Suara tawa terdengar memenuhi kamar bercat biru langit dengan beberapa poster anime yang tertempel didinding kamar, dua gadis manis nan cantik berada didalam kamar ditemani oleh cemilan dan dua botol pocari. Gadis bersurai coklat tua sepanjang atas bahunya dan dihiasi oleh pita berwarna jingga tertawa lepas diatas kasur miliknya, sedangkan gadis bersurai sama dibiarkan terurai sibuk ber-blushing ria. "Kay... Aku harus gimana, Kay? Kasih tahu aku, Kay...", ucapan lirih keluar dari mulut gadis manis yang merasa sangat malu. Iris emerald miliknya menatap penuh harap kepada gadis manis yang duduk dihadapannya. Gadis manis itu mengatur napasnya sebentar, helaan napas lega keluar dari mulut mungilnya. "Menurut aku sih... Kamu harus minta maaf ke dia... Salah kamu sendirikan.... Main tendang aja... Mana pake dikepala lagi! Hasilnya, ya... Kamu tahu sendiri gimana...", balas sang gadis bernama lengkap Kayrana Veronica dengan santai.
Gadis itu hanya menghela napas kasar dan mengusap-ngusap wajahnya dengan pelan, perasaan malu terus memenuhi hatinya. "Ran-chan harus meminta maaf kepadanya~", ucap Kayra dengan nada imut miliknya. Anggukan pasrah dari Rania Natasha Sari dianggap sebagai balasan dari ucapannya, Kayra hanya tersenyum puas dan kembali memainkan game dihandphone miliknya.
Rania hanya diam, memikirkan pendapat dari sahabatnya, sesekali dirinya meminum pocari miliknya dan memakan cemilan yang sudah disediakan. Iris emeraldnya terus menatap ke arah jendela dikamar Kayra, tetapi tatapannya kosong. "Ran-chan!!!! Jangan melamun!!! Ntar bisa kesambet setan!!!! ", teriakan yang bisa membuat telinga tuli sementara membuatnya tersadar dari lamunannya. Tatapan tajam dilayangkan Rania kepada Kayra, sedangkan sang pelaku hanya nyengir tanpa dosa.
Helaan napas kasar sekali lagi keluar dari mulut mungil Rania dan berdiri dari posisi awalnya. "Aku pamit pulang, ya, Kay!", seru Rania dengan datar. Tangan mungilnya meraih tas ransel berwarna biru toska miliknya dan memanggulnya dengan santai, hanya anggukan ringan dan lambaian tangan dari Kayra sebagai balasan dari ucapannya barusan.
Langit sore menghiasi jalan Deresan yang lumayan ramai dikarenakan banyaknya mahasiswa atau mahasiswi pulang dari kampus dan sedang menuju rumah atau kos masing-masing, Rania hanya terus melangkah menuju jalan pulang ke rumahnya. Langkah kakinya tepat berhenti didepan rumah berlantai 2 dengan cat berwarna biru langit, pagar setinggi 1,5 meter bercat hijau toska melindungi halaman depan rumah yang tidak terlalu luas. Tangan mungilnya membuka kunci pintu pagar dengan kunci rumah yang selalu dibawanya pergi, Rania pun langsung melangkah kan kakinya kedalam rumah dan tak lupa mengunci pintu pagar kembali dengan kunci pengaitnya.
Suasana sepi langsung menyambutnya saat dirinya memasuki rumah, helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Kedua orangtuanya belum pulang dari tempat mereka bekerja, untuk beberapa waktu kedepan, ia seorang diri dirumah yang luas ini. Langkah kakinya terus menaiki tangga menuju lantai dua, terus melangkah hingga berhenti didepan pintu kamar miliknya. Tas ransel miliknya ditaruh disamping meja belajar miliknya, tubuh mungil Rania langsung dihempaskannya keatas singlebed empuk yang dilapisi sprei bermotif bunga.
Rania menutup wajahnya dengan bantal miliknya, malu masih menghinggapi relung hatinya. Masih teringat memori tentang kejadian memalukan yang terjadi pada 2 hari yang lalu, kejadian yang penuh salah paham. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya untuk entah keberapa kalinya, gadis itu langsung memasang earphone berwarna putih dikedua telinganya. Earphone tersebut tersambung dengan handphone miliknya yang dia taruh didekatnya, alunan musik yang diputar terus terdengar dari earphone tersebut. Keheningan terjadi di dalam kamar bercat biru langit tersebut dan Rania sudah tidur terlelap diatas kasur.
Langit sudah berwarna jingga dan matahari sudah hampir tenggelam dari singgasananya, jalanan kota Yogyakarta sudah dipadati oleh berbagai macam kendaraan. Helaan napas panjang keluar dari bibir seorang pemuda berwajah tampan, iris violet terus menatap datar pinggir jalan kota Yogyakarta yang dipadati oleh para warga dan pedagang kaki lima. Alunan musik tahun 90-an terdengar dari radio, senandung merdu ikut terdengar dari seorang wanita paruh baya. Suhu AC mobil yang dingin membuat pemuda tersebut terserang oleh rasa kantuk, tak berapa lama, pemuda tersebut tertidur dengan nyenyaknya.
"Laks! Bangun, Laks! Kita sudah sampai!!!", wanita paruh baya tersebut sembari berusaha membangunkan pemuda tersebut dengan berbagai cara hingga suara gumaman pelan dan kelopak mata yang sudah menampilkan kedua iris violet miliknya. "Bunda... ngantuk....", gumam pelan pemuda tampan bernama lengkap Laksmana Aquilla Akesh tersebut. "Duh... Laks, jangan manja begitu!!! Ayo bantuin Bunda bawa barang!!!", seru wanita paruh baya yang dipanggilnya Bunda. Laksmana hanya mampu menahan rasa kantuknya dan memilih menuruti ucapan Sang Ibunda, setelah membantu Bundanya menaruh barang dan menata barang dirumah baru mereka, barulah Laksmana dapat bersantai dikamar barunya yang bercat hijau daun dan memainkan game dihandphone miliknya sembari tiduran diatas singlebed berlapis sprei polos berwarna deepblue hingga Laksmana tertidur lelap.
Matahari pagi menyinari kota Yogyakarta, para warga sudah memulai aktivitas masing-masing di kota tersebut. Para murid sudah memenuhi SMA Negeri 24 Yogyakarta, berbagai macam aktivitas terus terjadi di SMA ini. Iris emerald terus menatap iris coklat dihadapannya dengan serius, 2 menit kemudian, salah satu dari mereka mengedipkan matanya. "Yes!!!! Aku menang lagi!!!! Rania!!! Inget!!! Ntar traktir mie ayam!!!!", seru Kayra dengan penuh semangat bahkan sampai ubun-ubunnya tercium oleh tembok dengan lembut(?).
Helaan napas kasar keluar dari mulut Rania, ongkos bulanannya bakalan melayang sepertiga dari seharusnya.
Jam dinding kelas XI-IPA baru menunjukkan pukul 06.30, masih ada waktu 30 menit sebelum jam masuk sekolah. Seorang gadis manis bersurai coklat sepanjang pinggang hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka, iris coklat tua miliknya terus menatap mereka dengan antusias. "Ayu... Ntar aku minjem buku novel, ya~", gadis yang bernama lengkap Ayunda Adwitya Wijaya itu hanya mengangguk pelan.
Laksmana hanya menatap datar sekolah yang akan dimasukinya, SMA Negeri 24 Yogyakarta. Langkah kakinya menuju kelas yang sudah diberitahukan oleh Kepala Sekolah 3 hari yang lalu, kelas XI-IPA. Pemuda itu pun langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas, menghiraukan seluruh tatapan para siswa-siswi kelas tersebut. Iris violet miliknya menangkap sekilas wajah seorang gadis yang familiar dimatanya, sebelum ia menatap kursi kosong dan ukiran namanya dimeja belakang gadis tersebut, tas hitam miliknya dikaitkan dipengait tas dimeja miliknya.
Bel pelajaran sudah berbunyi, semua murid buru-buru kembali ketempatnya masing-masing. Guru perempuan yang terlihat muda masuk ke dalam kelas, menaruh tumpukan buku dan tas miliknya di meja guru. Salam dan doa sudah dilaksanakan, begitu juga dengan pemberitahuan hadirnya murid baru. Laksmana maju untuk perkenalan diri dan perkenalan tersebut berakhir dengan berbagai pertanyaan biasa hingga bersifat privasi dari seluruh murid (kecuali Rania yang tidak terlalu peduli dan malah diam-diam membaca komik, juga Kayra yang keasyikan membaca novel pinjaman Ayu), Laksmana hanya bisa menjawab pertanyaan biasa sedangkan pertanyaan bersifat privasi, ia hiraukan saja.
Laksmana sudah diperbolehkan duduk ketempatnya kembali, saat dirinya melewati Rania, ia menatap lekat wajah cantiknya dan dibalas oleh tatapan pucat dari Rania. Seringai tipis terukir diwajah tampannya, ia sepertinya sudah menyusun rencana balas dendam atas perbuatan sang gadis dihadapannya ini.
-TBC-
Yosh!!! Akhirnya jadi juga!!! XD
Setelah berpikir keras dan menggali ingatanku tentang Yogyakarta dulu, dan finaly, aku berhasil membuat chap. ini... :D Dikarenakan, Luna malas membuat prolognya, Luna langsung loncat ke chap. 1... Maaf, ya~ Btw, ini rencana mau kubuat seri saja... Rencananya sih... Cuman 3 buku... :3
Yowes.... Dibanding Luna ngoceh makin banyak lagi, mending Luna akhiri Author Note ini saja~ X3
See U next time~~~
Mind to vote & coment?
[Picture Character : Rania Natasha Sari]
YOU ARE READING
Full of Problem
Teen FictionRania Natasha Sari, gadis tomboy biasa yang hidup dengan sedikit absurd bertemu dengan Laksmana Aquilla Akesh hanya karena suatu kesalah pahaman. Selanjutnya, kehidupan Rania makin absurd lagi dan ditambah dengan kehadiran Laksmana yang sering membu...
