Seorang gadis masih terlelap dengan posisi kepala bertumpu pada kedua tangannya yang ia lipat. Pulpen pun masih tergenggam di tangannya. Gadis ini masih dengan posisi duduk di depan meja belajarnya dengan beberapa tumpuk buku yang ikut memenuhi meja itu.
Drrrrrt drrrrrt.
Getaran handphone membuatnya kaget, bagaimana tidak, handphone tepat berada di depan hidungnya dan bergetar keras karena berada di atas meja kayu. Pelahan ia membuka matanya.
Silau? Jelas silau matahari sudah mulai meninggi. Matanya langsung membola ketika melihat jam si pesan masuk, tidak sempat lagi ia membaca isi pesan itu, ia langsung berlari ke kamar mandi. Jam sudah menunjukkan jam 07.32 waktu Singapore. Usai mandi dan berganti pakaian, ia mengikat rambutnya asal, meskipun terkesan acak-acakan, ia tetap saja cantik. Ia sudah sangat terlambat, jam 08.00 harus sudah berada di ruangan ujian.
5 menit lagi waktu menunjukkan tepat pukul 08.00, gadis ini telah berhasil membuat sopir taksi mengebut di jalanan, syukur saja jalanan lumayan sepi. "Mr. James always on time", gerutunya dengan kaki yang menghentak tidak sabar.
Dosennya yang satu ini memang sangat tegas dan ia harus belajar mati-matian untuk mendapatkan nilai terbaik. Ia melangkah cepat, kelasnya di lantai 2 dan itu akan memakan waktu yang cukup lama jika ia berjalan biasa.
Ah benar saja, Mr. James sudah duduk manis di meja dosen dengan amplop yang berisi soal ujian, rajin sekali rupanya dosen ini, wajar jika dosen ini menjadi dosen terbaik di fakultasnya.
"Put!" Panggil seseorang sambil melambaikan tangan pada gadis yang dipanggil dengan nama depan Put itu. Tanpa pikir panjang ia menghampiri orang yang memanggilnya itu.
"Kebetulan banget nih kita duduk sebelahan. Lo pasti udah belajar mati-matian kan?". Tanya temannya Putri.
Ialah Putri Indriani, gadis yang memiliki prioritas utamanya adalah pendidikan, IP-nya selalu sempurna dan hal itu tidak ia dapat secara spontan, ia belajar mati-matian.
"Ah gue ngantuk banget Ken.." Putri langsung menyambar kursi ujian bernomor 47 dan menelungkupkan kepalanya.
"Eh jangan tidur dong Put, kalo lo tidur nasib kita bakalan kayak kucing malang", jelas Niken teman Putri dengan jujurnya, mungkin hanya Putri lah yang sering jadi pelarian jika teman-temannya sudah tidak dapat berpikir apa yang harus dijawab. Tapi pengecualian untuk mata kuliah Mr. James, suara jarum jatuh mungkin akan terdengar jelas.
Putri berjalan gontai keluar dari kelas, tenaganya sepertinya sudah terkuras habis akibat menulis 5 lembar jawaban essay kali ini.
"Putri.... Lo tau barusan itu apa?" Tanya Niken yang berjalan di belakang Putri.
"Apa?" Tanya Putri malas.
"Itu soal dari dosen apa dari kejaksaan agung sih? Eksekusinya panjang.... Elo tadi kayaknya asyik banget nulis", Niken.
"Gue nulis 5 lembar, gak tau gimana grammar gue", ucap Putri pasrah.
"Kalo jawaban elo sih gue percaya aja kok nyambung, lah punya gue????"
"Udah deh gak usah dipikirin lagi, hari ini final terakhir kita, habis ini kita have fun..", Putri mencoba menyemangati dirinya.
"Iya have fun, kan yayang lo bakalan pulang tuh", ledek Niken.
"Tapi pulangnya Selasa, harusnya kan besok harus udah ada di sini", keluh Putri.
"Duh duh yang udah keburu kangen sama kak Morgan, tapi lo harus ngerti lah gimana sibuknya mahasiswa kayak dia", Niken.
"Iya iya.. Ngeselin lo ceramah mulu", ucap Putri sambil merangkul sahabatnya itu.
Drrrrrt drrrrrt.
YOU ARE READING
LABYRINTH (completed)
FanfictionPerjodohan! walaupun sempat tersesat, hal yang sejatinya milikmu akan tetap jadi milikmu. Labyrinth's Sequel ➡️ READ Camouflage!
