Satu

7 1 0
                                        

Aku dan dia yaitu Revan dan Reska dua insan yang berpasangan sudah bertahun-tahun namun hanya sebatas sahabat. Iya mereka hanya sebatas sahabat yang selalu menghabiskan waktu bersama namun tanpa ada hubungan yang special. Aku Reska perempuan yang sudah memendam rasa begitu lama hanya bisa diam dan menunggu Revan bisa membalas semua ini.

"Memang mudah mempunyai sahabat Laki-laki karena mereka jauh lebih mengerti perasaan perempuan. Namun terkadang sulitnya itu ketika harus terjebak cinta, sulit memang ketika kita tau bahwa kita sudah bersamanya namun tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk bersamanya pun mungkin akan sangat sulit dan akan kecil harapannya"

Suatu hari dimana aku dan dia akan mendaftar sekolah Menengah Kejuruan, tapi sayangnya kita harus berbeda sekolah. Sebal rasanya ketika harus jauh dari dia. Aku iri dengan perempuan-perempuan yang melihat dia pertama kali setelah ibunya.

Namun aku tidak bisa melarangnya biarkan dia mengejar impiannya sendiri yang terpenting setelahnya dia akan bersama ku lagi selamanya.

Pagi itu aku sempatkan untuk bertemu dengannya. Aku memberikan sedikit motivasi untuknya dan dia memberikan semangat untuk ku.
"Udah siap nih?". Lihat ini pagi-pagi saja aku sudah di tatap oleh laki-laki yang bukan muhrimku namun aku mencintainyaa.
" InshaAllah aku siap, kamu juga harus siap ya memang banyak pesaing tapi optimis itu lebih penting". Jawabku sambil malu-malu untuk menatapnyaa.
"Iyaa aku selalu ingat pesan Reska. Kamu semangat juga ya".
Aku hanya tersenyum kecil karena apa yang dia ucapkan tidak seperti biasanyaa...

Aku dan Revan melanjutkan untuk pergi mendaftar sekolah. Jarak yang lumayan jauh membuat kita harus berbeda kendaraan.

Andaikan lelaki itu tau perasaanku. Mungkin perlahan dia akan menjauhi ku karena memang tidak sepantasnya kita terjebak cinta persahabatan seperti ini.

Aku sudah selesai Test dan Alhamdulillah hasilnya aku diterima disekolah tersebut. Senang rasanya impiannya ku bisa terwujud masuk sekolah yang sudah aku idamkan selama smp ya meski ada sedihnya juga ketika aku dan Revan harus berbeda sekolah.

Aku menunggu kabar dari Revan. Karena hasil test dia juga bakal di umumkan langsung.

Benar saja belum lama aku menunggunyaa terdengar suara dering dari handphone ku. Ternyata ada sms dari Revan.
"Aku tunggu kamu diluar sudah mau hujan nih".
Seketika aku terkejut ternyata lelaki yang aku cintai sudah menunggu di luar rumahku. Dia memang terkadang aneh kelakuannya kadang menjengkelkan juga tanpa janji dan bilang terlebih dahulu dia tiba-tiba datang kerumahku. Orang tua ku sudah mengenal baik Revan. Dan orang tua ku pun tau bahwa aku dan dia hanya sekedar teman dekat saja.

Akupun melihat penampilan ku dikaca dan sedikit mempercantik diri. Setidaknya aku harus terlihat cantik di depan jodohku nanti.
"Apa jodoh sudah mikir kesana saja" jawabku sambil senyum-senyum.

Satu dua langkah aku meninggalkan kamarku untuk pergi keluar menemui Revan.

Belum sampai di luar ada mamah dan adik ku yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Mau kemana ka?" tanya adikku yang melihatku berjalan menuju keluar.
"Keluar mau ketemu ka Revan". Jawabku sambil terburuburu. Langkahku terhenti lagi.
"Loh ada Revan kenapa ga langsung masuk aja dia diluar?". Iya mamah kalo soal Reva  pasti sensitif dia udah tau kalo Revan yang saat ini lagi deket sama gue walapun cuma sebatas sahabat aja.
"Baru datang ko mah , aku keluar dulu ya". Aku melanjutkan langkahku untuk menemui Revan diluar.

Rasanya dag dig dug , selalunya seperti itu ketika aku bertemu dengan Revan entah mengapa akupun tak tau.

"Ehmmm". Aku basi-basi gitu ngeliat dia yang lagi sibuk mainin handphone.
"Eh Reska". Jawabnya dengan nada suara bahagia.
*Seketika aku terdiam*
"Aku diterima ah rasanya senang sekali". Lelaki tersebut kegirangan di depanku. Aku hanya tertawa melihat tingkah laku lelaki itu.
"Yaampun lu ihh lebay banget sih biasa aja dong"
"Kamu ga seneng liat aku diterimaaa ya". Revan malah salah paham. Padahal disitu ada Papah yang baru pulang kerja tepat dibelakang nya.

Aku hanya menatapnya lalu membelokan tatapanku ke belakang.
" Apaaa? Kenapa sih kamu?".
Dia masih belum sadar jugaa . entah itu anak emang lagi kesenengan banget atau gimana sampe dia segitunyaa.
"Ehmmmm". Terdengar suara dari belakang Revan dan dia kaget wkwk.
" Eh Om".

Haha aku rasa Revan malu sampe tiba-tiba diem ga berkutik sedikitpun. Papah juga cuma ketawa kecil dan lanjut masuk ke ke rumah.

"Mangakannya jadi orang jangan berlebihan banget sih".
"Iyaiya aku minta maaf". Haha dia malah jadi murung sedih gitu wkwk.
"Ih tuhkan suka gitu haha" . ga berhentinyaa gue ketawain itu anak.
"Habisnya kamu matahin semuanyaa sih. Apa kamu mau lagi bahagia-bahagia terus dipatahin gitu sakit tau"
"Loh ko malah curhat".
Makin gabisa nahan ketawa dia selalu nya kaya gitu.

"Udah dong gantengnya ilang loh"
"Ih apaan maaf ga kegoda ya".
"Oh jadi gitu nih yaudah aku masuk aja ya".
"Eh eh jangan dong iyaiyaa maafya"

Iyaa dia emang aneh kalo lagi seneng yaa melebihi orang gila wkwk.

Dua jam lamanya kita ngabisin waktu ngobrol. Ga kerasa apa aja yang di omongin dia selalu nyambung dan bikin nyaman.

Karena kita besok harus nyiapin persiapan buat nanti Mos dia pamitan pulang.
"Aku tinggal pulang ya".
"Iyaa gausah lebay udah sono pulang dah".
" Baku banget bahasanya wkwk".
"Nahkan giliran gue bilang aku kamu salah , giliran gue gabilang ga enak serba salah".
" uuuuu iyaiyaa maafin iyaa aku pulang ya".
"Iyaaaiyaa".

*Bahkan setelah bertemu lalu dia mulai meninggalkan ku. langkah demi langkahnya aku hitung dan sudah berapa banyak rindu yang dia tinggalkan* bahkan ditinggalkan sementara saja rindu sudah mulai menghantui wkwk.

" Senang rasanya ketika dia tertawa bahagia. Tertawanya adalah bahagiaku. Selalu terbenak dalam otak ku bahwa aku harus jadi salah satu sumber kebahagiaan untuknya"

Half TimeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang