Erga tergesa, dia yakin jika jadwal kuliahnya tidak sepagi ini dan ingin menangis rasanya jika mengingat Dosen yang mengajar mata kuliah kali ini tidak masuk. Tiba-tiba saja pagi buta ketua kelasnya memberi kabar bahwa jadwal kuliah Statistik II digantikan oleh asisten Dosen yang kebetulan Senior mereka dan itu dimulai pukul tujuh pagi tepat, Erga baru membuka mata jam tujuh lebih delepan menit dan ia pasti terlambat.
Erga bukan mahasiwa yang suka terlambat, ia menghargai waktu, hanya hari ini saja ia sedang apes karena jadwal yang seharusnya dimulai jam sembilan pagi, harus maju dua jam lebih awal. Doa Erga hanya satu bahwa Asisten Dosen tersebut tidak semenyeramkan Dosen aslinya.
"Aduh!" jerit Erga spontan karna terjerat tali sepatunya sendiri, Erga hampir tejungkal dan kunci motor yang ia genggam jatuh tergeser jauh kemudian masuk kedalam saluran irigasi, Erga mengerang kesal dan berpikir jika sebentar lagi ia pasti gila, seperti jatuh tertimpa tangga, tangga bertingkat pula.
Tapi Erga juga tidak punya banyak waktu untuk mengeluh karna kelasnya sudah dimulai dari satu jam lalu, Erga sampai tidak mandi terlebih dahulu agar dapat menyusul jam mata kuliah ini, Erga bangkit dan meratapi kunci motornya yang terongkok didalam saluran air yang sudah kering itu, 'Sabar dulu, nanti aku kembali untukmu,' kira-kira seperti itu yang Erga gumamkan.
Setelah berjanji untuk kembali lagi menjemput kunci motornya, Erga kembali berlari mencari ruangan dimana kelasnya dimulai, tapi sialnya lagi kelas itu sudah ditutup, dikunci pula, Erga tidak menyerah, mencoba membukanya dan mengetuknya beberapa kali mencoba memita belas kasihan penghuni kelas, tapi tidak ada tanda-tanda dibukakannya pintu kelas itu, Erga lelah, nafasnya saja belum normal kembali jadi Erga merosotkan tubuhnya dibawah pintu dan mengatur nafasnya yang masih tidak teratur.
"Telat?" Erga mendongak, menatap Denis, teman satu fakultasnya, tapi berbeda jurusan, Denis baru datang dan melihat Erga terongkok seperti mati enggan, hidup tak mampu.
"Jadwalnya ganti seenak pantat." Denis tertawa, lebih tepatnya terpingkal melihat reaksi Erga yang nampak sudah setengah nyawa.
"Yaudah sih, bolos sekalian." Erga merengut, Denis ini tidak tahu sejarah panjang absensinya untuk mata kuliah ini, jadi ucapannya juga seenteng kaleng minuman.
"Aku udah absen tiga kali." Ucapnya bertambah patah semangat, Denis menggeleng prihatin, tidak biasanya Erga dapat memanfaatkan kesempatan absensi sampai serutin ini dalam pertengahan semester.
"Kok tumbenan sih." Denis lantas jongkok, merasa kasihan juga jika Erga terus mendongak untuk berbincang dengannya. "Ikut organisasi aja enggak, bisa gitu absensi ilang tiga, awal semester pula." Erga menghela nafas untuk kesekian kalinya, masih mengatur nafasnya yang belum juga stabil akibat naik tangga tiga lantai dengan berlari, ia lupa fungsi fasilitas lift dikampus karena saking takutnya.
"Pulang kerumah." Jawab Erga ketus yang justru membuat Denis tergelak tidak tahu diri. "tau kan pak Tito itu suka kosong terus diganti hari pas aku pulang." Denis menghentikan tawa laknantnya, tau betul kalau Erga adalah sebatang kara disini, dan anak ini tidak betah jika terus berada didalam kontrakannya.
"Terus gimana kamu ngejar absensi kamu, udah empat sama ini kan, gak yakin Pak Tito mau lolosin kamu ikut ujian." Erga mengangkat bahu, ikut merasakan kebingunan, Erga bahkan belum sampai berfikir untuk meminta ijin ujian, toh masih pertengahan semester.
"Pikirin ntar lah." Denis menonyor kepala Erga, merasa Erga terlalu santai padahal masalah Pak Tito itu masalah serius, beliau adalah dosen yang maha sempurna, tidak akan selesai dengan cepat hanya dengan pikir entar.
"Kalo gak lulus ngulang lo kamu." Denis menakuti Erga, berharap anak ini sadar diri untuk berusaha lagi, mata kuliah pak Tito tidak dapat dipandang remeh untuk otak sedang seperti Erga.
YOU ARE READING
Elegy
Teen FictionErga Adhyasta Pranata, mahasiswa manajemen yang terpaksa harus berurusan dengan Leo Gavin Narendra, asisten dosen pengampu mata kuliah statistik Karena data 'siluman' buatannya menjerumuskan Erga pada si agung Leo. Tidak tanggung-tanggung. Masalah s...
