Guanlin | one shot

68 9 13
                                        

Aku mengepalkan tanganku kuat kuat sambil melihat pemandangan didepanku ini.
Dua orang yang tidak tahu malu sedang bercumbu didepanku.

Apa katanya? Urusan penting? Jadi urusan itu adalah berciuman dengan sahabat pacarnya sendiri?

"Sialan kau, Guanlin." Mendengar kata kataku, Guanlin langsung melepas ciumannya. Sudah kuduga. Aku tersenyum sinis kearah Sejeong. Sahabat, pantatmu.

"Dia yang memulainya-" kata katanya langsung terpotong dengan hentakan Sejeong. "Apa maksudmu?! Jelas jelas kau yang memulainya! Kau bilang Sooyeon tidak akan tahu! Aku sudah memperingati-"

"Sialan kalian semua." Dengan itu aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Aku kuat, aku tidak akan menangisi pria brengsek macamnya. Air mataku akan terbuang sia sia.

Aku harus kuat, tak perlu menangisi orang brengsek, kalau aku menangis, tandanya aku kalah, tidak boleh menangis.

Namun, ucapan dan hatiku tidak sejalan, aku yang selalu berucap tidak akan menangis, tetapi nyatanya air mata sudah membanjiri pipiku.

"Sialan Guanlin, sialan Sejeong. Sialan, sialan, sialan." Lututku melemas, serasa tidak bisa berjalan. Aku terdiam dijalanan sepi ini.

Awalnya kukira tak ada mobil lewat sini, sampai..

BRAKKKK

•••

Aku tersentak dan terduduk dikasur. Guanlin melihatku dengan khawatir, "Kenapa? Kau mimpi buruk?"

Ia mengelus puncak rambutku dan menunjukkan raut muka khawatirnya. "Iya, mimpi buruk."

Ia tersenyum dan mendekapku dipelukan hangatnya. Ternyata semuanya hanyalah mimpi. Guanlin yang berselingkuh, juga aku yang tertabrak, itu hanyalah mimpi.

"Apa mimpi burukmu itu? Mau cerita?" Ia melepas dekapannya dan tersenyum manis kearahku. Matanya menatap mataku dan pipiku berubah jadi merah.

"Tidak, hanya mimpi bodoh." Ia terkekeh dan mengacak rambutku. "Yasudah sana mandi, kau harus siap siap."

Aku langsung beranjak dan pergi kekamar mandi. Seusainya mandi dan ganti baju, aku mendapati note di meja

Maaf aku pergi duluan, ada urusan yang sangat penting :)

Love, Guanlin

Aku tersenyum sambil melihat note itu, dan langsung mengambil mantel lalu pergi untuk membeli starbucks didekat sini.

Ramai sekali. Starbucks sangat ramai di hari Minggu ini. Kuputuskan untuk pergi kekedai dekat sini saja.

Sesampainya, aku menemukan wajah yang tak asing. Itu, Guanlin kan? Demi apapun aku merasakan déjà vu saat ini. Aku seperti pernah melihat adegan ini sebelumnya.

Kini aku melihat Sejeong sedang berjalan kearahnya. Mereka berdua berjarak sangatlah dekat, dan akhirnya kedua bibir mereka saling bertautan.

Sialan.

"Sialan kau Guanlin." Guanlin langsung melepas ciumannya, "dia yang memulainya-"

"Keparat kalian semua." Aku langsung pergi meninggalkan mereka. Air mataku sudah membanjiri pipi sedari tadi.

Tetapi seperti ada sesuatu yang mengganjal. Aku seperti sudah pernah melalui ini semua. Mimpi. Ya, ini sama persis seperti mimpiku.

Sekarang aku berada dijalanan sepi, lalu apa yang terjadi setelah ini?

Aku terdiam, dan aku baru menyadari adegan selanjutnya adalah aku menjadi korban tabrak lari.

Tapi takdir, memanglah takdir. Aku terlalu lama mengingat, sampai sampai mobil itu sudah melaju mendahului ingatanku. Kini aku hanya bisa tersenyum melihat tubuhku yang bersimbah darah ditengah jalan.

xxx

heuheu
bosan saya

one shots || randomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang