"Hei Mei bisa tolong buatkan kopi, dipercepat ya !" aku lekas menyalakan pembuat kopi untuk bosku yang satu ini. Sebelumnya pekenalkan aku Mei, seorang asisten di firma yang menyewakan jasa detektif. Harus kalian tahu bukan aku detektifnya, aku hanya Watson dalam catatan yang kutulis ini. Aku bekerja bersama tuan Dean, seorang dengan badan kurus berperawakan tegap berkulit putih dan memiliki batas anatara jenius dan gila yang tidak sewajarnya. Aku tidak pernah masalah dengan sifatnya yang berada diantara gila ataupun jenius, hingga entah bagaimana ia dapat membuat pikmen rambutnya menjadi putih yang tentu saja masih ia rahasiakan hingga kini, yang kupermasalahkan ialah motto hidupnya yang entah dari mana ia dapatkan. Motto hidupnya berbunyi seperti ini : "Aku akan menyelesaikan hal yang harus kulakukan dan tidak melakukan hal yang harus kulakuan, tapi jika aku harus melakukan hal yang tidak harus kulakukan aku akan melakukannya dengan cepat, dan menyelidiki kasus adalah salah satunya." benar - benar sebuah motto yang luar biasa panjangnya, dan hanya ia yang dapat mengucapkannya dalam jangka 3.5 detik. "Silakan tuan kopinya." ucapku sembari menyuguhkan kopinya, "Terimakasih" jawabnnya datar tanpa ekspresi, perhatiannya hanya fokus kepada koran pagi langganannya. "Tuan, bolehkah aku bertanya padamu ?" ucapku mencoba memecahkan perhatiannya, "Silahkan selagi itu tidak menghabiskan terlalu banyak tenaga, dan ingat buatlah cepat." jawab tuan Dean si serba cepat, "Darimana anda mempelajari menegenai metode - metode investigasi seperti itu ?" aku bertanya - tanya, karena selama 3 bulan aku bekerja di sini ia belum sama sekali menerima kasus dan aku penasaran dengan bagaimana ia memecahkan kasus tersebut. Setelah mendengar pertanyaanku ia terdiam sejenak, melipat koran paginya dan menyisip kopinya secara perlahan menutup mata dan mulai berbicara. "Aku belajar dari banyak hal, tapi aku ingin bertanya apa yang kau maksud dari kata "seperti itu" ?" dia mengakhiri kata - katanya dengan kembali menyisip kopinya tapi kali ini sedikit lebih lama, mungkin karena suhunya sedikit lebih hangat dari saat pertama ia menyisip kopinya. "Yang kumaksud ialah kemampuan deduksimu yang benar - benar tajam, walau hanya dengan sekilas observasi kau mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang orang lain tanyakan, seperti ketika kau mengetahui bahwa pekerjaan sebelumnya dari seorang tukang pos itu adalah seorang tentara hanya dari sepatu boot-nya, bukankah itu hebat ?" jawabku dengan penuh rasa kegirangan. "Kau harus tahu Mei, aku punya banyak refrensi tapi aku hanya memegang 10 firmannya." jawabannya benar benar tidak memuaskan hasrat ingin tahuku, apakah yang ia maksud 10 perintah Tuhan pada nabi Musa, tapi itu pasti tidak mungkin lalu 10 firman siapakah itu. "Hei Mei, kau....penggemar Holmes kan?" tanyanya memecahkan konsentrasiku, dan aku sadar bahwa pertanyaan itu atau yang lebih sering ia sebut sebagai dugaan itu benar, "Dari mana kau tahu hal itu tuan ? Seingatku aku tidak pernah membawa salah satu seri Holmes ke kantor, jadi darimana kau tahu hal itu, aku...penasaran?" tanyaku dengan menekankan pada kata penasaran. Sehabis menyisip kopinya hingga tersisa noda hitam di sekitar bibirnya yang langsung ia hapus dengan sapu tangannya dan ia mulai berbicara "Bukan seorang Sherlockian jika ia tidak menyebut ilmu dugaanku ini sebagai ilmu deduksi yang lebih menjuru pada sang detektif hebat Sherlock Holmes." jawbnya tepat "Tapi selain Seri Holmes dari Sir Arthur Conan Doyle apakah kau pernah membaca salah satu novel karangan Agatha Christie ?" tanyanya sambil menyisip cangkir kopinya kembali. "Belum" jawabku singkat, "Kalau begitu ambilah di rak buku ke-3 dari kiri baris ke-6 dari atas dan urutan ke-15 dari kiri di situ ada satu novel Agatha Christie yang kusuka." jawabnya santai sembari menghabiskan kopinya hingga tetes terakhir. Aku mencarinya sesuai dengan direksi yang ia berikan, dan ketemu sebuah novel dengan pengarang tertulis kecil dibawahnya Agatha Christie, buku setebal kitab suci dari barat ini berjudul "Pembunuhan di Orient Express". "Yang inikah yang tuan maksud ?" kupasang wajah senang walau dalam hati aku berharap ia berkata tidak, "Yup, tepat." dia berdiri dan mulai melangkah secara perlahan, ketika jaraknya hanya tinggal beberapa centimeter lagi dariku ia berhenti tepat di sampingku dan ia berkata "Analisis itu lalu bawakan laporannya kepadaku baik lisan maupun tulisan aku tak masalah, tapi sebaiknya lisan karena aku tak berminat membaca fakta yang kauberikan." lalu ia berjalan menuju kearah rak buku untuk mencari sebuah buku. "H...hanya itu saja ?" tanyaku, "Dan..." sial aku baru ingat jika aku tidak boleh bertanya lebih lanjut mengenai tugas yang telah ia berikan. Setelah ia menemukan buku yang ia cari ia melanjutkan kata - katanya " Bandingkan itu dengan novel Holmes mu itu, dan segeralah pulang aku akan tinggal disini sebentar." hanya itu, aku tisak mempertanyakan hal lain lagi, aku mengambil tasku dan mantel dan bergegas pulang sebelum ia mengingat hal tambahan pada tugasku.
Di perjalanan pulang aku berpikir apa makusd dari tugasnya, itu terlalu mudah. Mungkin ia hanya menguji analisisku, tapi ia sudah melakukannya saat memberi soal saat pertama kali aku bekerja dan nilaiku B minus dan menurutnya itu cukup bagus untuk pemula. Tanpa kusadari aku sudah berada di stasiun, berhubung tempat tinggalku cukup jauh, aku menggunakan kereta api sebagai transportasiku setiap hari, aku membeli tiket dan menunggu kereta tiba, aku menghabiskan waktuku membaca buku itu. Dan aku kaget menegtahui bahwa setring buku ini juga dalam sebuah kereta. Menarik menurutku hingga tiba dirumah mungkin aku sudah selesai membaca sekitar seperempat bagian dari buku itu, tapi aku masih tidak yakin apakah aku akan menyelesaikan buku ini hanya dalam semalam, tapi aku harus berjuang dan mungkin terjaga hingga malam nanti tiba.
Esoknya aku bangun terlambat karena tak kusangka aku benar - benar menyelesaikannya, aku segera mandi dan tak lupa membawa buku karangan Agatha Christie itu juga. Aku keluar dan segera menuju ke satsiun membeli tiket dan menunggu kereta tiba, tak lama aku menunggu kereta pun tiba. Aku tidak mengerti apa yang membuatku bersemangat seperti ini, mungkin karena dia akan memberitahuku mengenai 10 firman tersebut. Stelah sampai di stasiun terakhir aku segera berlari menuju kantor karena aku sadar satu hal dan aku tak boleh melupakannya. Dan setibanya di kantor aku melihat hal itu, dan hal itu ialah tuan Dean tidak bisa membuat kopi sendiri dengan alat pembuat kopi. Di depanku terdapat pemandangan menakutkan, beberapa gelas pecah dan kemeja bosku basah terkena kopi bahkan stopkontak didekatnya sudah hampir terkena kopi. "K...k...ken...napa, kau telat." diawal kalimatnya ia terbata - bata tapi selanjutnya ia menekan kata terlembat, "Maaf tuan, aku benar - benar minta maaf. Aku yakin anda tidak menerima alasan ini tapi aku tealat karena begadang menyelesaikan novel tersebut." aku menundukkan kepala, ia tersenyum dan bergerak menuju ke meja kerjanya, "Aku akan berganti pakaian, aku akan mendengarkan analisismu jadi persiapkan itu sebaik mungkin sebagai sebuah permintaan maaf." selanjutnya ia mengambil sebuah koper hitam dengan ukuran sedang yang dapat dijinjing, koper itu memiliki pengaman yang unik yaitu sebuah pola khusus dengan cara kerja mengarahkan objek diawal ke tujuan yang benar dengan menggesernya melalui 3 pola yang disediakan. Entah apa yang terjadi jika ada yang memasuklan ke lubang yang salah. Ketika terbuka aku melirik dan mendapati sebuah stelan jas dengan kemeja putih lengkap dengan dasi merah sedikit gelap namun mengkilap juga ada sebuah celana kain hitam yang sesuai dengan warna dari jasnya yang terlihat sangat lembut. "Jadi mau ikut ?" tanya tuan Dean sembari masuk ke kamar ganti, mukaku memerah diiringi pikiran yang mengarah kemana - mana. "Ti...tidak, aku akan keluar." aku berlari keluar dari ruang kerjanya dan menunngu di ruang tunggu tamu. "Jadi..." ia berjalan ke arah sofa pribadi kesukaannya dan duduk dengan posisi salah satu kaki disilangkan diatas kaki lainnya. "Bagaimana hasilnya ?" tanyanya melanjutkan, sebenarnya nada bicaranya lebih ke arah interogasi daripada seseorang yang meminta sebuah laporan atau pertanggungjawaban. "Yah...tuan harus tahu mungkin laporan saya tidak akan terlalu jelas karena tenggang waktu yang kau berikan hanya satu malam..." perkataanku disela oleh kata - katanya yang tiba - tiba memotong pembicaraanku "Jangan salahkan tenggang waktu yang kuberikan, karena aku hanya menyuruhmu menganalisis sebuah buku bukan memecahkan perkara yang mungkin tidak berpenyelesaian atau data yang terlalu banyak, nah sekarang lanjutkan lagi analisismu." dia mengatakannya dengan nada yang santai dan sombong dari kursi malas kesayangannya, amu tidak akan membantah atau menyangkal pernyataannya karena dia punya banyak alasan dan nanti kami tidak akan membahas analisis kami. "Saya lanjutkan, sebenarnya buku Sir Arthur dan Agatha Christie ini tidak banyak perbedaan. Namun aku menemukan penggunaan trik narasi dan menurutku trik narasi merupakan timdakan penulis yang tidak adil karena membuat kekurangan pengetahuan si pembaca dan itu membuat kita mengikuti arah penyelesaian kasus yang salah karena kekurangan informasi. Tapi di satu sisi lainnya itu merupakan hal yang menyenangkan dan baru untukku." aku menyelesaikan perkataanku dan menuju kearah single sofa dan menunggu tanggapan darinya. "Aku terpukau denganmu dan otakmu itu dan sebenarnya aku sudah terpukau dengan nilai B minusmu itu, tapi aku kurang setuju dengan perkataanmu bahwa itu merupakan ketidakadilan si penulis..." aku menyela perkataanya "Kenapa ?" dia menghela nafas dan melanjutkan perkataannya "Orangtuamu yang hebat itu tidak mengajarkan jangan menyela saat orang lain sedang berbicara ya ? Lain kali akan kuberitahu pada orangtuamu, namun kali ini kukesampingkan dulu hal itu dan akan melanjutkan opiniku, trik narasi membuat kita berpikir lebih karena kekurangan informasi dan sebagai investigator aku memyukai hal itu dan membuatku melewati batas berpikirku karena kurangnya informasi, tidak seperti pada kasus yabg terjadi di dunia nyata kasus dalam buku milik Agatha Christie memiliki dasar masalah yang sederhana motif yang tidak rumit, namun bagaimana si pelaku mengekaekusi motif tersebut secara baik menghasilkan sebuah rencana brilian dan tak terduga, dan jika kau mengeluh mengenai trik narasi ini hanya memegang sedikit peranan dalam penyelesaian kasus dari sudut pandang si pembaca. Hanya karena si penulis memberikan nama karakter yang sedikit maskulin atau deskripsi yang berlawanan itu tidak membiat kita sebagai pembaca mustahil memecahkan misteri yang ada." ia mengakhiri sanggahannya dengan hanya menghela nafas. Sekarang aku berpikir jika perbedaan pola pikir dan opini setiap orang yang berbeda itu tidak pernah dapat disatukan, apalgi dengan kekontarsan pendapat seperti yang terjadi pada kami. Dan jika semua pola pikir dan opini itu sama maka semuanya akan benar - benar monoton atau stagnan, dan selain itu jika senua pola pikir dan opini sama berarti Tuhan telah gagal menciptakan manusia sebagai mahluk yang unik. Tapi aku yakin walaupun setiap orang memiliki pendapat dan pola pikirnya masing - masing, hal itu tidak perlu disatukan apalagi menghilangkan salah satunya, mereka hanya perlu berjalan berdampingan layaknya minyak dan air. Aku hampir lupa menegenai pertanyaanku, "Lalu tuan akankah kau memberitahuku mengenai 10 firman itu ?" aku menyanyakannya tanpa basa - basi dan yang ia lakukan hanya bangkit dari kursinya dan berkata "Jika aku menjawabnya akankah kau membuatkanku secangkir kopi ?" hanya secangkir kopi bukankah itu mudah, "Baiklah" jawabku dengan tegas dan lantang. "Begini..." ia memulai kata - katanya "Aku tidak pernah berjanji akan mengatakannya kepadamu, bukankah begitu ?" jawabannya benar - benar santai dan membuatku ingin memukulnya, "Nah sekarang kopiku, kau berjanji bukan." dia hanya mempermainkanku. "Tapi aku kan sudah mengerjakan tugasmu, kau harusnya memberiku hadiah." aku menyanggah, "Hadiah itu akan terlihat nanti di slip gajimu dan karena aku adalah seorabg yang baik hati akan kuberikan kau sebuah petunjuk, yaitu Pastor Katholik." ujarnya, "Ha ?!" teriakku spontan. "Sudahlah pecahkanlah petunjuk itu sendiri jika bisa aku akan memberimu hadiah atau tambahan di slip gajimu, dan kau juga boleh bertanya kepada ayahmu yang seorang kepala polisi tersebut." dia berkata demikian dengan nada mengejek. "Aku tidak akan meminta tolong pada ayahku." aku mnejawab dengan tegas tapi dalam hati aku berkata mungkin aku harus mencoba bertanya. Dan mulai saat ini aku akan mencari tahu mengenai 10 firman tersebut. Dan aku merasa akan mengetahuinya dalam waktu dekat.
YOU ARE READING
The Second Man
Mystery / ThrillerPernahkah kalian berpikir untuk menjadi seorang detektif, menyelesaikan sebuah kasus, atau bertemu dengan mayat yang tergantung di loteng sebuah rumah yang ditempati. Cerita ini akan membawa kalian melakukan semua hal itu. Tapi apa kalian yakin bahw...
