Memandangnya dari kejauhan, itu yang selalu aku lakukan. Saat, aku dan dirinya berada di tempat yang sama tetapi dengan jarak yamg berbeda. Tingkahnya yang lucu kadang membuatku tertawa pelan, aku akui bahwa dirinya memang tampan, baik, lucu, dan supel. Tingkah lucunya yang membuatku nyaman dan kadang merindukan dirinya, saat aku merindukan diri. Aku ... hanya mampu memandang wajahnya di layar ponselku atau melihat screenshoots chatku bersamanya.
Seperti yang kulakukan saat ini, aku sedang memandang dirinya yang sedang berlatih Maenpo -salah satu ilmu beladiri, sejenis silat- dengan gagahnya. Peluhnya yang mengalir di dahi dan wajahnya membuatku simpatik dan ingin rasanya aku mengelap keringatnya. Tetapi, aku masih tahu diri untuk tak melakukan hal memalukan seperti itu, apalagi di depan orang banyak.
"Kak, lihat deh ... kasihan, ya, keringatan. Pasti capek," ucapku pada Iklima, dia tersenyum dan berkata, "Beliiin tisu aja."
"Enggak, ah, malu. Tapi, kayaknya dia haus deh, aku beliin minum aja gitu?" Aku berujar dengan ragu. Iklima tersenyum menggoda, lalu ia berujar, "Beliin aja, terus kasih ke orangnya."
"Nanti kalau ga diterima gimana?"
"Pasti diterima, coba aja kasih." Iklima berkata seperti itu seraya menyemangatiku.
"Beneran nih?" tanyaku masih ragu. Iklima mengangguk pasti, lalu aku bangkit dari dudukku dan membeli air mineral di warung depan rumah temanku -tempat latihan beladiri itu-. Setelah itu, aku kembali duduk di samping Iklima, menunggu Ajay atau Maulana Fajar yang masih berlatih Maenpo.
***
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Ajay selesai berlatih, dengan cepat aku memberikannya air mineral yang aku beli.
"Ajay, ini ... minum buat kamu." Aku berkata seraya menyodorkan air itu pada Ajay, jantungku berdetak cepat. Was-was menunggu Ajay menerima atau menolaknya.
"Makasih, Des," katanya seraya mengambil air mineral yang aku sodorkan. Aku hanya mengangguk, rasa senang membuncah dalam hatiku.
Selanjutnya, ia meminum air itu hingga setengah. Lalu, ia menatapku seraya tersenyum.
"Aku masuk lagi, ya," pamitnya berlalu masuk ke dalam rumah itu. Aku tersenyum senang menatap punggung lebarnya. Kemudian, aku berbalik dan duduk kembali di samping Iklima, menumbahkan segala kesenanganku.
"Dia nerimanya, Klim, aku senang deh." Aku berujardengan senyum yang tak bisa kututupi lagi.
Iklima ikut tersenyum senang mendengar perkataanku. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Makanya jangan pesimis dulu,"
"Iya, Klim, makasih." Iklima hanya mengangguk sebagai balasan.
***
Beberapa minggu kemudian, Desi merasakan kegundahan serta kegalauan dalam dirinya, ia pun memutuskan memposting sebuah kalimat bijak di instagram miliknya.
Tak lama, ada sebuah notif komentar dari seseorang yang 2 tahun terakhir ini menjadi pengisi hatinya. Ia tersenyum bahagia membaca komentar dari Ajay, tetapi bukannya membalas komentar itu, Desi malah men-screenshoots komentar itu.
"Biarkanlah aku mengagumi dan mencintaimu dalam diam, biarkan aku mencari tahu semua tentangmu. Biarkanlah aku memendam semua ini sendiri. Karena, aku cukup tahu diri, untuk tidak berharap lebih padamu. Aku tahu, aku siapa dan kau siapa."
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku di duka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Ku masih mengharap kau tuk kembali
Desi menghela napas, mengingat semua kenangannya bersama Ajay, ia merasa bodoh karena dulu telah membenci Ajay. Mungkin ini karma dari apa yang ia lakukan pada lelaki itu, pikirnya.
"Semoga, suatu saat nanti kita bisa bersama," gumam Desi.
Sampai saat ini, Desi memang masih mengharapkan Ajay untuk kembali bersamanya, walau ia tahu, lrlaki itu sudah berpaling darinya. Biarlah, biarlah Desi berjuang atas cinta yang dia miliki, jika dulu lelaki itu yang memperjuangkannya, maka ... kali ini ia akan memperjuangkan Ajay. Ia akan berusaha untuk membuat lelaki itu mencintainya lagi.
Ia tak akan menyerah, meski lelaki itu menolak kehadirannya. Bertahan, mungkin ia akan melakukan hal itu, sampai ia merasa tak sanggup untuk berjuang dan bertahan lagi. Baginya, tak ada salahnya memperjuangkan orang yang kita cintai bukan?, pikirnya.
***
Kupikir ia masih mencintaiku, nyatanya tidak. Kupikir ia masih mengharapkanku, nyatanya tidak. Kadang yang kita pikirkan tak sesuai dengan apa yang akan terjadi nantinya. Tuhan memang adil, Tuhan memberikan balasan atas apa yang kita lakukan, entah lerbuatan baik atau pun perbuatan buruk.
***
Malam ini, Desi dan teman-temannya menjadi panitia acara HUT RI ke-72, ia dan rekan-rekannya bekerja begitu ekstra demi kesuksesan acara puncak ini. Malam ini, tepatnya pukul 22.00 WIB, ia dan 7 rekannya -3 diantaranya mengiringi dengan gitar dan alat akustik- akan menampilkan 2 buah lagu.
Musik mengalun disusul oleh suara-suara merdu dari mereka, tepuk tangan dari penonton ikut mengiringi penampilan mereka. Sampai akhirnya mereka mengakhiri penampilan mereka, lalu turun dari atas panggung dan dilanjutkan dengan acara selanjutnya.
Lain halnya dengan Desi dan Ajay, mereka sedang berfoto berdua di belakang panggung. Itulah keinginan Desi yang sudah lama ia pendam dan baru tercapai saat ini. Wajah cantiknya berseri, terpancar jelas kebahagiaan yang ia rasakan.
"Makasih, Jay, udah mau foto bareng." Desi berujar, Ajay tersenyum dan berkata, "sama-sama, Des, santai aja lah."
Setelah itu, mereka kembali bergabung bersama teman-teman lainnya, yang sedang asik menyaksikan penampilan-penampilan pengisi acara.
***
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Ya, mungkin suatu saat, jika aku tak bersamanya atau pun aku pergi. Dan ia memilih gadis lain, aku harus bisa merelakannya. Merelakan dirinya bahagia bersama gadis pilihannya. Membiarkan dirinya bersama gadis itu dengan kebahagiaan mereka, walau sejujurnya aku tak rela bila hal itu terjadi.
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Cepat atau lambat, salah satu dari kami akan pergi -bila memang tak berjodoh- bersama pasangan masing-masing. Hanya satu harapanku, bila ia pergi bersama pasangannya dan tak akan kembali bersamaku.
Aku hanya ingin dia mengenangku sepanjang hidupnya, mengenang semua yang telah kami rangkai dari awal pertemuan kami, dari awal ia mencintaiku dan aku malah membencinya, sampai akhirnya ia menyerah di saat aku sudah mulai merasakan cintai itu tumbuh.
"Kenangan indah yang telah kita rangkai, takkan pernah kulupakan. Sampai kapanpun aku akan menjadikannya kenangan yang akan selalu kuingat, walau kita tak bisa bersama." Aku menatap Ajay dari kejauhan, karena hanya ini yang dapat kulakukan. Aku cukup tahu diri untuk tidak mendekatinya lagi, karena nyatanya aku baru mengetahui bahwa ia, kini sedang dekat dengan gadis lain.
YOU ARE READING
A Story Of Song
RandomHanya kumpulan cerita yang melintas di benak saya. Cover by @tutupdowny
