Sore itu aku berdiri didepan sebuah pintu kamar kost, dulu aku sering kesini untuk sekedar menghabiskan waktu bersama beberapa kawan lainya. pintu kamar itu tertutup rapat, namun aku bisa mendengar jelas suara-suara didalamnya. Suara yang membuat ku merasa sakit, marah, benci dan sejenisnya. Meski, entah aku harus melampiaskan rasa marah ini pada siapa. Jelas suara-suara itu membuat ku merasa begitu sakit meski tak berdarah atau bernanah, tapi ini begitu sakit.
Anjing! Maki batin ku yang semakin merasa marah. Sore itu sebenarnya sore yang indah dikota ini, hingga kudapati kenyataan menampar keras tepat wajahku. Sedari tadi aku mendengar berkali-kali desahan yang menjijikan, setidaknya untuk ku. Desahan itu tepat dari dalam seorang kawan, sahabat, sekaligus rekan dalam pekerjaan atau tepatnya ia adalah orang yang ku percaya mengelola bisnis ku selama ini ia adalah Fadly. Dan suara wanita didalamnya aku kenal percis suara itu, bisa ku pastikan itu suara Cindy, pacarku.
Entah sudah berapa lama aku mematung disini, semakin lama semakin sakit. Namun aku juga tak bisa melangkah menjauh dari sini, sedangkan pikiran ku berputar-putar tentang sosok mereka berdua. Dan takdir membawa ku kesini, menghadapku pada setiap penghianatan mereka.
Berselang beberapa waktu, suara-suara menjijikan itu tak lagi ku dengar. Mungkin mereka telah selesai, ah! membayangkan apa yang mereka lakukan didalam membuat ku semakin merasa begitu sakit dan marah. Dan tak lama aku pun mendengar fadly meminta ijin pada cindy untuk keluar, ke sebuah minimart sepertinya.
"Heh! Bangsat! Mau ngeroko? Nih!!" Ucap ku sambil melemparkan rokok yang masih menyala, dan tepat mengenai tubuhnya, fadly sontak kaget mendapati aku berdiri didepan pintu kamar kostnya."Lain kali kalo ngentot suaranya pelanin dikit biar kagak ketahuan, oke!" tambah ku pada fadli.
Dengan mimik muka panik cindy berlari menghampiri ku, sambil sesekali sibuk merapihkan rambut dan bajunya yang terlihat kusut itu. "Eh, sayang... kok ada disini? dari kapan saya?" tanya cindy. Aku hanya menatap cindy lewat ujung mata ku tanpa menjawab pertanyaan nya. "Ehhh.. rey! gua bisa jelasin rey..." sahut fadli. "Jelasin? hahaha tai lah! basi cok!" jawab ku spontan.
"Well, guys! gue pamit yak, sory nih udah bikin suasana kalian jadi ga enak gini... lanjut aja deh kalian..." lanjut ku pada mereka yang terdiam. Aku melangkah menjauh dari mereka sebelum cindy mengejar dan meraih tangan ku. "Sayang, dengerin dulu..." ucap cindy sambil menahan langkah ku. Aku tersenyum kecil sambil melepaskan tangan cindy dari tangan ku, "Sayang? kesayangan lu bukan gue cin tapi itu si anak anjing itu tuh! udahlah..." jawabku sambil menatap fadli dengan penuh benci.
Aku melanjutkan langkah ku meninggalkan mereka menuju mobil ku, kost fadli waktu itu kebetulan baru beres renovasi bangunan dan menyisakan beberapa bahan bangungan dipingir-pingir parkiran. Spontan, aku mengambil sebuah batu bata di sampingku waktu itu.
Craaaakkkkk!
Aku melemparkan batu bata itu tepat ke kaca depan mobil fadli yang langsung pecah. Tak lama aku segera memacu mobilku meninggalkan tempat ini, tempat yang dulu sering kupakai untuk menghabiskan waktu untuk berbagi cerita, berbagi batangan rokok dengan kawan lain atau sekedar berbagi segelas kopi. Namun seketiak, sekarang menjadi tempat yang ku kutuk untuk tak pernah lagi aku menginjakan kaki kesitu.
***
Aku memacu mobil ku cepat sebelum akhirnya terjebak macet dijalanan kota ini, orang-orang itu berlalu lalang memenuhi jalan kota sambil terburu. Mereka seperti berpacu satu sama lain untuk lebih dulu mencapai rumah masing-masing.
Aku tak tahu akan kemana sore itu, senja sebentar lagi jatuh menuju gelap. Hari yang terang perlahan padam menuju malam, dan sebentar lagi mentari akan bertuka posisi dengan bulan untuk bergantian menerangi bumi. Bumi yang diinjak dengan keserakahan, dengan ego, dan dengan setiap nafsu manusia.
Lagu yang ku putar senja itu sangat cocok dengan suasana merah ini, tak malu aku berteriak ikut menyanyikan penggalan-penggalan lirik mereka.
Trust me i know
when you look at me
You see nobody at all!
And for the first time i can say that im proud to be
Nobody att all!
Bersambung
YOU ARE READING
For The Better Times
RomanceHidup memang sebuah teka teki, hari ini tercipta atas masa lalu yang diperjuangkan, dan esok adalah sebuah cerita yang tercipta atas hari ini. Dan untuk setiap kegagalan serta setiap kesakitan, semua itu tidak lebih dari sebuah proses, entah itu unt...
