1 - Where it began

3.6K 210 73
                                        

Gema musik yang bertalu-talu itu semakin menggetarkan gendang telinga seiring malam yang kian berjalan menuju puncaknya. Tubuh molek para wanita yang hanya terbalut kain tipis meliuk-liukan badannya di atas lantai yang bercorak seperti papan catur itu, tak ayal para pria kelaparan pun tak sungkan mendekati mereka. Di sudut-sudut ruangan yang gelap, terdengar kecupan atau desahan yang masih terkalahkan oleh nyaringnya musik. Semua orang melepas penat dengan bersenang-senang di tempat itu. Bar.

Kecuali satu orang, mungkin.

Laki-laki dengan penampilan berantakan yang duduk diantara deretan kursi bar yang kosong. Sesekali ia merancu tak karuan, sesekali ia menangis, sesekali meremas rambutnya, dan sesekali ia tertawa terbahak-bahak tanpa sebab. Ia marah, kecewa, sedih, dan putus asa namun tak tahu harus berbuat apa. Ia kehilangan arah. Dunia yang memuakkan ini telah merampas semuanya. Perusahaan bangkrut, ayahnya bunuh diri, ibunya gila karena melihat ayahnya bunuh diri, dan sekarang ia telah menjadi buronan penagih hutang. Laki-laki itu tidak punya apa-apa lagi.

Ia seorang gelandangan.

"Berikan aku 5 botol bir lagi!" Titahnya setelah dia menghabiskan botol yang ke lima.

Sang pelayan itu menggeleng tapi tak mengatakan sepatah katapun, apalagi lancang bertanya. Dia hanya mengangguk. Walaupun sebenarnya ia ingin menghentikan laki-laki yang sudah mabuk berat itu, ia kembali ditampar oleh kenyataan untuk tidak ikut campur dengan urusan pelanggannya.

BRUK!

Sehun dengan mudahnya terjatuh dengan posisi menyamping. Indera perasanya sudah tak bisa ia gunakan untuk menahan senggolan kecil dari seorang wanita yang beberapa saat lalu sempat kehilangan keseimbangan karena sepatu haknya.

"Ah! Maaf tuan." Ujar wanita itu sambil menggigit bibir bawahnya.

Beberapa saat berlalu namun pria yang tak sengaja di senggolnya itu bergeming. Tak ada pergerakan atau tanda-tanda ia akan bangkit. Yang ada hanyalah erangan yang tak karuan. Dengan enggan, wanita itu berjongkok dan membalikan tubuh pria itu dengan kepayahan.

Tunggu...

Wanita itu mengedipkan matanya beberapa kali. Pria ini, apa mungkin ....

Belum sempat ia mengutarakan pemikirannya, suara sang pelayan mau tak mau meletuskan gelembung lamunannya.

"Ah, nona. Apa anda temannya?" tanya pelayan yang berada di depannya. Ia sedikit berjinjit karena keduanya terhalang oleh meja bar.

"Err... ya." Jawabnya ragu sambil mengangguk.

Pelayan itu menghela nafas, merasa tenang karena ia bisa bertemu dengan orang yang kenal dengan pemuda tersebut."Bisakah anda membawa pria ini pulang? Dia sudah lama berada disini. Tadinya saya akan memanggil jasa taksi tapi setelah tahu temannya ada disini sebaiknya anda saja yang mengantarnya nona ..."

"Jiyeon, Park Jiyeon." Wanita yang bernama Jiyeon itu menyela. Tanpa pelayan ketahui sebenarnya Jiyeon tengah merutuki birirnya yang begitu saja mengeluarkan kata 'Ya' tanpa ia pikirkan terlebih dahulu.

Memang benar Jiyeon mengenal pria yang mabuk itu, tapi untuk sampai mengantarnya pulang rasanya sedikit aneh karena keduanya tak pernah bertemu lagi semenjak Jiyeon telah lulus sekolah menengah atas empat tahun lalu.

Tidak. Jiyeonlah satu-satunya pihak yang tahu akan keberadaan pria itu.

Tentu saja semua itu ada alasannya. Semasa sekolah dulu, pria ini adalah cinta pertama Jiyeon. Kegagahannya menyelamatkan Jiyeon dari orang yang berniat menculiknya dulu membuat hatinya terjerat pada laki-laki itu. Pada awalnya Jiyeon hanya mengira hal itu sebagai rasa kagum saja. Namun ia salah. Rasa itu terus tumbuh dan berbunga semenjak ia memergoki pemuda itu selalu tidur di atap sekolah setiap jam istirahat.

Love is A Nightmare ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang