1. New Comer

983 54 20
                                        

BRAKK!

Suara benturan yang cukup kencang dari dua kendaraan yang beradu, membuat beberapa orang menjerit secara bersamaan.

Ponsel yang sejak tadi ada di dalam genggamannya seketika terlempar ke depan, ke dekat pintu angkutan umum yang terbuka lebar. Dia memekik lirih saat ponsel itu meluncur kencang di lantai kendaraan.

Beruntung, seorang penumpang lain dengan sigap mengangkat kaki untuk menahan ponsel itu hingga tak sampai terlempar ke jalanan beraspal.

"Terima kasih," katanya saat menerima kembali ponsel dari penumpang yang sudah menyelamatkan alat komunikasinya.

Setelah itu, si wanita muda dengan rambut sebahu tersebut membungkukkan badan ke depan untuk melihat apa penyebab mobil angkutan yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti mendadak.

Dia dan tiga penumpang lainnya mendadak tampak tegang ketika mendapati sopir angkutan keluar dari kendaraan sambil membanting pintu dengan kasar.

Mereka dibuat terjingkat dengan tindakan sang sopir yang menggebrak badan mobil mewah, yang menjadi penyebab mobil angkutan miliknya berhenti mendadak, tapi terlalu terlambat untuk mengerem sehingga menabrak bagian belakang Aston Martin berwarna biru metalik itu.

"Keluar!" raung si sopir penuh emosi. Kedua tangan pria berbadan kekar itu mengepal kuat, tampak siap menghajar si pengemudi mobil mewah yang telah menghentikan kendaraannya dengan sembrono.

Tak perlu menunggu lama, pintu mobil mewah itu terbuka dan seorang pemuda dengan tinggi badan hampir mencapai 180 CM keluar dengan gayanya yang santai. Dia memandang sang sopir sambil mengulas cengiran, setelah melihat hasil perbuatannya.

"Maaf ya, Pak," ucap si pemuda enteng.

Akan tetapi, sopir berbadan gempal yang sudah dibalut emosi itu sepertinya tak punya keinginan untuk melunakkan sikap, kendati pemuda di hadapannya masih mengenakan seragam sekolah yang dilapisi dengan jaket denim. Sebaliknya, wajah tembamnya semakin memerah karena geram.

"Masih bocah sudah berani mengendarai mobil pribadi. Gara-gara kamu, angkutanku jadi penyok seperti itu!" sembur sang sopir sambil menunjuk bagian depan angkutannya.

Si pemuda mengangkat tangan kanan untuk mengusap tengkuknya. Masih terlihat santai untuk ukuran seorang remaja yang sedang menghadapi masalah serius di sebuah persimpangan jalanan umum.

"Begini saja, karena aku juga sedang buru-buru, bagaimana jika Anda sebutkan saja berapa yang harus kubayar untuk ganti rugi?" tanya si pemuda sambil merogoh saku di bagian belakang celananya.

Sang sopir memicingkan mata. Bola matanya bergerak mengamati pemuda di hadapannya, mulai dari ujung kaki hingga ke puncak kepala. Sesekali ia juga menggaruk dagunya yang ditumbuhi cambang kasar. "Beri aku lima juta!"

Pemuda itu terdiam. Dia memandang pria sangar di depannya dengan kening berkerut dan urung membuka dompetnya. "Lima juta?" Dia mengerling bumper mobil angkutan yang penyok. "Untuk sedikit penyok yang seperti itu? Jangan mengada-ada, Pak Sopir! Bahkan di bengkel resmi saja tidak mungkin sebanyak itu tarifnya. Apalagi hanya di ketok magic."

Sang sopir mendengus gusar. Dia kembali menggebrak kap mobil milik si remaja sekolah, kali ini lebih keras daripada yang awal tadi.

"Hei, Bocah Ingusan! Meskipun opeletku tidak semahal mobilmu, tapi aku selalu membawanya ke bengkel resmi. Dan karena di sana selalu antri berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, jadi aku tidak bisa kerja. Kamu juga harus menanggung kerugian yang bagian itu."

Sang pemuda berhidung mancung itu tertawa pendek. "Justru karena itu, Pak Sopir yang baik, Anda seharusnya memilih ketok magic yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengerjakan reparasi seperti itu." Dia membuka dompet kulit warna hitam. "Jadi, sebutkan angka yang lebih masuk akal!"

He is My StudentWhere stories live. Discover now