Prolog

226 4 7
                                        

California, 2015

Malam belum juga usai saat mobil Van yang dikemudikan Brad melaju kencang sepanjang Interstate 10, di jalan bebas hambatan San Bernardino county. Kami bertiga, Brad, Rick dan aku baru saja bersenang-senang di salah satu kasino di Las Vegas. Belum cukup puas, kami memutuskan untuk melanjutkan kegilaan kami ke arah Long beach, Monterrey Park.

Brad berkata ia punya banyak tempat disana untuk kami menghabiskan minuman dan menikmati serbuk surga yang ia simpan dalam mobil Van aneh miliknya ini.

Aku baru mengenal Brad dua hari lalu. Rick yang memperkenalkannya padaku. Dan sekarang kami bertiga sedang berteriak-teriak pada setiap orang yang kami lewati di sepanjang jalan utama di Monterrey Park.

Aku tidak tahu pukul berapa saat ini. Mungkin hampir tengah malam atau mungkin belum sama sekali. Ketika Van kami yang berisik dengan dentuman musik dan teriakan-teriakan vulgar kami bertiga memasuki Persimpangan Garfield Avenue.

"Hei, F******G teroris! Enyah kau dari negara kami!" Brad yang menyetir mobil dengan ugal-ugalan berteriak pada seorang pejalan kaki di depan sebuah blok pertokoan yang sudah tutup. Kami tertawa begitu saja mendengar umpatannya pada pejalan kaki yang memakai penutup kepala pada rambutnya itu. Kulihat dia mempercepat langkahnya menjauhi mobil kami.

"Hei, dekati dia, pelankan mobilnya, Brad!" Rick tampak mempunyai sebuah rencana dalam otaknya.

"Apa yang kau rencanakan dalam otak kotormu itu, Rick?" Aku bertanya di tengah rasa melayangku karena alkohol dan asap mariyuana.

"Lihat dia, sepertinya cocok untukmu! Aku tidak pernah melihatmu bersama gadis-gadis, sekarang saatnya, dude!"

Aku memaki Rick. Dan ingin meninju wajahnya. Tapi sekelebat rasa penasaran yang besar mengabut di otakku. Lalu terdengar tawa Brad yang keras dari kursi pengemudi. "Ide bagus, Rick. Mereka teroris, harus dimusnahkan!"

Mendengar kata-kata Brad bulu kudukku meremang. Tapi lagi-lagi otakku terhalang oleh sesuatu yang membuatku tak bisa berpikir jernih. Mendadak Rick melemparkan sebuah penutup kepala full head kepadaku dan menyuruhku mengenakannya.

Aku merasakan serangan adrenalin yang kuat pada tubuhku. Hei, hei. Berpikirlah Kenneth!

"Leave Me!" Suara melengking itu terdengar. Aksennya berbeda. Aku belum pernah mendengar aksen yang seperti itu sebelumnya. Ya jelas saja, dia mungkin dari belahan negara teroris antah barantah sana yang aku tak tahu dimana keberadaannya..

"Help!! He.. Mfff.. Mfff!" Brad berhasil menyumpalkan sebuah kain pada mulut orang itu dan menggotongnya masuk ke dalam Van kami. Dia melemparkan tubuh kecil itu begitu saja ke lantai Van.

Rick langsung menutup pintu Van dengan sekali dorong. Brad kembali ke kursi pengemudi seraya tertawa-tawa.

Bug! Kulihat kaki kecil berbalut jeans itu menendang mengenai perut bawah Rick.

"F***!" Rick mengaduh kesakitan. Aku terbahak. Entah kenapa aku merasa puas melihat ada perlawanan dari orang bertubuh mungil ini. Namun tawaku terhenti ketika kulihat balasan Rick padanya.

"Holly S***! Hentikan Rick! Kau bisa membunuhnya!" Dengan pandangan sedikit buram aku dapat melihat bagaimana akhirnya orang itu terkulai tak sadarkan diri karena pukulan dan tamparan Rick yang bertubi-tubi pada wajahnya. Mungkinkah ia mati?

"Kau pikir siapa kau, hah!" Rick masih memaki seraya melayangkan tamparannya sekali lagi pada wajah itu. Aku seperti tidak mengenalnya. Inikah sisi lain Rick, teman satu asramaku yang terkenal hebat di kampus?

"Sekarang giliranmu, lakukan yang harus kau lakukan!" Kini Rick menatapku dengan pandangan dingin.

"APA?! Aku harus melakukan apa padanya!"

"Dia untukmu, Ken! Tunjukkan padanya bahwa keyakinannya tidak berguna, tidak ada malaikat yang melindunginya. Siapa yang mau melindungi teroris!" Brad berteriak dari kursi depan.

"Ini adalah syarat untukmu masuk dalam kelompok kami, lakukan sekarang. Setelah itu kita bisa membuangnya keluar!"

Serentetan makian keluar dari mulutku. Dosa apa gadis ini?

Ah, tentu saja, dia mempunyai keyakinan yang membuatku harus kehilangan orang yang kusayangi. Dan kebencian kembali menguasai otakku selain alkohol dan mariyuana.

Malam ini aku menjadi iblis.

---- to be continue --

Mohon maaf, jika ada adegan kekerasan disini. Saya hanya ingin menggambarkan sisi traumatis dari sumber konflik pada cerita ini.

Mohon Voment ya readers, sebagai feedback tulisan saya.

Terima kasih. 

AleeyaStories to obsess over. Discover now