Payung dan Kupu-Kupu

137 8 2
                                        

[Saya hanya sedang belajar tentang #surealisme dan juga tidak yakin apakah ini termasuk didalamnya atau tidak. Yang saya tahu, saya menikmati mengetik ini. Haha]

- - -

Derai tawa membahana di jalan setapak. Tanah becek dan kotor dari ujung ke ujung. Peristirahatan disisi kanan hening juga rel kereta api yang tenang tak bergeming.

Satu payung hitam dan satunya kupu-kupu. Berlarian dikejar tetes embun. Semakin cepat semakin riang. Semakin lambat maka tertawa. Kecipak air kesana kemari. Kepik emas ikut berlomba dengan jangkrik.

Berlawanan arah datang nenek tua dengan tongkatnya. Tertatih menyebrang haluan. Bola matanya membulat lalu menutup. Membentuk bulan sabit yang cantik.

"Cucu-cucuku, kenapa kalian masih disini?" Tanyanya rapuh.

Empat kaki kecil berebut tempat. Gerimis semakin deras, si payung kebasahan. Satu kaki berjinjit. Menyalami nenek dengan tongkat.

Helaian daun menabrak kaki senja nenek, menggesek dan berlalu. Empat kaki kecil masih berebut. Kupu-kupu menangis. Ia tak mau pulang. Sepi, katanya.

Tangan keriputnya terangkat. Membelai embun yang basah. Wajah tuanya terlihat lelah. Sedih, bahagia dan sendu.

"Pulang cucuku, istirahat dengan tenang." Suaranya bergetar, langit terdengar pilu.

Empat kaki kecil pergi, keujung lapangan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 02, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kumpulan Fiksi Surealisme Stories to obsess over. Discover now