Jakarta, 17 juni 2007 .
06.45
Langit yang mendung menemani minggu pagi yang membosankan.
Saat itu Aress yang berusia 11 tahun mendengar gelegar petir lembut dari langit, mencoba diam diam pergi keluar dari kamar tidurnya dan menunggu datangnya rintik hujan. Karena itu yang dia suka.
" Aduh, jangan sampe ibu tahu kalo aku nunggu hujan lagi di taman belakang... " -Aress
Dengan gerakan kilat, Ares berhasil melarikan diri dari rumahnya untuk menuju taman yang biasa ia kunjungi.
Akhirnya perlahan rintik hujan menimpa wajah Aress yang sedari tadi medongakkan wajah ke arah langit kelabu dengan senyum kecil polosnya.
Tanpa takut Aress membentangkan kedua tangannya supaya terkena hujan.Bentangan kedua tangan kecilnya seperti mengharapkan kepada Tuhan tentang sesuatu.
Kedua mata indahnya tertutup menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh.
Kaki basahnya terayun terbawa ayunan yang berdecit di taman.
" Tuhan .. aku Aress, aku sangat suka ketika hujanmu menimpa wajah kecilku. Ibu sering memberitahuku tentang relung hati. Aku begitu faham dengan relung hati.Tapi apa Engkau akan memberikanku seseorang di dalam relung hatiku nanti?" - bicara Aress di dalam hatinya, sambil memainkan ayunan yang berdecit di taman yang basah karena hujan.
***
Seperti biasanya, sebelum tidur Aress yang manja meminta diceritakan cerita sebelum tidur oleh Ibunya walaupun tahu dia sudah besar, tapi bertubuh mungil memang.
"Bu .. cerita atau beri aku sedikit kata sebelum aku tidur. " - ujar Aress kepada Ibunya.
Dengan tanggapan senyum Ibu Aress langsung bersiap untuk memberikan kata sebelum Ares tertidur.
" Nak, Ibu akan menceritakan tentang Ayahmu. " -ujar Ibu Aress
Dengan semangat Aress mendengarkan Ibunya bercerita. Membuat mata yang sebelumnya kantuk menjadi segar tak seperti biasanya.
" Aress, Ayahmu adalah sosok ayah dan laki laki yang tak ada duanya di dunia. Tahukah ress? Sedari dulu Ayahmu tak pernah membuat Ibu kecewa walau sedikitpun. Ayahmu adalah satu bintang di langit redup Ibu. Dia pengubah dunia Ibu yang bisa dibilang kelam sampai akhirnya Ibu menjadi seperti sekarang ini. Ibu ingin sekali nanti di saat kamu dewasa, dikehidupan kamu selanjutnya kamu juga akan menemukan sosok laki laki yang tak ada duanya. Ibu berdoa semoga relung hati kamu dihadiri dan di tempati oleh seseorang yang dapat membahagiakanmu Ress. Seperti relung hati Ibu yang di hadiri oleh Ayahmu. " - dengan mata yang berkaca kaca Ibu bercerita. Dan menahan air mata yang hampir mengalir.
"Bu, relung hati aku akan aku simpan untuk seseorang nanti."
- tanggap Aress sesudah mendengar cerita Ibu. Dengan senyum dan mengecup pipi Ibunya sebelum akhirnya benar benar tertidur lelap.
" tek.." - suara Ibu yang mematikan lampu kamar Aress. Sambil perlahan menyelimuti Aress dan beranjak pergi keluar kamar Aress.
***
Sepulangnya Aress bermandi hujan di taman belakang.
Sementara Ibu menunggu Aress di depan teras.
" Lho Aress, kamu mandi hujan lagi di taman belakang?" - tanya Ibu dengan wajah yang agak marah.
"Ibu, kan aku sudah bilang, aku suka hujan, jadi aku tak mau melewatkannya bu.." - jawab Aress.
" Ibu tahu kamu suka hujan, Ibu hanya khawatir kamu kenapa kenapa nak, nanti kalau kamu mau keluar ada baiknya kamu bilang ya sama Ibu. Jangan buat Ibu sedih Ress.. " -jelas Ibu sambil memeluk tubuh kuyup Aress.
Setelah selesai membersihkan diri, Aress menghampiri Ibunya yang sedang berada di dapur.
" Ibu, apa ayah sedang sibuk hari ini? Apa ayah punya kerjaan kantor hari ini?" -tanya Aress.
" Hari ini sepertinya Ayahmu libur dengan semua kegiatan kantornya nak, apa ada yang penting Ress?"- jelas Ibu.
Tanpa menjawab, Aress langsung bergegas lari menuju ruang tamu untuk bertemu ayahnya.
Aress langsung memeluk Ayahnya yang sedang bersantai di ruang tamu.
" Ayah.. " - panggil Aress.
" heyy.. Aress ada apa nak? Tak biasanya kamu memeluk ayah seerat ini ." -canda Ayahnya sambil sedikit tertawa.
" Terimakasih ya Ayah sudah menjadi Ayah yang tak ada duanya. dan terima kasih untuk menjaga dan menyayangi Ibu. " - ujar Aress sambil memeluk Ayahnya.
Ayahnya yang sedikit bingung dengan perkataan dan tingkah Aress.
" Lho, Kenapa kamu bicara seperti itu Ress? Begini nak, Ayah sangat menyayangi kamu dan Ibumu. Apa kamu pernah dengar tentang relung hati? Jadi bagi Ayah relung hati ayah hanya untuk kamu dan Ibumu. " - jelas Ayah sambil menggoda Aress dengan menyentuh ujung hidung Aress. Dan tertawa bersama.
Ruang tamu.
Dengan pembicaraan mereka yang menyatu, membuat suasana ruang tamu yang senyap menjadi suasana kehangatan.
" Ibu selalu cerita relung hati yah, tapi aku masih belum begitu mengerti dengan relung hati? " - tanya Aress.
" Aress, ada waktunya nanti kamu akan faham dengan segala penjelasan tentang bagaimana relung hati. " -jawab Ayah.
" Baiklah, kalau begitu ceritakan tentang bagaimana ayah merubah dunia Ibu dan kenapa ayah sangat menyayangi Ibu ?" - tanya Aress lagi.
Pertanyaan Aress membuat suasana menjadi hening untuk beberapa detik.
" Bagaimana? Kenapa? Ayah akan memberitahu kamu semua itu pada saat nanti di waktu yang tepat." - jawab Ayah dengan singkat.
".. sepertinya Ibu sudah menyiapkan masakan andalannya untuk hari ini Ress. Apa kamu tak mau mencobanya? " - tanya Ayah sambil tertawa kecil.
" Ayah makan saja semua yang dimasak oleh Ibu ! Sampai perut Ayah meledak. Jegerrr!! " - canda Aress.
" hahahhahaha.... " - lepas tawa keduanya.
"Ayah ! Aress ! Cepat makanannya sudah Ibu siapkan. " - panggil Ibu dengan suara sedikit keras.
" Hah?! Panjang umurnya ! Ibu memanggil kita untuk sarapan Ress. Cepattt sebelum Ibu berteriak lebih keras ." - canda Ayah lagi yang membuat gelak tawa mereka tak terbendung.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB
Ayah dan Aress bergegas meninggalkan ruang tamu untuk sarapan di meja makan.
Ibu yang sibuk mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Ayah dan Aress hanya mendengarkan mereka saja bercanda tanpa henti.
" Aress, kamu harus makan yang banyak supaya badan kamu semakin besar. Apa kamu mau badan kamu semakin mungil seperti hobbit ?" - ujar Ayah sambil tertawa kecil.
" Ayah , teganya kamu membahas hobbit dan di hubung hubungkan dengan Aress." - sahut Ibu yang agak kesal tapi sebenarnya hanya bercanda saja.
Gelak tawa mereka terhenti seketika setelah makanan siap untuk dimakan.
Bagi Aress, relung hati Aress yang pertama adalah Ayah dan Ibunya. Mereka sangat membuat kebahagiaan dalam hidupnya.
Tapi bagaimana jika itu terhenti? Mungkin Tak ada lagi cahaya.
Getir. Patah hati. Hilang.
Dan akhirnya terjadi. Bencana hati.
Masa yang tak pernah di rasakan. Masa yang amat sangat getir. Untuk keduanya.
YOU ARE READING
RELUNG HATI
RomanceAress . Lengkapnya Aress fatya (21) menolak untuk percaya pada jatuh cinta, bahkan tak mau tahu apa itu jatuh cinta. Ibu Ares meninggal 4 tahun silam. Setelah kepergian Ibunya, Ares hanya tinggal bersama ayahnya di suatu kota kecil di Paris, Egui...
