Hujan tak kunjung reda. Wanita yang sedari tadi terlihat menggenggam kertas dengan kuat, tampaknya mulai mengutuk datangnya bulan Januari ini. Yah... sepertinya dalam hal ini dia sependapat dengan kebanyakan orang, yang menyebut bulan Januari merupakan bulan dimana hujan akan datang setiap hari.
Kini perempuan berusia 29 tahun itu, tampak gelisah–mondar-mandir–di lobbi salah satu rumah sakit kristen swasta di Yogyakarta yang mulai sepi. Dia kembali membuka buntalan kertas kusut di tangannya. Sekilas, perempuan itu melipat bibir tipisnya dan mendesah. Dia terlihat begitu kecewa dengan surat keterangan dokter yang sudah ketiga kalinya menunjukkan hasil yang sama. Perempuan itu bermaksud meraih tasnya yang tergeletak di bangku panjang lobby rumah sakit, ketika terdengar nada dering dari Handphonenya. Kini tangannya sibuk mengorek-orek isi tasnya, demi menemukan benda berdering itu.
Belum sempat wanita berambut panjang itu membuka mulut untuk sekedar berkata, "Hallo" orang di seberang, sudah menyerangnya dengan berbagai rentetan pertanyaan.
"Juli, di mana to? Kenapa belum pulang? Hasilnya apakah ada perbedaan?" Lelaki yang sudah Empat tahun dinikahinya itu, sepertinya sedikit pun tidak perduli tentang penyebab Julia belum pulang. Apalagi berinisiatif untuk menjemput dirinya. Tidak sama sekali.
Setelah mengakhiri perbincangan singkat dengan suaminya, kerutan didahi Julia semakin kentara saja. Sekarang wajahnya terlihat jelas menunjukan wajah seseorang yang sangat lelah. Karena siang semakin tua dengan enggan, akhirnya Julia melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Hujan memang belum benar-benar reda, namun sekarang hanya tinggal rintik-rintik saja. Setelah mengenakan kardigan dan mengapit tas jinjingnya, Julia membiarkan rintik-rintik hujan menerpa tubuhnya begitu saja.
Sesampainya di rumah, Guntur satu-satunya lelaki yang dicintainya, sudah berdiri di pelataran rumah menunggu kedatangannya. Tanpa sedikit pun perduli dengan Julia yang basah kuyup, Guntur langsung meminta melihat surat keterangan dari dokter. Dengan enggan, Julia memberikan surat yang diminta Guntur, dan berlalu.
Belum sempat Julia masuk ke kamar, langkah Guntur sudah terdengar jelas memburu di belakangnya.
"Juli...hasilnya masih sama, kamu negative. Lalu apa maksud keterangan tambahan dari dokter, yang mengatakan kamu mengalami infertilitas?" Guntur yang merupakan kutu buku pasti sangatlah mudah memahami apa itu infertilitas. Namun, Guntur tetap ingin memastikan.
"Mas... nanti kita bicarakan hal itu, setidaknya biarkan aku ganti baju dulu." Nada suara Julia terdengar sedikit memelas.
"Iyo," dengan raut muka yang tidak begitu rela, akhirnya Guntur mengiyakan permintaan istrinya.
Setelah Julia selesai membersihkan badan serta tidak lupa membuatkan secangkir kopi untuk suaminya, akhirnya sekarang Julia duduk berdua di ruang keluarga, di rumah yang memang hanya dihuni mereka berdua. Di tengah-tengah gemericik air hujan yang sayup-sayup terdengar, Julia hanya mampu menatap wajah misterius di depannya, sambil menunggu kemungkinan pertanyaan apa yang akan dia terima. Walaupun sudah Empat tahun Julia hidup bersama Guntur, tetapi Julia belum benar-benar bisa mengerti suaminya itu. Memang Guntur adalah orang yang tenang, sedikit bicara dan terkesan misterius. Sangat misterius.
Dengan sedikit ragu dan rasa penasaran yang masih sama, akhirnya Guntur mulai bertanya, "Jadi Juli, kamu infertilitas?"
Kini Julia hanya bisa tertunduk, menatap kuku-kuku jari tangannya yang sejak tadi terus dikaitkan satu sama lain. Julia sama sekali tidak bisa menghentikan aktifitas jari tangannya itu. Karena memang hal itulah yang dia lakukan untuk membantu mengurangi rasa khawatir dan gusar.
YOU ARE READING
BARRENT
Short StoryJika cinta tak lagi ada, apakah itu bisa disebut sebagai pasangan? Haruskah bertahan pada kisah cinta yang melelahkan, ataukah pergi, pergi jauh ke suatu tempat yang disebut CINTA. Relakah kau jika melihat cintamu mencintai dan bertahan untuk cinta...
