Nyland City

37 3 0
                                        


"Mereka tertawa bahagia bahkan ada yang sampai menitikkan air mata".

Mataku menyusuri setiap lekuk gedung megah berwarna biru langit ini, atapnya yang serupa kubah dengan dekorasi kaligrafi dan lukisan tiga dimensi membuatku berdecak. Satu pilar tinggi kokoh berada ditengah bangunan seperti mengirimkan sihir padaku, pilar itu berwarna putih dengan pahatan-pahatan daun teratai yang melilit sampai ke pucuk atap.

Tangan kananku mengusap pelan salah satu pahatan daun teratai, mataku terkesiap karena tanganku tak bisa terlepas, tiba-tiba badanku menjadi panas, pahatan daun yang kupegang berubah warna menjadi hijau tua sedang lantai putih yang kuinjak menjadi merah darah, keringatku bercucuran dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan dari rekatan pahatan itu namun sia-sia.

Wanita dengan gaun merah di dekatku hanya tersenyum meledek, entah kenapa semua orang diruangan gedung bundar ini seperti tidak mendengar teriakanku mereka malah sibuk membenarkan rambut dan gaun.

Aku semakin tercekam rasa takut saat kulihat semua daun dipahatan itu berubah menjadi warna hijau, mataku mengikuti setiap perubahan itu sampai pahatan daun yang paling besar yang ada di ujung pilar.

Seluruh darah dalam tubuhku terasa tersedot masuk kedalam setiap pahatan itu. Lantai hangat yang kuinjak mulai berubah menjadi dingin, warna lantai yang merahpun kini berubah menjadi menjadi biru serupa dengan warna atap lalu pelan-pelan warna itu memudar dan kembali menjadi putih dengan kilatan seperti mutiara pun dengan pahatan-pahatan itu warnanya kembali menjadi putih berkilau seperti semula. Tanganku terlepas dengan sendirinya dan aku terduduk lemas di samping pilar, kuusap keringat dipelipis dengan lengan baju kiriku.

Dengan tenaga tersisa aku berusaha keluar dari gedung megah ini. Aku terhuyung menuju pintu sampai seorang penjaga memapahku keluar dan mendudukkanku di tangga depan. Angin sore menebarkan wangi bunga Sweet Pea yang merambat disetiap pagar rumah di kota Nyland.

Kukeluarkan minuman yang kusimpan di tas ranselku, seperti tak pernah menemukan minum selama seminggu kutenggak habis tak bersisa, penjaga itu menatapku heran mungkin ia berpikir kenapa wanita sepertiku terpanggil ke Woman Health Care.

WHC merupakan gedung yang terletak lebih tinggi dari bangunan-bangunan yang ada, sehingga aku bisa memandang Nyland dengan leluasa.

Aku menyebutnya Red City, karena bila dilihat dari kejauhan kota ini terlihat merah dan memantulkan cahaya keperakan dari sungai Anju yang ada di belakang kota.

Masih terbayang ketika pertama kali gerbang kota yang berwarna keemasan itu terbuka menyambut para siswa WHC yang datang dari seluruh penjuru negeri.

Negeri dongeng seakan hidup dikota ini, lonceng-lonceng bambu yang menghias setiap rumah dan berbunyi sahdu saat terkena angin menambah damai, aku yang terlahir di Lemur tak bisa menyembunyikan kekagumanku. Bahkan keinginan untuk hidup dikota ini mulai merambati batinku.

Kakiku mulai menapaki jalan, namun langkah kakiku terhenti oleh suara gemericik air, dengan langkah tergesa aku menuju suara itu. Aku tak peduli arahku berbeda dengan yang lain. Suara air lebih menarik bagiku. Air bersih yang menjadi barang mahal di kotaku. Aku ingin merasakan manisnya air dari mata air nyland yang sangat terkenal.

Mataku terbelalak kaget saat sampai di suara itu, "Ya Tuhan apakah aku ada di surga?"

Bunga mawar yang terhampar begitu luas dengan keharuman yang memanjakan penciumanku.

"Air Terjun itu?"


Keinginan menggebu untuk mereguk manisnya air terjun Nyland yang melegenda menguasai seluruh jiwa dan pikiranku, sampai kurasakan mataku begitu panas entah itu karena air mata atau karena aku tidak berkedip untuk beberapa waktu.

Aku berlari sekuat tenaga, berharap cepat sampai di depan air terjun itu. Tiba-tiba suara panggilan seakan menyedotku ke dimensi yang lain. Ah tepatnya ke dunia nyata. Ya karena dengan tiba-tiba tubuhku bukanlah menghadap taman mawar yang begitu menakjubkan dan sungguh air terjun itu tiba-tiba hilang dari pandanganku.

Mataku membesar menyadari dimana aku sebenarnya berada. Kali Crodra, iya aku tidak salah ini adalah kali yang dihuni mahluk purba bernama Crodra, mahluk yang memiliki kepala naga dan bertubuh buaya. Aku bergidik membayangkan apabila aku jatuh pasti sudah habislah tubuh kurusku ini dikoyak-koyak oleh cakarnya yang konon lebih tajam dari pedang terbaik di seluruh penjuru negeri.

"HEI!! ... turun dari sana?" umpat lelaki berseragam hitam-hitam dengan napas yang naik turun.

Tentu saja tanpa diperintahpun aku akan turun.

"Iya!" jawabku lebih keras dari umpatan lelaki itu.

Aku berjalan mendahului tubuh besarnya, dia mengomel dan sesekali dia mendorong tubuhku pelan. Tak berapa lama sampailah di depan WHC building. Bangunan megah berwarna putih dan dijaga ketat oleh penjaga yang berseragam persis dengan lelaki yang memandangku dengan tatapan kesal.

Legon SabeyDes histoires addictives. Découvre maintenant