PENGANTIN BARU
Ini malam pertama Kinan dan Rafa menjadi sepasang suami istri. Seperti pengantin baru pada umumnya, malam ini mereka lalui dengan saying sayang, percumbuhan, dan penuh keromantisan. Di tengah percumbuhan, tiba-tiba Rafa berdiri dan turun dari ranjang pengantinnya
"Ternyata kau ini sudah tidak perawan lagi. Sudah berapa laki-laki yang menidurimu? Hey ... jawab! Lihat aku!" Rafa bertanya dengan suara yang menghentak lalu menarik dagu Kinan ke arah wajahnya. Kinan yang sedang tidur terlentang pun langsung bagkit dan duduk, lalu mundur ke pojok kanan ranjang pengantinnya. Tubuhnya gemetar, air mengalir dari ekor matanya.
"Hey ... kamu punya mulut, kan? Ayo jawab!"
"Aku tidak sehina yang kamu pikir Fa. Aku memang sudah tidak perawan lagi, tapi aku dijebak, aku ini diperkosa. Maafkan aku karena tidak menceritakan aib ini kepadamu. Aku takut kamu meninggalkanku jika aku menceritakan semuanya sebelum pernikahan ini. Aku takut kehilanganmu ... aku terlalu mencintaimu."
"Omong kosong... dijebak, katamu? Dijebak siapa? Diperkosa siapa, hah? Aku jadi curiga, kamu muntah-muntah dan perutmu mual-mual di sepanjang hari ini ... jangan-jangan itu bukan karena masuk angin, tapi karena kamu sedang hamil. Kamu ini ingin menjebakku. Katakan! Apa benar kamu sedang hamil, Kinan?"
"Iya Fa, aku dijebak. Kamu harus percaya aku. A... Aju, Aju lah yang menjebak dan memperkosaku Fa. Demi Tuhan, aku ini diperkosa. Ini bukan keinginanku. Fa, tolong jangan paksa aku menceritakan kembali kejadian pemerkosaan itu. Karena mengingatnya amat menyakiti batinku. Iya kamu benar, a...aku memang sedang hamil tiga Minggu. Maafkan aku... Fa!" Dengan terisak-isak, Kinan turun dari ranjang pengantinnya, lalu mencium kaki Rafa yang sedang berdiri di samping ranjang. Namun dengan cepat pria itu mendorong tubuh Kinan dengan kaki kanannya. Tubuh mungil Kinan pun tersungkur ke lantai.
"Enteng sekali mulutmu bicara. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? Hebat... kamu telah berhasil menjebakku. Orang lain yang melakukannya, tapi aku yang kaujadikan tumbalnya. Pintar sekali kamu berpura-pura. Jago sekali kamu berselingkuh. Dengar! Jangan pernah lagi bibirmu berkata cinta kepadaku! Aku jijik mendengarnya." Rafa bicara sambil melempar pas bunga ke arah cermin lemari besar yang berada tepat di depannya. Ctaaaar... cermin dan pas bunga itu pecah bersamaan dengan hentakan suara pria itu. Kinan kaget, tangisnya lebih kencang dari sebelumnya. Pria itu kembali mendekati tubuh Kinan, dia membungkuk lalu menjambak rambut panjang Kinan
"Tidak usah menangis! Harusnya kamu bahagia karena telah berhasil menjebakku. Hey, tidak usah berpura-pura sedih di depanku!"
"Aauww... lepaskan Fa" tangis Kinan kian menjadi-jadi
"Maafkan aku Rafa... aku tidak bermaksud menjebakmu. Aku ini sudah hancur Faa. Masa depanku sudah di rusak laki-laki itu. Tapi kamu harus percaya, rasa cintaku padamu ... tak pernah bergeser sedikit pun ke hati lelaki lain. Aku bersumpah, aku tidak pernah berselingkuh. Aku hanya dijebak dan diperkosa. Fa... bukankah kamu pernah berjanji, kamu akan selalu setia padaku, selalu mau menerimaku apa adanya. Apakah itu cuma janji bibirmu saja? Apa kamu lupa akan kata yang pernah terucap dari mulutmu itu? Apa, kamu pura-pura lupa? Fa, apakah cintamu hanya memandang fisik? Apa, kamu tidak pakai hatimu untuk mencintaiku?" perlahan Rafa mulai melepaskan jambakannya pada rambut Kinan, lalu lelaki itu duduk di pinggir ranjang
"Lalu... kenapa kamu memilih aku untuk menikahimu? Kenapa kamu tidak minta lelaki itu untuk menikahimu? Lelaki itu kan Bapak dari janin yang kamu kandung. Aku bukan lupa akan janjiku, apalagi berpura-pura lupa. Aku bukan mencintaimu karena fisik semata, tapi coba kamu pikir... lelaki mana yang tidak marah, tubuh istrinya ditiduri lelaki lain. Suami mana yang tidak marah jika istrinya berzina dengan lelaki lain. Entah sudah berapa laki-laki yang menidurimu.. Mana tahu kamu melacurkan tubuhmu di luar sana. Aku tidak tahu." air mata pun mengalir dari mata Rafa. Kinan berdiri lalu melangkah kemudian duduk di atas ranjang tepat bersebelahan dengan Rafa.
"Kenapa aku tidak memilih menikah dengannya? Alasanku yang pertama, kala aku menemui lelaki itu untuk meminta pertanggung jawabannya... dia malah menyuruhku untuk aborsi. Rafa, aku ini sudah berlumuran dosa. Aku tidak ingin menambah lebih banyak dosa lagi di dunia ini dengan memggugurkan kandunganku. Kedua dia sudah beristri dua, dan yang ketiga dia pemabuk, penjudi juga tukang main perempuan. Apa kamu rela, aku hidup dengan lelaki macam itu, Fa? Aku tidak berzina Fa, aku tidak pernah merelakan tubuhku ditiduri lelaki yang bukan muhrimku. Aku ini masih punya iman. Aku tidak sehina yang kamu pikirkan. Fa, aku masih percaya kamu itu lelaki baik yang mau menerima segala kekuranganku dan bisa menuntunku ke arah yang lebih baik lagi. Fa, kalau bukan kamu yang menolongku, siapa lagi? Aku sangat membutuhkanmu untuk melewati ini semua. Fa, ----" Belum sempat Kinan menyelesaikan kalimatnya, Rafa sudah memotong pembicaraan dengan suara yang menghentak.
"Cukup! Aku tidak mau mendengar kebohonganmu lagi. Aku mau kita cerai!" Rafa berdiri lalu berjalan keluar sambil menutup pintu kamar dengan kencang. Dia berjalan menuruni anak tangga dan pergi keluar rumah dengan mengendarai mobil jeepnya. Sementara Kinan masih terisak-isak di dalam kamarnya.
****
Semalaman Kinan tidak bisa tidur, pikirannya tak karuan memikirkan suaminya yang sampai subuh ini belum kunjung pulang juga.
Berulang kali dia menelpon dan juga mengirim pesan ke nomor Rafa, tapi teleponnya tidak diangkat, pesan pun tidak dibalas Rafa.
... tiba-tiba telepon genggamnya berdering, Kinan langsung melihat layar telepon genggam yang sedari tadi tidak pernah ia lepaskan dari genggamannya. Dia tersenyum kala melihat layar telepon genggamnya. Nomor yang menelepon itu adalah nomor Rafa. Buru-buru dia mengangkatnya
"Selamat malam, apa benar ini dengan istri Bapak Rafa?" tanya suara perempuan dari pesawat telepon itu
"I...iya benar. Anda siapa, ya? Mana suami, saya?"
"Saya dari pihak RS. Garuda, Cisaat. Suami Ibu tadi malam mengalami kecelakaan. Sekarang suami Ibu sedang dirawat di RS. Garuda."
"A..apa Mba? Suami saya kecelakaan? T... terima kasih informasinya. Saya segara ke sana sekarang." Seluruh bagian tubuh kinan menjadi lemas mendengar kabar kecelakaan itu. Air mata kembali membajiri pipinya. Dengan langkah gemetar Kinan menuruni anak tangga ke lantai dasar rumahnya. Dia berangkat ke rumah sakit dengan mengendarai sepeda motor.
***
Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menanyakan kepada petugas yang berjaga di loket pendaftaran. Dia menanyakan, di kamar berapa suaminya dirawat. Setelah itu dia berjalan menuju kamar yang disebutkan petugas itu. Ketika sampai di kamar yang dituju, Kinan langsung meneteskan air mata melihat kondisi suaminya. Kedua kaki, dan jidadnya Rafa dikelilingi perban. Kinan mendekat, diraihnya tangan kanan Rafa, lalu diciuminya jemari Rafa.
"Kinan..." suara Rafa lirih
"Iya, Fa... maafkan aku. Gara-gara aku kamu jadi seperti ini. Fa, jangan ceraikan aku. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau hidup tanpa kamu. Beri aku kesempatan untuk bisa menjadi istri yang baik untukmu." Kinan menangis sambil terus menciumi jemari Rafa. Tiba-tiba jemari Rafa bergerak menghapus air mata yang mengalir di pipinya
"Tidak... kamu tidak perlu minta maaf. Aku lah yang harus meminta maaf kepadamu. Aku telah kasar kepadamu. Maafkan aku sayang. Tapi aku akan tetap menceraikanmu. Aku sekarang cacat, kedua kakiku tidak bisa begerak lagi. Aku hanya bisa menyusahkanmu bila kamu tetap bersamaku. Kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku.'' Air mata Rafa pun mengalir deras sampai membasahi bantal
" Fa, aku tidak peduli kamu cacat, kamu tidak bisa jalan atau apapun keadaan kamu, aku akan tetap mendampingimu. Aku akan merawatmu. Kita akan lewati ini bersama Fa." kinan menghapus air mata Rafa dengan jemari tangannya
"Kamu memang istri yang baik, aku bangga memilikimu. Aku akan meyayangi anak yang ada dikandunganmu, seperti darah dagingku sendiri. Iya sayang, kita akan lewati semua ini bersama. Terima kasih, karena kamu telah mau menerima kekuranganku. Aku mencintaimu istriku...." Kinan dan Rafa saling tersenyum dan menangis bahagia ....
YOU ARE READING
PENGANTIN BARU - Tulis judul sendiri
Short StoryRafa kecewa dan merasa dijebak oleh istrinya. Perasaannya hancur ketika mengetahui istrinya sudah tidak perawan lagi. Malam pertama yang seharusnya berlangsung dengan saying sayang pun berubah menjadi pertengkaran hebat.
