Aku tertegun. Sakha menyuruhku ke apartemen miliknya. Ada Khulaidah di ruang tengah apartemen Sakha. Wajahnya terlihat murung. Sakha di samping Khulaidah ketakutan dengan tingkahnya. Aku hanya berdiam diri di ruang tamu.
"Aku tidak tahan lagi. Rasanya aku ingin mati," Khulaidah merangkul kedua kakinya.
"Kemana saja kamu dua hari ini. Aku sudah bilang, kamu harus rutin mencuci darah," Sakha kelihatan cemas. Sakha mengetahui keberadaanku. Dengan terburu-buru, Sakha mendekatiku.
"Sayang, kita keluar sebentar," bisik Sakha, buru-buru.
Aku mengangguk. Bertemu Khulaidah membuat aku sedih. Aku segera keluar bersama Sakha.
Aku tidak mendengar, bahkan sudah sampai di depan Sakha. Mau tidak mau Sakha mendekat.
"Sayang!" sapa Sakha. "Sudah lama, ya?"
"Iya," jawabku.
Sakha terdiam. Sepertinya Sakha tidak tahu bicara apa kepadaku.
"Mas, kalau mau mengatakan sesuatu, katakan saja. Safanah siap mendengarkan apapun yang Mas katakan," perasanku semakin tidak tenang.
"Sayang...!" Sakha begitu berat menjelaskan sesuatu kepadaku.
Aku merasakan perasaan yang akan menyakiti hatiku. Mungkinkah Sakha akan memintaku untuk menikah lagi atau Sakha ingin meninggalkan aku. Entahlah, pikiran ini membuat aku semakin terluka.
"Sayang, Sayang duduk di ruang tamu. Jangan beranjak dari sofa karena Mas ingin menolong Khulaidah. Khulaidah tidak ingin ada yang tahu tentang kondisinya kecuali Mas."
"Baiklah, Mas," aku patuh.
Sakha dan Khulaidah begitu lama di sana. Aku hanya mendengar suara tangisan Khulaidah. Tidak ada sedikitpun aku mendengarkan suara Sakha. Ruang tamu dan ruang tengah dibatasi lemari buku, begitu banyak buku yang tersusun sehingga aku tidak bisa melihat mereka di ruang tengah.
"Sakha, aku tidak tahan lagi!"
Terdengar jawaban. Aku sangat curiga dengan mereka akibat pikiranku terhadap Khulaidah. Mungkin, aku bisa mempercayai Sakha, tapi aku tidak bisa mempercayai Khulaidah karena dia begitu menginginkan Sakha.
Aku memberanikan diri masuk ke ruang tengah. Sakha menyentuh badan Khulaidah dengan alat pemeriksaan medis. Berikutnya, Sakha dan Khulaidah saling pandang kaget. Saat menengok ke belakang, ada aku sedang berdiri dengan tatapan tidak percaya atas apa yang aku lihat.
"Khulaidah, apa yang terjadi dengan kamu?" tanyaku berubah cemas.
"Sakha, kenapa ada dia? Kamu yang memberitahunya? Apartemen ini yang tahu tempat kamu, hanya aku. Kenapa kamu memberitahunya? Aku tidak ingin melihat wajahnya," Khulaidah sangat membenciku.
"Sayang, Mas sudah beritahu kalau Sayang tunggu di sofa tamu," bisik Sakha lagi.
"Mas, izinkan Safanah ada di sini. Safanah ingin tahu keadaan Khulaidah. Mas...!" kataku pelan.
Sakha berpikir. Sakha menarik tanganku di dekat Khulaidah.
Selanjutnya.....
YOU ARE READING
AKU DAN KAMU IN-SYAA ALLAH DI SURGA
RomanceSafanah bunuh diri telah membuat seluruh rumah sakit panik. Semua tahu, jika penyakit Safanah kambuh, berarti ia tidak lagi keadaan tenang bagi mereka Safanah adalah pasien gila. Dalam tindakannya, Safanah dirawat oleh dokter ahli bedah. Keberadaan...
