Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

1

162 15 5
                                        


Matahari sudah datang menyambut hari yang baru, aku berharap hari ini akan menjadi hari yang cerah secerah pagi ini. Aku bahagia karena hari ini aku masih diberikan napas oleh Tuhan dan juga suasana yang membuatku bahagia. Dan aku juga sangat bersyukur karena banyak orang yang sangat peduli dan menyayangiku hingga saat ini. Meskipun aku sangat jarang bertemu dengan kedua orang tua ku yang sibuk dengan dunia mereka sendiri, tapi aku percaya bahwa mereka juga sangat mencintai dan menyayangiku seperti aku mencintai dan menyayangi mereka. Dan sebagai gantinya jika aku jarang bertemu dengan orang tuaku, aku mempunyai Kak Jonghyun yang selalu menjaga dan mengurusku dengan baik, aku sangat bangga kepadanya dan aku sangat beruntung mempunyai Kakak seperti Kak Jonghyun.

Aku menyusuri jalan menuju sekolah dengan perasaan yang bahagia dengan senyum yang selalu mengembang di wajahku. Sesampainya didepan sekolah, sungguh aku sangat bangga dapat masuk di sekolah ini. Tidak terasa sudah 2 tahun aku mencari ilmu di sekolah ini banyak hal yang sebelumnya tidak aku ketahui yang saat ini sudah ku ketahui. Selain aku mendapat ilmu aku juga mendapatkan banyak pengalaman yang sangat berharga dan juga mendapatkan sahabat yang sangat berharga bagiku yaitu sahabat yang selalu membantuku dan menemaniku disaat aku berhadapan dengan masalah dan juga kebahagian yang diberikan Tuhan kepadaku. Selain sahabat aku juga mendapatkan teman hati yang datang kepadaku, teman yang mau membantuku menjalani suka duka disampingku sebagai kekasih.

Banyak sekali hal yang dapat aku syukuri sejak pertama kali menginjakan kaki di sekolah ini hingga saat ini.

"Selamat pagi teman hidup!" Aku mengenali suara tersebut dia adalah kekasihku Gunalin.

"Selamat pagi teman hidup!" Balas ku dengan senyum yang mengembang tidak henti-hentinya, ditambah lagi setelah melihat dia dihadapanku.

"Bagaimana awal harimu pagi ini ada masalah?" Guanlin menatapku dengan lembut dan ketulusan dibalik matanya.

"Tidak, pagi ini aku merasa sangat bahagia." Jawaban ditambah dengan senyuman yang terbaik untuknya membuat dia yakin.

"Syukurlah! Ayo kita masuk!"

Kami memasuki lingkungan sekolah dan menyusuri setiap bagian sekolah yang ada menuju ruang kelas dengan percakapan yang diselingi tawa oleh kami berdua. Saat hampir sampai ruang kelas, teman-teman kami lebih tepatnya sahabat-sahabat kami menghampiri dan ikut bercengkrama bersama. Senang rasanya masih bisa merasakan suasana seperti ini, setiap hari aku selalu berdoa dan berharap bahwa aku dapat merasakan suasana seperti ini setiap hari dan setiap waktu.

Setelah pelajaran usai seharian ini kami pulang bersama-sama. Namun, aku merasa lebih lelah dan lemah saat ini, tidak seperti biasanya padahal seharian ini aku tidak melakukan sesuatu hal yang berat atau aktifitas yang melelahkan. Setelah sampai di rumah diantar oleh Guanlin aku ingin segera mengeluhkan keadaanku kepada Kak Jonghyun, tetapi Kak Jonghyun lebih dulu menyadari keadaanku.

"Dek, kamu kenapa kok pulang sekolah pucet seperti itu? Atau kamu hari ini ada aktifitas yang berat?" Kak Jonghyun terlihat sangat khawatir kepadaku.

"Tidak, tapi aku memang merasa tidak enak badan hari ini kak." Aku menjawab dengan lemas.

"Ya sudah kalau begitu kamu cepat istirahat nanti kakak panggilkan dokter." Kak Jonghyun menenangkan ku.

Tapi baru saja aku melangkah beberapa langkah hendak menuju kamarku, kaki ku terasa gemetar dan kepalaku terasa semakin berat, dan hidungku juga mengeluarkan darah segar. Aku terjatuh dan Kak Jonghyun terkejut dan langsung menolongku dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir dan panik.

"Nana! Na! Nana! Kamu kenapa?" Terdengar jelas kekhawatiran Kak Jonghyun, tapi semakin lama aku semakin sulit untuk membuka mata tetapi aku sudah tidak sanggup lagi dan akhirnya pandanganku menjadi gelap gulita dan kesadaranku pun mulai menghilang.

Aku mulai membuka mataku, yang terlihat disekitarku hanya dinding yang serba putih dan bau alkohol yang sangat menyengat di hidungku. Dan aku menyadari bahwa saat ini aku sudah berada diruang rawat rumah sakit. Tidak lama setelah aku membuka mataku, aku melihat Kak Jonghyun memasuki ruangan dengan raut wajah yang terlihat sedih, khawatir dan tatapan matanya terlihat sangat terpukul. Meski senyumnya mengembang dibibirnya, tetapi aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Kak Jonghyun di balik senyumnya itu.

Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku? Apakah penyakit ku parah? Pertanyaan itu mulai terngiang dikepalaku.

"Kak Jonghyun ada apa? Aku tidak apa-apa kan?" Aku mulai takut dengan apa yang terjadi kepada diri ku sendiri.

"Tidak apa-apa kok, kamu hanya kelelahan. Tapi..." Kak Jonghyun mengantungkan perkataannya, dengan wajah menunduk dalam. Terlihat sekali bahwa Kak Jonghyun sangat berat mengatakannya kepadaku.

"Tapi apa Kak?" Aku mendesak kak Jonghyun mengatakan sejujurnya kepadaku, meski mungkin hal itu akan membuatku sedih.

"Tapi kata dokter kamu didiagnosa mengidap kanker otak stadium 3." Meskipun Kak Jonghyun mengatakannya pelan bahkan sangat pelan, tapi terdengar jelas di telingaku. Aku pun lemas dan terpukul dengan hal apa yang baru saja aku dengar.

Aku langsung menangis dan menyesali apa yang terjadi kepadaku saat ini. Kak Jonghyun pun berlutut disamping tempat tidurku dan menggengan tangan kananku erat, kak Jonghyun pun ikut meneteskan air mata.

"Maaf kan Kakak tidak bisa jadi kakak yang baik untukmu." Kak Jonghyun mempererat gengamannya kepadaku, tapi aku tidak mempedulikan perkataan Kak Jonghyun.

Sungguh aku saat ini ingin sekali berteriak namun tidak bisa bahkan membuat tangisku semakin menjadi. Dan aku rasanya ingin sendiri tidak ingin diganggu oleh siapa pun.

"Kak!" Aku menatap Kak Jonghyun lirih. "Bisakah tinggalkan aku sendiri, saat ini aku ingin sendiri."

"Tapi..." Kak Jonghyun berdiri dan mengenggam tangan ku erat.

"Kak aku mohon, aku ingin sendiri." Aku melepaskan gengaman Kak Jonghyun dengan kasar dan memunggungi Kak Jonghyun.


-LaiG-

-LaiG-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
The Last Message | Lai Guanlin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang