, ayah Dina, Rizal, belum juga pulang. Ayah Dina bekerja sebagai pilot sebuah maskapai penerbangan terkenal di Indonesia.
"Bu, dimana ayah?"
"Ayah belum pulang, nak. Ayahmu kan pergi ke Tarakan. Dari Tarakan ke sini jauh loh nak."
Dina melanjutkan makannya. Tapi, setelah sesuap sup krim, 15 menit termenung. Sampai sup krimnya dingin. Dina pun membawa supnya ke kamarnya. Dina mengambil remote TV dan menghidupkan TV.
"... Seperti yang Anda lihat, asteroid A-997 mulai mendekati Bulan."
Terdengar suara dentuman setengah keras di angkasa malam.
Asteroid telah menabrak Bulan.
Sirine yang dibunyikan hanya untuk situasi genting, akhirnya berbunyi.
"Untuk semua warga Bandung dan sekitarnya, diinstruksikan untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Tsunami dahsyat akan terjadi karena dampak tabrakan asteroid."
Dina dan ibunya langsung berlari tak tahu arah mencari tempat tinggi. Tiba-tiba, sebuah mobil sedan muncul dari kekacauan di perumahan lereng gunung itu. Ternyata itu ayahnya Dina.
"Ayo Dina, Irma, naik ke mobil!"
Ayah Dina sangat lihai mengendarai di tengah kekacauan yang merebak di Kota Bandung.
"Oke. Kita akan naik pesawat ke Leh.", ucap Ayah Dina.
"Apa? Upleh?"
"Huh. Nanti sajalah."
Setelah mobil keluarga Dina mendekati bandara, suasana sangat sepi, seperti kota mati.
"Ayo semuanya, ikuti ayah."
Setelah Ayah Dina mencari-cari pesawat, ditemukannya sebuah pesawat. Tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, cocok untuk keluarga kecil.
Semuanya masuk ke dalam pesawat. Rupanya itu adalah pesawat pribadi milik seorang jutawan. Dina dan ibunya hanya ternganga melihat kemewahan pesawat itu, sedangkan Ayah Dina sibuk mengurus instrumen penerbangan.
