Kubungkus rasa itu sendiri. Membiarkannya teronggok dalam elegi.
Sesekali sesak ini menyapa diri.
Menyadarkan sepi yang membungkus hati.
Dan
Terkadang,
Jikalau mungkin kau juga merasakan.
Aku masih tak yakin kau akan paham.
Apa perlu menangisi?
Apa perlu aku menjeritkan isi hati?
Bahwa sesak ini betul-betul kejam.
Bahwa sesak ini menderaku begitu rupa.
Tapi jika sesak ini membuatku memikirkanmu, membayangkanmu.
Tak peduli seberapa besar rasa sakitnya.
Aku akan tetap bertahan.
Dan kuberitahu padamu sekarang juga.
Jangan beritahu siapapun kalau...
Sesak ini ku beri nama rindu.
YOU ARE READING
Monolog
PoetryTak perlu kujelaskan bagaimana hujan membuat air mata sama sekali teredam.
