Aku punya Kelvin

44 4 2
                                        

"Yang selalu kutanyakan pada Tuhan. Apakah dia akan terganti? atau tetap selamanya menjadi milikku?"
-Aurelia Ananta

"Telah kujatuh cinta pada wanita lain, namun tidak sama sepertinya. Aku sadar, hanya dia."
-Kelvin Alfizar

*****

Laki-laki itu membawakan sebuah es krim coklat dan vanilla untuk wanita yang sedang duduk di kursi taman.

"Nih, coklat atau vanilla? Coklat."

Kelvin Alfizar. Tinggi, putih, dan rambut hitam yang lebat tumbuh di kepalanya, yang telah ia oleskan dengannya sebuah jelly rambut. Terlihat jambul itu membuatnya semakin tampan. Kurang mengerti apa nama benda itu sebenarnya. Yang pasti itu barang yang sering dipakai oleh para lelaki untuk merapihkan gaya rambutnya.

Aurelia Ananta. Wanita yang juga putih, cukup tinggi untuk wanita seumurannya. Rambutnya hitam. Tidak terlalu panjang ataupun pendek. Sedang. Bola matanya bulat dan begitu hitam. Alisnya yang terukir membuat siapapun yang melihatnya mengira bahwa alis yang ia miliki atas dasar sulam. Nyatanya, tidak. Bahkan kata itu baru ia ketahui dari orang-orang.

"Hehe." Gadis itu tertawa kecil. "Tau aja"

"Iyalah. Aku kan pacar kamu." Kelvin langsung menyantap es krimnya.

"Hmmm, masa?" Dengan senyum yang dimanjakan, Aurel menatap laki-laki dihadapannya dengan penuh canda. Menantang Kelvin untuk mencubitnya, melihat pipinya yang menggemaskan. Dan senyum itu.

Kelvin hanya meliriknya sambil memakan es krimnya itu. Dilihatnya wanita yang ada disampingnya. Begitu manis. Bahkan saat seperti ini, ia seperti anak kecil yang begitu menggemaskan.

"Aw--"

Satu cubitan mendarat di pipinya. Kelvin berhasil membuatnya merasa kesakitan. Kini, ia hanya mengusap-usap pipinya yang chubby itu sambil menatap Kelvin penuh kesal.

Kelvin terus memperhatikannya. Sambil mengatakan, "Apa liat-liat?"

Aurel mendengus kesal. Ingin rasanya memukul laki-laki yang ada dihadapannya itu. Ahh, kesal!

"Kelviiiin!!"

"Cep cep. Ya ampun anak bayi. Gak ada balonnya dek, es krimnya aja tuh di makan, nanti keburu cair, terus terus nanti ngambek lagi. Yah ambekan!" Kelvin terus meledeknya. Sampai sepertinya sebentar lagi akan ada bom yang meledak disampingnya.

"Oke oke, stop. Jangan diledakin. Nanti aku mati." Kelvin masih terus tertawa.

"Biarin aja. Nanti aku bebas, mau jalan sama siapapun. Sama mantan apalagi. Kayaknya seru." Sekarang berbalik. Gadis itu justru malah meledeknya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 21, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

See you againWhere stories live. Discover now