Tragedi Sore itu
Aku adalah siswa SMA kelas 3 MIA 1. Aku memiliki paras cantik seperti ibuku dan aku juga cerdas bahkan aku aku selalu menjuarai Cerdas Cermat Tingkat Nasional. Keluargaku adalah keluarga bersahaja yang bergelimang harta. Namun, sejak kejadian mengerikan itu aku menjadi sosok yang anta-berantah
Sore itu, kudengar ayah dan ibuku bertengkar, berseteru dan saling memaki, tiba-tiba ku dengar suara teriakan ibu yang sangat kesakitan. Sontak ku lihat mereka dengan wajah masamku. Ku lihat….
“Ibu!!!” aku berteriak ketakutan dan merangkul ibuku. “apa yang ayah lakukan! Kenapa ayah tega melakukan ini pada ibu! Apa salah ibu, ayah?!” aku tetap merangkul dan menangisi ibu yang sudah bersimbah darah. “Rissa, maafkan ayah, ayah tidak sengaja melakukannya, maafkan ayah nak. Sungguh ayah menyesal!” ayah menyakinkan apa yang terjadi namun aku tetap menyangkal. “ayah pembunuh! Ayah pembunuh! Ayah pembunuh! Ayah membunuh orang yang sangat mencintai ayah! Ayah membunuh ibu!”. Ayah hanya bisa duduk menangis tersedu-sedu. Lekas ku telpon ambulance dan polisi.
Singkat cerita, ibuku meninggal dan ayahku harus mendekam di penjara seumur hidupnya. Aku tak bisa menerima kejadian itu, aku terus memberontak dan salah jalan. Aku mulai suka bolos sekolah aku suka pulang malam bahkan aku mulai mencoba barang haram. Ya, Narkoba yang biasa orang-orang sebut.
YOU ARE READING
Habis Hina Terbitlah Taubatku
Short StoryRissa adalah anak yang dianugerahi dengan kesempurnaan. Namun sejak tragedi pembunuhan ibunya yabg tak lain pembunuhnya adalah ayah Rissa sendiri, dia mulai berubah menjadi orang yang salah arah. Foya-foya dan Narkoba ada temannya sehari-hari sampai...
