"Fia sakit" celetuk Bintan yang membuat Fandy membulatkan kedua bola matanya.

"Sakit apaan? Nggak parah kan?" Tanyanya cukup panik, namun keduanya hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban tidak tahu.

"Kita baru mau lihat dia habis pulang sekolah"

"Gue ikut ya?" Ucapnya dengan cepat serta semangat yang membara.

Zahra dan Bintan saling menatap. Bintan mengangguk tanda setuju akan permintaan lelaki itu.

"Ya udah. Tapi, lo jangan nakal kalau lagi di rumah Fia ya" Fandy menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan Zahra.

"Lo kira gue bocah TK?" Zahra hanya mengerling mata tanpa berpatah kata.

Fandy mendudukkan dirinya di bangku milik Fia, membuat Zahra yang berada di sebelahnya  mengernyit bingung, begitu juga dengan Bintan.

"Ngapain lo disitu?"

"Ya duduk lah"

"Kursi lo kan di belakang"

"Kalau di belakang, bukan papan tulis yang gue lihat, tapi ubun-ubun mereka" ucapnya sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang berbincang.

"Terserah" ujar Zahra lalu diikuti dengan langkah kaki seseorang guru dengan kacamata tebalnya di hidung. Membuat seisi kelas menutup mulutnya rapat-rapat dengan spontan.

*****
Kini Fandy, Zahra dan Bintan sudah berada di depan rumah bertingkat dua yang menampilkan warna abu-abu dan putih.

Tangan Zahra memencet bel yang berada di dekat pintu utama. Tidak lama, seorang wanita paruh baya dengan baju daster khas ibu-ibu rumah tangga membukakan pintu dan mempersilahkan mereka menuju kamar Fia yang berada di lantai dua. 

"Tante tinggal dulu ya" ucap Mama Fia saat dirinya telah mengantar ketiga teman anaknya ke kamar anaknya.

"Iya tante" jawab ketiganya secara bersamaan.

Fia menampilkan wajah sumringahnya, bagaimana tidak? Dirinya sudah kesepian sejak tadi pagi, ia hanya ditemani Mamanya yang keluar masuk kamarnya seperti suster yang hendak mengecek keadaan pasiennya dan juga televisi yang menampilkan acara-acara membosankan.

Namun, Fia juga menampilkan ekspresi heran, sebab lelaki yang beberapa hari lalu diberikan penegasan oleh Fia datang menjenguk dirinya seperti seseorang yang tidak memilik permasalahan dengan gadis itu.

Fandy memperhatikan kedua lutut Fia yang masih terdapat luka, "Lo kenapa Fi? Habis jatoh?" Tanya Fandy di awal percakapan mereka lantas dibalas anggukan oleh gadis itu.

"kok bisa?" Bintan bertanya dengan kedua alisnya menaut.

"Ya emang bisa" balas Fia lalu terkekeh pelan.

"Pasti lo ceroboh" Tebak Zahra dan membuat Fia tersenyum malu.

"Gue kemarin kan disuruh Mama ke minimarket depan naik sepeda, terus pas pulang, rem sepeda gue ternyata blong. Terus gue panik dan akhirnya jatuh" Ketiga temannya hanya menggeleng mendengar penjelasannya.

"Yang nolongin siapa?"

Fia menunduk malu lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum, "Angelo sama Reyvan"

Zahra dan Bintan mengernyit bingung, sedangakan Fandy merasa bahwa ekspresi Fia berubah menjadi lebih certah saat memberitahu siapa penolongnya.

"Kok bisa?" Fia mengedikkan bahunya. "Gue juga enggak tau"

Zahra dan Bintan tersenyum menggoda ke arah Fia, membuat Fandy semakin yakin bahwa Fia memiliki rasa kepada Angelo. Seketika, Fandy merasakan hawa panas menyelimuti dadanya, membuat lelaki itu ingin keluar dari topik pembicaraan ini.

Keempatnya saling berbincang tentang banyak hal, mulai dari celana Boby yang robek dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna pink, suara mendengkur milik Rudi yang sangat mirip suara star wars yang sangat menggelegar seantero kelas, sampai bodohnya Anto dalam pelajaran Fisika yang membuat lelaki itu mengeluarkan air berwarna kuning saat dirinya mengerjakan soal di papan tulis, yang membuatnya kini mendapat julukan si bayi bandar micin. 

Mama Fia masuk ke dalam kamar milik gadis itu dengan tiga gelas es jeruk  dan tiga toples berisikan cemilan untuk ia suguhkan kepada ketiga tamu anaknya. Fandy yang telah dipersilahkan pun langsung menyeruput es jeruk dengan satu kali tegukan, membuat orang di sekitarnya menatap lelaki itu takjub.

"Ra, lo enggak haus kan? Gue minum punya lo ya?" Zahra yang merasa kasihan pun hanya mengangguk tanpa ekspresi.

"Kalau masih haus, tante buatin lagi ya?" Tawar Mama Fia, namun Fandy menggeleng lalu menyimpan gelas es jeruk kedua di atas meja kecil di kamar Fia.

"Enggak usah tante, ini saya juga udah mau pamit, soalnya mama saya tercinta suka parno kalau anak gantengnya pulang kelamaan" Ucapnya dengan percaya diri, membuat Fia dan kedua temannya menutup mulut menahan tawanya.

Mama Fia terkekeh pelan,"Ya udah, kamu pulang aja. Takutnya Mama kamu malah lapor ke kantor polisi lagi, karena anak gantengnya belum pulang" Fandy tersenyum malu, ia malah terlihat seperti anak manja di depan Fia, kedua temannya, dan Mama Fia.

Fandy menyalami tangan Mama Fia lalu menciun punggung tangan Mama Fia. "Assalamualaikum tante. Gue pulang duluan ya, cepat sembuh ya Fia. jangan mikirin gue mulu" Fia mengangga, tidak menyangka Fandy berani menggombalinya di depan Mamanya.

Mama Fia tersenyum, "Waalaikumsalam, makasih udah jengukin Fia" Fandy memberikan jempolnya sambil tersenyum lalu berjalan keluar kamar Fia.

"Enggak tau malu tuh anak, habisin dua gelas es jeruk terus langsung cabut" Ujar Bintan.

*****

Maaf kalau masih biasa-biasa aja. Makasih banget yang sudah mau baca sampai sejauh ini :) Jangan lupa vote dan komen :)

Angel(o)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang