Daniel merapatkan jaket berwarna coklatnya
Sudah dua minggu ia berada di negeri Sakura untuk sebuah liburan, bukan liburan tepatnya, tetapi untuk sebuah penelitian tentang budaya-budaya di Jepang dari universitasnya. Ia tidak sendiri, ia bersama dua orang temannya. Sekarang sudah hampir pukul duabelas malam, dan pukul sembilan pagi nanti adalah keberangkatannya untuk kembali ke Amerika. Maka dari itu, Daniel memutuskan untuk melakukan sesuatu di jam-jam terakhir ia berada di Jepang.
Saat pertama sampai di Jepang, ia mendengar sebuah cerita dari beberapa mulut dan situs internet, bahwa di negara ini ada sebuah permainan ramalan kuno. Permainan itu terkenal dengan sebutan Tsuji Ura atau dalam bahasa inggrisnya adalah Fortune Telling Crossroads. Daniel juga pernah mendengar bahwa tahun lalu, banyak sekali remaja Jepang yang melakukan bunuh diri setelah melakukan permainan ini. Mereka tidak suka dengan hasil ramalannya. Dan hal itu membuat pria berumur duapuluh tahun ini sangat penasaran.
Kedua temannya sudah terlelap sejak pukul sepuluh tadi, setelah membereskan barang-barang untuk kepulangan mereka ke Amerika. Daniel bergerak sangat perlahan menuju meja rias, tidak berniat membangunkan mereka. Ia membuka laci dan meraih sebuah sisir berwarna merah. Permainan ini membutuhkan beberapa objek, diantaranya sebuah sisir dan sesuatu yang bisa menutupi mata. Setelah itu Daniel meraih syal berwarna biru muda di atas koper temannya. Bukan miliknya, tentu saja. Ia segera memutar asal syal itu di lehernya dan memasukkan sisir ke dalam saku jaketnya.
Daniel menatap jam di pergelangan tangannya, pukul sebelas lewat limapuluh dua. Itu artinya hanya delapan menit lagi sebelum tengah malam. Daniel bergegas keluar dari kamar penginapan itu dan berlari menuju jalanan sepi di luar sana.
Ia sudah memantapkan hatinya untuk mengikuti permainan ini. Walau ada sedikit rasa takut, namun ia tetap memberanikan diri. Daniel memperlambat larinya dan membiarkan napasnya sedikit teratur. Ia melirik ke arah jam-nya, tiga menit lagi. Daniel menyeka keringat di dahinya dan akhirnya berhenti di persimpangan jalan yang tak jauh dari penginapannya.
Begitu sepi.
Ia berdiri di tengah persimpangan jalan seraya mengatur napasnya. Tentu saja permainan ini harus dilakukan di tempat yang sepi, yang jarang dilalui orang-orang. Sekitar satu menit lagi sebelum tengah malam. Orang Jepang percaya bahwa hantu dan arwah orang yang sudah mati sedang berjalan di sepanjang jalan pada malam hari. Mereka juga percaya bahwa hantu dapat ditemukan di persimpangan jalan dan menyamar sebagai manusia. Tentu hal itu sudah bisa menjawab mengapa Daniel merasakan dingin di punggungnya sementara keringat turun dari pelipisnya.
Dan sekarang pukul duabelas tepat.
Daniel menelan ludahnya dan menatap sekeliling. Benar-benar sepi. Penginapannya tidak berada di jalur kota yang padat dan ramai. Tentu saja ia tidak akan menemukan kendaraan ataupun orang yang melintas di sini. Setelah menarik napas, Daniel meraih sisir dari dalam saku dan membuka telapak tangan kirinya. Perlahan, Daniel mengusapkan sisir itu di telapak tangannya beberapa kali. Mengikuti cara permainan ramalan ini. Dan ia harus seraya mengucapkan mantra.
"Tsuji Ura… Tsuji Ura…" Daniel menelan ludahnya kembali, "Tsuji Ura… beritahukanlah ramalan masa depanku secara benar dan tepat."
Dan setelah itu Daniel menarik syal di lehernya, naik ke arah matanya dan menutup matanya dengan syal itu.
Dan hal yang setelah ini harus ia lakukan adalah menutup matanya secara rapat dan menunggu. Menunggu ada sesuatu yang melintas di dekatnya. Ia hanya perlu menajamkan indra pendengarannya, jika langkah kaki yang harus tertangkap olehnya. Atau hanya hembusan angin dingin.
Ia harus menunggu.
Detik berlalu begitu lama untuk Daniel. Kakinya sedikit gemetar, ia merasa takut. Namun ia sudah terlanjur mengikuti permainan ini. Maka dari itu ia harus menyelesaikannya.
ESTÁS LEYENDO
Urban Legend × produce 101 s2
TerrorUrban legend dari seluruh dunia tapi di sini main cast nya saya ubah jadi anak anak produce 101 season 2.
