"Alan!"
Aku menoleh. Melihat Tyo berderap ke arahku. Wajahnya serius. Aku heran. Bocah periang itu jarang sekali memasang wajah begitu.
"Yo!" balasku.
"Boss ngamuk."
"Kenapa?"
Aku menuju ke arahnya. Dan dia membawaku ke studio. Bukan perjalanan dekat. Tyo pasti berlari tadi. Langit mendung. Namun aku masih bisa melihat sosok jangkung yang berkacak pinggang. Wajahnya yang digandrungi pegawai wanita itu berkerut menakutkan.
"Kamu." Dia langsung melihatku.
"Ya, Pak." Aku mendekat.
Dia menunjuk studio. Memang masih berantakan.
"Kenapa masih begini?" ujarnya.
"Ya?" aku tetap tenang. "Karena jadwalnya tanggal 30?"
Alisnya bertaut.
"30?" ulangnya.
"Ya." Aku menarik ponsel dari saku jeans. "Email dari management menyatakan begitu."
Tangannya turun.
"Oh." Cetusnya. Dia meraih ponselku. Membaca email. Lalu mengembalikannya. Dan berbalik berderap keluar studio.
Sekretarisnya mengangguk pertanda berpamitan. Melangkah segera mengikuti langkah majikannya. Jas gelapnya agak kusut.
Aku berjalan keluar studio. Kembali ke tempat dimana tadi aku berada. Langkahku terasa mengambang. Aku ingin sekali segera berbaring.
Di sampingnya.
Bersamanya.
Entah sudah berapa minggu aku tak melakukannya.
Rindu memang menyakitkan.
@@
"Keberanian yang aku butuhkan."
Aku terbangun. Aku terlelap di kursi panjang dekat studio. Tak ada yang membangunkan. Pegawai disini sangat memahami waktu istirahat kawan-kawannya. Dan memang aku kurang tidur. Kausku sudah menguarkan bau tak mengenakkan.
Aku bangkit. Berjalan menuju loker. Mengambil ransel dan menuju ruang istirahat. Bunk bed berderet. Ada beberapa staf yang meringkuk di sana. Dari rumah produksi yang memanfaatkan studio ini.
Kulepas sepatu dan memakai sandal. Membawa peralatan mandi dan memasuki ruang shower. Air dingin membuatku terjaga sepenuhnya. Aku mendesah puas.
Kawan-kawan menikmati makan siang sembari mengobrol. Aku bergabung sembari mengunyah makanan. Sebuah sedan gelap melintas di depan kafetaria.
"Boss datang tuh." Ujar Tyo.
"Dia senewen akhir-akhir ini." Sambung Frans.
"Suaminya di Barcelona kata Yoga. Jadilah Boss sensitif." Gumam Julia.
"Yoga? Sekretarisnya itu?" kerut Tyo.
"Yup."
"Emang kenapa suaminya ke Barcelona? Minta cerai?" cetus Frans.
"Ya ngurusin bisnisnya lah." Dengus Julia. "Dan gue denger dia juga senewen karena anaknya ditaksir anak buahnya."
"Huh? Siapa?"
"Gak tahu. Cuman gosipnya aja santer di kantor Jakarta kalau ada yang naksir Abi. Gue heran. Cari mati ya yang naksir Abi." Kekeh Julia.
"Kenapa?" alisku naik.
"Boss posesif banget sama anaknya." Ringis Julia.
"Yang naksir cowok apa cewek?"
"Cowok katanya."
