part 1

7K 60 0
                                        

Baiklah. Aku menyerah.
Tidak lagi. Aku tidak mau lagi terus berkutik dengan buku-buku ini. Buku-buku bisnis yang memuakanku tiap harinya.

Aku tidak suka bisnis tapi Appa terus memaksaku untuk mempelajarinya.

Appa bahkan memasukanku kuliah di bidang khusus bisnis saking dia ingin aku mahir dalam bidang itu. Dia tetap ingin aku meneruskan perusahaan keluarga meski aku tetap menolaknya.

Aku anak tunggal Appa maka pantas jika dia ingin aku yang mengambil alih perusahaan saat dia cuti nanti.

Aku benci jika harus berkutat dalam politik para pembisnis. Aku benci jika harus menjadi kotor hanya karena sebuah bisnis. Bisnis tidak akan pernah berjalan lancar tanpa ada rencana kotor.

Mereka itu kotor. Mereka itu penuh kekejian dan aku tidak suka itu.

Tapi mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa menolaknya saat Appa mengancam akan mengambil semua pasilitas yang ku punya. Well, aku akui memang belum bisa hidup tanpa pasilitas orang tua. Semua anak yang belum lulus kuliah pun pasti berpikir demikian. So, demi tidak kehilangan itu semua aku harus rela berkutik dengan angka-angka menyebalkan itu.

Seperti halnya malam ini, meski Appa sedang berada di resort pulau jeju dia tetap saja menyuruhku untuk mempelajari beberapa akuntansi perusahaan. Dengan tuntutan sampai dia kembali nanti aku harus sudah mahir dalam bidang itu. Bayangkan dalam waktu satu minggu aku sudah harus hapal itu semua. Sedangkan saat sekolah dulu bagiku sangat sulit meski hanya ingin mendapat nilai B dalam pelajaran menghitung. Tidakkah Appa terlalu kejam?

Aku mulai lelah dengan angka-angka itu. Aku menaruh balpenku diatas meja dan beranjak dari tempat dudukku. Keluar dari kamar dan menuju lantai bawah untuk mengambil minum di dapur utama.

Ketika keluar dari kamar, tak sengaja aku teringat dengan cowok nyebelin yang diutus oleh Appa untuk menjadi ajudannya. Menjagaku agar tidak kabur dan memastikan belajar dengan benar selama Appa pergi.

Dia juga yang disuruh Appa untuk menjadi guru Les Pribadiku dalam bidang perbisnisan. Dia lulusan Business Administration Dankook University, salah satu universitas bisnis ternama di Seoul.

Huh, memang sangat menyebalkan. Aku merasa seperti putri dari seorang presiden saja karena harus diawasi begini.

Tapi sedang apa dia sekarang? Tumben cowok nyebelin itu tidak mengusikku. Apa dia marah karena perkataan pedasku kemarin tapi yang seharusnya marah itu aku bukan dia.

Dia sudah membuatku kesal. Masa bodolah, sukur-sukur dia tidak menggangguku lagi. Meski sebenarnya aku juga sangat rindu padanya.

Karena dia terlalu sibuk mengurus perusahaan sampai-sampai sudah dua hari berturut-turut aku tidak bertemu dengannya. Dan sekarang pun karena kebetulan Appa sedang ada urusan di luar kota maka dia disuruh untuk menjagaku disini.

Aku akui aku memang menyukainya. Bahkan sudah lama mengaguminya.

Dia cowok terkeren yang pernah kutemui. Dia dewasa dan punya tanggung jawab tinggi, terbukti dari cara dia mengatasi beberapa masalah diperusahaan Appa. Meski agak menyebalkan dengan sikap cuek dan tak pekaannya itu tetap saja aku menyukainya.

Dia punya tubuh yang bagus, tinggi tegap dan atletis. Cowok nyebelin itu hobi olahraga sehingga tidak heran jika dia memiliki otot perut yang bagus.

Usianya denganku berjarak 10 tahun, tidak cukup jauh memang. Tapi jujur, aku lebih menyukai laki-laki yang mature. Seharusnya aku memanggilnya Oppa tapi karena dia menyebalkan aku malas manggil dia Oppa.

Tiada hari tanpa dia yang selalu membuatku naik darah.

Dan satu hal yang membuatku jatuh cinta padanya adalah sikap santai dan kalemnya. Dia punya pesona sendiri dimataku.

Beat Of Love [2pm FF]Stories to obsess over. Discover now