Negri terbaik adalah negri yang mampu membawa kita kepada keabsahan. Pun jika kita berada dalam negri yang hingar bingar maka perkokohlah bentengmu.
Tak ada kehidupan yang selalu menempati posisi terbaik dan zona nyaman karena hidup adalah proses maka geluti dan lewati.
Hari yang penuh sejarah dimana aku akan berhijrah dari tempatku sekarang. Yah pertukaran santri adalah moment yang sangat aku nantikan
"Zidan, berkemaslah hari ini abi akan mengantarmu ke pesantren Boyolali"
"Enggih bi"
Rasa janggal kian menjelma dan bersemayam dalam attarku. Aku takut aku tak bisa membawa kebaikan yang pernah diajarkan abi di pesantren. Akhhhh biarlah apapun skenario Allah aku akan menjalaninya.
Setelah 3 jam perjalanan akhirnya sampailah di pesantren Boyolali. Kulihat sekelilingku penuh dengan ketandusan, kulewati jalanan terjal yang begitu gersang dan hiruk piruk. Tapi ini adalah wasilahku untuk belajar agama. Bismillah semoga engkau meridhoi.
Abi menitipkanku di Kyai Ghoffar dimana ia adalah seorang kyai yang matsur, ia adalah kyai yang selalu berdzikir dimana yang terdengar dalam alunanannya adalah Sholawat Nabi. Setelah lama berbincang tibalah abi bergegas kembali ke asal pesantren. Setelah Abi kembali, aku duduk terdiam bersama Kyai Ghoffar. Ia tidak berbicara sedikit pun, yah rasanya berbeda ketika ada Abi tapi aku tak akan berburuk sangka. Ketika suasana hening dan termenung, tiba-tiba banyak orang berlarian diluar rumah. Sebagian orang menangis dan sebagian orang meronta-ronta. Aku tertegun, Kyai Ghoffar tetap saja diam, dalam keadaan tersebut aku bergegas keluar untuk bertanya.
"Punten saya mau bertanya, kenapaa bapak berlarian kesana kemari dan sebagian orang menangis meronta"?
"Di desa ini sudah 2 bulan kekeringan, kami kehausan dan kelaparan, semua tanah tandus dan gersang sedang saat ini banyak orang yang mengalami musim paceklik"
Aku termenung sembari mengingat nasehat Abi, yah yang perlu dilakukan saat ini adalah bersholawat, beristighfar serta sholat istisqo akbar.
Aku langsung bergegas menuju Kyai Ghoffar dan ternyata Kyai Ghoffar tak ada dikediamannya. Aku pun berlari mencari beliau. Sepanjang pencarian itu tak henti aku alunkan Sholawat Nabi.
Aku tak tahu arahku kemana yang pasti aku harus menemui Kyai Ghoffar. Kulihat banyak orang berdesakkan di depanku ternyata di situ ada Kyai Ghoffar. Yah upacara kesejahteraan atau nama lainnya adalah seserahan tumbal. Kulihat Kyai Ghoffar tengah mencegah anak belia yang akan dikorbankan. Dari sisi utara dengan serentak orang-orang berbicara dan mencaci-maki Kyai Ghoffar untuk menghentikan aksi nekat pencegahan seserahan itu, dan dengan seketika semua orang terdiam tanpa berkutik setelah Kyai Ghoffar dengan gigih melantunkan Sholawat Nabi. Dengan sekejap mereka terdiam dan tunduk. "Silahkan nak Zidan bicaralah apa yang akan kau sampaikan". Aku terbelalak ternyata Kyai Ghoffar tahu maksud dan tujuan yang saya fikirkan tadi. Aku gemetar menyaksikan kejadian ini tapi aku harus sampaikan problem yang tengah melanda desa ini.
"Wahai penduduk yang tengah di uji keimanannya. Bersabarlah karena saat ini Allah tengah menguji kita, yang perlu kita lakukan adalah membaca Sholawat Nabi dengan beristigfar serta sholat istisqo akbar agar permasalahan yang tengah kita hadapi akan berangsur membaik"
"Besok ba'da Dzuhur kita kumpul di lapangan" Sambung Kyai Ghoffar
Setelah kejadian itu aku tak berani bertanya apapun kepada Kyai Ghoffar.
Hari berganti. Dzhur pun berkumandang. Kulihat banyak orang yang berbaju compang camping menuju lapangan pun dengan peternakan yang dimiliki dibawa ke tanah lapang.
"Monggo nak Zidan kamu yang memimpin"
Aku langsung menolak, rasanya tak pantas jika aku mendahului Kyai Ghoffar yang ilmu agamanya sudah melebihi rata-rata. Meski aku menolak dan tertunduk Kyai Ghoffar tetap memaksaku untuk memimpin sholat istisqo. Dengan hati yang mencoba khusyuk aku serahkan padamu Rabbku.
Setelah sholat usai. Semua orang bercucuran air mata sembari mengalunkan sholawat nabi dengan nada yang lirih. Mereka sangat merasakan kepedihan yang tengah melanda, mereka meminta maaf dengan pengharapan yang begitu besar. Karena sejatinya pengabul handal doa kita hanyalah DIA semata.
Setelah sholat, sholawat dan lantunan istigfar dilantunkan tiba-tiba gemuruh halilintar terdengar, awan pekat mengibas dan merata seraya hujan akan berjatuhan. Semua orang tersenyum dan bersyukur serta bersujud kepada_Nya. Kulihat kebahagiaan bergeming. Para warga tertawa dan berlarian karena kegirangan. Di antara kebahagiaan itu kulihat Abi tengah berjalan menuju Arahku dengan wibawa yang penuh pesona dan anehnya ia tak kehujanan kulihat seperti perisai yang melindungi tubuhnya,
"Zidan, Abi nitip Sorban ini" sembari memakaikan kepundakku.
Ketika aku menoleh kebelakang tiba-tiba Abi tak nampak lagi. Dan seketika itu aku mendengar khobar bahwa Kyai Ja'far Sodik atau Abi telah tutup usia. Aku langsung tumbang air mataku berjatuhan, dan sorban ini? ternyata ini adalah wasilah Abi agar aku memperdalam ilmu kepada Kyai Ghoffar, agar aku bisa mengemban Amanahnya. Airmataku terus bercucuran tiada henti, kuingat semua kebersamaan ketika dipesantren bersama beliau, yah semangat dalam attarku untuk mengemban amanah itu tak akan padam. Aku akan berusaha membuat Abi tersenyum padaku.
Buah Pena
Aisyah
YOU ARE READING
LILLAH
SpiritualSetiap kehidupan pasti mempunyai jalan cerita yang berbeda perihal cita, cinta, mimpi dan target semuanyaa tak luput akan Kuasa_Nya
