1.

1K 48 4
                                        

Hogwarts tahun ke 6, tahun dimana Harry, Hermione, dan Ron sudah menjadi senior di Sekolah Sihir mereka. Hermione Granger beruntung terpilih menjadi ketua murid perempuan. Pada awalnya Hermione sangat senang, namun semua berubah karena dia tahu bahwa yang menjadi ketua murid laki-laki adalah Draco Malfoy.

Ya, Draco Malfoy yang pirang dan sombong itu, dipilih untuk menjadi partner untuk Hermione, musuhnya. Dan itu berarti, Hermione harus berbagi kamar dengannya. Kalau kau tak tahu, Hermione benci sekali pada Malfoy. Draco selalu mengatainya mudblood, bersikap angkuh, dan semacamnya. Mimpi buruk bagi Hermione. Hermione makin merasa kesal ketika ia mengingat kembali bagaimana Draco selalu menatapnya dengan tatapan jijik. Dia sendiri juga bingung kenapa dia harus menjadi partner si Pirang Uban itu. Tidak ada satupun orang yang membenci Draco melebihi dirinya sendiri.

Hermione juga ingat bagaimana ia ditahun ketiga memukul wajah Draco. Dan jujur saja membuat Hermione merasa sangat puas. Puas karena ternyata dia bisa melawan Ferret Keparat itu. Mengingat Draco selalu menghinanya mudblood dengan mulut kotornya itu.

Diruang rekreasi Gryffindor, Hermione tengah duduk dit Sofa bersama sahabatnya, Harry dan juga Ron. Sedari tadi wajahnya ditekuk menandakan sedang kesal sekaligus frustasi. Harry yang sedari tadi memperhatikan Hermione sendiri sudah tahu apa yang membuat sahabatnya itu kesal sepanjang hari semenjak pengumuman siapa yang akan menjadi partner nya. Wajahnya masam, sama seperti ketika Harry dan Ron menyeretnya ketika sedang asyik membaca buku diperpustakaan.

"Sudahlah"

Harry menepuk-nepuk pundak sahabat perempuannya itu. Dari tadi Hermione menunjukan wajah kesalnya didepan sahabatnya. Dia masih berpikir soal berbagi kamar dengan si musang pirang, alias draco malfoy.

"Kupikir kau bisa akrab dengannya, mione" ujar Ron. Hermione membelalakkan matanya, melotot kearah Ron.

"Akrab? Akrab katamu?"

"Sabar, sabar" Ron agak takut ditatap seperti itu oleh Hermione.

"Aku juga tidak suka dengan malfoy tapi, apa boleh buat?" tambah Ron. Harry mengangguk angguk tanda setuju.

"Kau benar, apa boleh buat?" ujar Hermione dengan nada tidak puas, kemudian menghela napasnya. Hermione bangkit berdiri, menuju kamarnya. Dia merapihkan barang-barangnya, dan memasukkannya kedalam koper. Sekarang dia akan pindah ke kamar ketua murid. Hermione memastikan buku-buku dan bajunya muat dalam kopernya. Setelah itu Hermione menuruni tangga sambil menggiring kopernya. Ron dan Harry yang sedang mengobrol kemudian menoleh kearah Hermione yang sedang berdiri dengan memegang kopernya.

"Kami bantu?" tawar Harry saat melihat Hermione.

"Tidak usah, tidak apa-apa" tolak Hermione.

Harry tersenyum kemudian memeluk Hermione, begitu juga Ron.

"Aku akan sangat merindukanmu" kata Harry. Hermione tertawa mendengar apa yang baru saja diucapkan Harry, merasa hal itu aneh.

"Kau ini kenapa Harry?" Hermione tertawa lagi.

"Aku hanya pindah asrama, bukannya keluar negeri. Kita masih satu sekolah, kau lupa?"

Harry tersenyum.

"Mungkin terdengar berlebihan, tapi tetap saja, aku pasti akan merindukan saat kita bertiga mengobrol disini, di ruang rekreasi. Aku pasti akan merindukan bagaimana dengan galaknya kau mengajari kami Arithmancy" kata Harry yang kemudian disambut kekehan Hermione dan Ron.

"Dia benar, kami pasti akan merindukanmu di asrama Gryffindor, Hermione" tambah Ron. Hermione tersenyum dengan sedikit sedih kearah Ron kemudian Harry. Tangannya kemudian menepuk nepuk pundak Harry dan juga Ron.

HeadsWhere stories live. Discover now