Hari yang cerah untuk memulai hari senin yang keramat. Tidak ada yang paling menyebalkan dari hari senin. Senin berarti mengucapkan selamat tinggal kepada weekend. Terkadang aku heran kenapa dari hari Senin ke hari Jum'at itu lama. Tapi dari Sabtu ke Senin itu sangat singkat.
Nama ku Doh Kyungsoo. Umur ku 26 tahun. Aku bekerja sebagai salah satu staf bidang keuangan di perusahaan KJ group. Jika kalian tanya aku berwujud seperti apa jawaban ku adalah biasa aja. Aku tidak secantik yoona snsd atau irene red velvet. Tapi tidak terlalu buruk juga. Badan ku bisa dibilang sedikit mungil dan sedikit lebih berisi. Ingat, hanya sedikit! Bukan berarti tubuhku seperti Nyonya puff dari animasi spongebob itu ya! Pipi ku termasuk tembem bagi standar cewek korea, yang biasanya jadi sasaran cubitan oleh keluarga ku atau sahabat ku.
Mata ku cukup bulat, ibu ku pernah bilang bahwa mata ku seperti mata burung hantu. Setidaknya aku dianugrahi bibir berbentuk hati saat aku tersenyum atau tertawa. Tapi pada Intinya adalah diriku ya biasa aja. Bahkan bisa dibilang di antara teman-teman sekantor, aku adalah salah satu orang yang paling cuek dengan penampilan.
Aku paling menyukai warna hitam. Pakaian di dalam lemari ku didominasi oleh warna tersebut. Dari luaran sampai dalaman sekalipun. Bahkan teman sekantor ku sekaligus sahabat ku sejak SMA -park yoora- pernah menyeret ku ke butik langganannya hanya untuk memaksaku membeli sepotong dress berwarna pink pastel.
"Isi lemari lo warnanya sudah hitam semua. Lo mau pergi melayat terus tiap hari?" Dia selalu mengucapkan kalimat itu kalau kami pergi belanja bersama dan lagi-lagi aku memilih pakaian berwarna hitam atau warna yang gelap.
Seperti biasanya, saat pergi ke kantor aku akan selalu menggunakan kemeja putih dan blouse berwarna hitam sebagai outernya serta rok pensil sedikit diatas lutut yang berwarna hitam juga. Sekilas aku memang seperti karyawan magang, padahal aku sudah bekerja di KJ group lebih dari 3 tahun.
Saat aku baru memasuki lobby kantor, tiba-tiba seseorang merangkulku dari belakang dan mulai menusuk-nusuk pipiku. Siapa lagi pelakunya yang berani mati kecuali sahabat ku park yoora.
"Selamat pagi bocah magang!" Katanya lalu kembali menusuk-nusuk pipiku gemas padahal aku sudah menyingkirkan tangannya tadi.
"Hmm. Yoora-ya! Berhenti menusuk-nusuk pipiku! Aku bukan slime!"
"Pipi lo lebih asik dimainkan daripada main slime kyungiie. Argh! Gemesin! Gemesin! Gue mau gigit pipi lo rasanya!" Sekarang dia mulai mencubit-cubit pipi ku dengan sedikit keras.
"Dasar psikopat!" Kataku sambil sedikit tersenyum lalu menepis tangannya dan segera melangkah pergi ke arah lift yang saat itu tepat sedang terbuka.
"Yak! Kyungiie!" Dia segera menyusulku dan segera mengambil posisi di samping ku saat berada di dalam lift. "Hey! Lo tau sendiri gue kepengen banget punya adek cewek. Eh malah dapatnya cowok. Untung ganteng sama multi guna sih, jadi gak gue tukar dulu sama lo!" Yoora mulai mengoceh tentang adeknya yang berprofesi sebagai komposer lagu. Bagaimana sang adik dengan semena-mena memakai mobilnya tanpa izin untuk pergi mencari inspirasi lagu.
"Heh! Dengerin gak lo!" Katanya. Hmm mungkin dia kira tadi aku diam dan gak menyimak apa perkataannya.
"Saya mendengar anda dengan sangat jelas nyonya. Bahkan mungkin orang-orang lain juga mendengar anda karna suara anda yang menggelegar" kata ku sok formal padahal aku tak bisa menyembunyikan senyum ku saat akhirnya yoora menyadari bahwa dia sudah berbicara terlalu nyaring.
"Hehehe sorry gais" katanya. "Oh ternyata sudah sampai! Bye kyungiie! Sampai ketemu makan siang nanti!" Akhirnya yoora keluar di lantai dimana dia bekerja.
Pintu lift kembali tertutup lalu membawa ku naik 2 tingkat lagi dari lantai yoora. Setelah pintu lift terbuka, Aku segera menuju ke kubikel ku dimana pekerjaan ku sudah menunggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Two Side
RomanceApa jadinya jika pemimpin perusahaan besar KJ group mempunyai pemimpin berkepribadian ganda yang bertolak belakang? "noona itu lucu sekali. aku ingin bermain dengan dia terus" -nini (10 tahun) "sial! wanita itu benar-benar membuat ku marah. beranin...
