Part 1- Memori hari itu

73 18 5
                                        

Setidaknya ada kebahagiaan yang kekal dalam hidupku, namun takdir tak mengijinkanku untuk tersenyum lebih lama, namun apakah dengan persahabatan aku akan bisa mendapatkan kebahagiaan? Lalu apakah dengan mencintai akan membuatku bahagia? Apakah keduanya bisa kudapatkan?

Persahabatan dalam hidupku adalah hal utama, aku bahagia dengan hanya memiliki satu sahabat yang setia dari pada memiliki lebih banyak sahabat licik. Aku sangat menyayangi sahabatku, Alana, seorang wanita cantik, bawel, aneh tingkah lakunya, bisa membuatku selalu tersenyum. Dia yang tau segalanya tentang sikapku, terutama satu-satunya orang yang tau siapa cinta pertamaku.
"Hai Rissa, Sedang apa kamu?"
"Hai juga Alana, aku sedang memikirkanmu."
"Haha.. Kamu bisa saja."
"Bagaimana dengan cinta pertama kamu, apakah sudah ada perkembangan?"
Aku hanya menggelengkan kepala karena aku sama sekali belum memulai semuanya, Alana sangat paham dengan sifatku, gengsi salah satunya, apalagi menyangkut tentang perasaan dan cinta, satu lagi yang Alana tau bahwa aku tidak bisa basa-basi.
"Rissa.. Ayo dong kamu mulai percakapan terlebih dahulu, buang rasa gengsimu, aku yakin kamu pasti bisa". Aku tahu Alana pasti selalu mendukung apa yang aku inginkan, karenanya aku sangat menyayanginya.
Aku memulai obrolan walaupun hanya sedikit kata yang aku ketik dalam sebuah keyboard, lama-lama aku sudah mulai adaptasi, bahkan kali ini aku diajak nonton bioskop berdua untuk pertama kalinya, dan pastinya ini juga bagian dari rencana Alana. Dika, dia adalah cinta pertamaku, entah mengapa aku bisa menyukainya dalam hitungan detik di sebuah kantin sekolah, awalnya aku kagum melihatnya, namun aku selalu menyanggah perasaan itu, tapi lama-lama aku tidak bisa bohong dengan perasaan ini, ditambah lagi Alana yang selalu menggodaku. Rencana acara itu berjalan dengan lancar, dan hari itu aku tandai sebagai hari bahagia.
"Alana, pasti kamu kan yang membuat ide seperti itu?"
"Hehe.. Iya, habisnya aku gemas sekali dengan hubungan kalian, sama sekali belum ada perkembangan, hanya bisa lewat message saja"
Aku tersenyum "makasih ya Alana, kamu selalu ada didalam hidupku, aku harap aku dan kamu tetap seperti ini"
Namun anehnya wajah Alana seperti dibuat tersenyum, entah itu hanya perasaanku saja atau benar itu hanya senyum terpaksa.
Hari tiap hari aku lewati Dika sekarang seperti menjauh dariku, dan begitu pula yang terjadi dengan Alana. Aku sangat bingung, keadaan ini sungguh menguras pikiranku saat ini.
"Aku rasa kali ini aku butuh refreshing, aku akan pergi bersama Alana ke Cafe kota"
Setelah itu aku mengirimkan sebuah pesan singkat ke Alana, aku menunggu sampai pesan itu terbalaskan lalu aku akan bertemunya di Cafe kota. Notif dilayar handphoneku menandakan bahwa pesan dariku sudah dibaca Alana namun mengapa ia tidak membalasnya? Banyak pikiran yang mengganggu, bukannya pikiranku akan ringan dengan bercerita tentang semua pertanyaan yang ada dipikiranku ke Alana, malah justru menambah beban pertanyaan dalam pikiranku. Lalu aku menulis seutas surat yang akan kuberikan kepada Alana berhubung kemungkinan ia sedang sibuk untuk saat ini, dan setelahnya aku membawa surat itu untuk aku sisipkan dikotak surat rumahnya berhubung rumahnya dekat dengan Taman Kota, jadi sekarang aku putuskan untuk refreshing ke Taman Kota, namun disana aku melihat Alana dengan seorang laki-laki yang sepertinya aku mengenalnya.
"Bukankah itu Dika, apakah benar ia bersama Alana?"
Ucapku bertanya sendiri kepada diriku, tapi aku masih belum yakin. Apakah benar sahabatku rela melakukan hal itu? Itu tidak mungkin terjadi pada Alana, karena aku tahu Aku dan Dia sama sama saling menyayangi dan tidak mungkin saling menyakiti.
Hati ini rasanya gelisah, aku mencoba berfikir positif bahwa yang aku lihat bukanlah Dika dan Alana melainkan Alana dengan seseorang yang disukainya, namun tetap saja hati dan pikiran ini selalu bertentangan, jadi aku memutuskan untuk memastikan siapa yang sedang bersama Alana.
Perlahan kakiku melangkah menuju bangku taman, sesampainya...
Aku langsung menjatuhkan seutas kertas yang tadinya akan kuberikan kepada Alana, aku terlalu kaget setelah tahu siapa yang sedang bersama Alana dan lelaki itu.. Dia adalah cinta pertamaku, Dika. Aku masih mematung dengan perasaan yang entah tercampur seperti apa, rasanya tak karuan.
"Alana, apa yang terjadi?"
"Rissa, maafkan aku, maafkan aku sekali lagi, aku tidak bermaksud merusak kebahagianmu, tapi perasaan yang muncul dalam hatiku sama seperti perasaanmu saat bertemu dengan Dika, tapi Dika lebih memilihku daripada mu aku tidak bisa menolak, maafkan aku Rissa."
"Apakah setelah ini kamu akan mempertahankan hubunganmu dan merelakan persahabatan kita?"
"Untuk saat ini aku akan memilih untuk merelakan persahaban kita, maafkan aku Rissa, maafkan aku belum bisa menjadi teman terbaikmu, aku kira aku bisa membuatmu tersenyum tapi..." ucapan Alana langsung ku potong aku tidak sanggup mendengarnya, lalu aku berkata.
"Kamu tak perlu mempertahankan persahabatan ini, karena itu membuatku harus menahan sakit setiap harinya, kamu tidak perlu meminta maaf berulang-ulang karena itu tidak akan mengubah semuanya, jangan pernah berniat untuk menjadi sahabat terbaik jika akhirnya mencampakkan, jangan pula ingin membuatku tersenyum jika pada akhirnya aku akan menangis, jangan pernah membalas semua pertanyaan ini, karena semuanya sudah jelas yang ada didepan mata dan pengakuanmu dan yang terpenting jangan pernah menemuiku, karna akan membuatku merobek luka kisah ini." lalu aku pergi meninggalkan semuanya, perasaan entah datang menyayat hati ini, rasanya sakit, semuanya sudah berubah dan kini aku kehilangan seorang sahabat dan cinta pertamaku

Bersambung...._________________________________________

Btw itu masih bersambung ya..
Jangan lupa dengerin instrumen various artist di sampul, dengerin aja
Itu bisa membuat hati kalian lebih tenang.
Semoga kalian suka ceritanya 😊

HURT "saat takdir membuatku harus menangis"Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora