"Mata Dokoka de..."

49 6 20
                                    

"Ohayou," Sapa Kaito dengan suara seraknya.

Ran menoleh cepat, "Ada apa dengan suaramu?" Alisnya bertaut. Kaito menguap dan mengedikkan bahunya acuh, "Betsu ni. Akhir-akhir ini latihan dan butai terus menerus membuat tenggorokanku sedikit sakit."

Ran menghela napas berat, "Sudah kubilang, jangan terlalu memaksakan diri." Kaito hanya diam. Ran masih terus menceramahi sahabat sedari kecilnya itu untuk tak terlalu memaksakan diri. Pekerjaan Kaito sebagai seorang Johnny's Jr. tidaklah mudah. Latihan rutin dance dan menyanyi, belum lagi sekarang sedang terlaksana butai yang diharuskan menghafal skenario dan berbagai atraksi akrobat yang cukup menguras staminanya. Ditambah dengan pergantian dari musim panas menuju musim gugur memang tak selalu bersahabat bagi daya tahan tubuh beberapa orang, termasuk Kaito.

Selain bekerja di dunia entertainment, Kaito juga melanjutkan studinya di perguruan tinggi sekarang. Karena cita-citanya tak hanya ingin menjadi seorang bintang di atas panggung. Tak terasa, seperti baru kemarin Kaito baru saja mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru, tapi sekitar tiga minggu lagi ia sudah harus melakukan sidang tugas akhir di depan para profesor.

Tentu saja dengan jadwal yang sangat padat, daya tahan tubuh Kaito bisa saja menurun dengan drastis. Bagi Ran yang seorang mahasiswi jurusan keperawatan, melihat kondisi Kaito saat ini tentu saja sangat membuatnya cemas.

"Usse na, Ran.." Kaito mulai protes dengan segala ocehan Ran mengenai kesehatannya yang harus dijaga. Seketika itu juga Ran langsung diam. "Aku tahu apa yang aku lakukan. Tidak perlu ikut campur." Lanjut Kaito sembari mendahului Ran menuju gedung fakultasnya.

Langkah Ran terhenti di situ. Ia menatap nanar pada punggung Kaito yang semakin menjauh. "Kai baka..." Lirihnya.

.

.

"Ran, bagaimana? Sudah siap?" Tanya Risa. Ran menghela napas panjang, "Siap tidak siap, aku harus siap."

"Jangan begitu, aku yakin kau pasti sukses!"

"Arigatou.." Ran tersenyum tipis.

Ya, tiga hari lagi Ran akan melaksanakan sidang tugas akhirnya. Mencapai impiannya untuk bekerja menjadi perawat di Jerman sebentar lagi akan terwujud. Ran yang termasuk berprestasi di kampusnya, telah mendapat tawaran untuk bekerja di suatu rumah sakit swasta ternama di Jerman bahkan sebelum ia melakukan sidang tugas akhirnya. Jika ia berhasil dalam satu langkah akhirnya, maka ia akan bisa melangkah menuju jenjang berikutnya. Yaitu dunia kerja.

"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Risa lagi. Ia tak buta, jelas tahu jika Ran sedang murung. "Kaito lagi?"

Ran terkekeh, "Seperti yang kau tahu." Jawabnya singkat. "Acuh seperti biasa."

"Tak ingin memberi tahunya?" Tanya Risa lagi. Ran diam sebentar dan menggeleng kecil, "Perasaanku ini tidak penting untuknya."

.

.

Sudah dua hari Ran tak bertemu dengan Kaito. Sepertinya Kaito memang sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak datang ke kampus. Ran pun maklum, namun ia masih sedikit cemas dengan keadaan Kaito. Ran pun memutuskan untuk tak mengirim email atau menelepon karena ia takut mengganggu Kaito yang sedang sibuk berlatih ataupun menyelesaikan tugas akhirnya.

"Aku ke kantin dulu," Kata Ran pada beberapa temannya yang sedang berkumpul di kelas yang telah kosong. Gadis bersurai ikal itu melangkahkan kakinya menuju kantin fakultas. Ia melongok ke dalam kantin untuk melihat apakah ada bangku kosong untuknya duduk.

Ran menyapukan pandangannya dan tak menemukan ada bangku yang kosong. Semua terisi penuh dan antrian terlihat begitu panjang. Sepertinya kali ini ia harus pergi menuju kantin universitas yang terletak di antara gedung fakultasnya dan fakultas Kaito.

"Mata Dokoka de..."Where stories live. Discover now