Bertemu dengan Dika dalam suasana penuh luka. Tak ada rasa selain kecewa dan airmata. Tia hanyalah wanita sederhana yang selalu meninggikan kejujuran. Dan Dika selalu penuh kejutan yang membuat Tia merasa terabaikan. Cukuplah Sendi sebagai pelajaran...
Sebenarnya sudah sangat lama pengen posting tapiiiii....
Baru sempat
Happy reading all...
Moga suka yaa
silahkan komeeen masukan dan kritiknyaaaa
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Part 1
"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku mohon jangan pergi..."
Uh. Bahkan intonasinya masih runtut kudengar di telingaku. Pun sebesar apa aku usaha menghapus suara suara itu dan senyatanya aku tak bisa. Dengan segepok dead line laporan depan mata ini. Masih saja sempat bersliweran kalimat itu. Lalu apa mauku sebenarnya?
Kulepas kacamata minus dan meletakkan lensa bening itu di atas keyboard laptop yang menyala. Kupijit pelipis kiri yang tetiba pening, jam berapa ini? Sudah berapa jam aku duduk diam di belakang mejaku? Aku bangkit berdiri. Meluruskan badan membelakangi meja. Mengibaskan tirai jendela kaca. Dan terlihat disana bayang wajahku, kerudung maruun, setelan blazer hitam. Kata orang aku cantik, tinggi dan cerdas. Tapi perfectionistku memberi kesan bahwa aku sombong dan angkuh. Mungkin itu pula yang mendukung pola hubunganku dengan laki laki jadi mudah kandas. Setelah Kandas aku tak mudah memulai sebuah relationship lagi.
Gerimis di luar sana. Malam belum sempurna turun. Senja kian temaram tersabut awan di langit. Sudah hampir pukul enam sore. Rasanya baru tadi aku naik angkot menembus macet pagi. Lalu lanjut KRL selama satu jam. Selalu merasa terburu buru mengejar jam masuk kantor. Dan kini sudah bukan lagi jam kantor?
"Masih belum selesai?"
Aku terhenyak kaget. Segera memutar mata ke sumber suara. Sendi? "Ngapain kamu disini?" selidikku to the poin. Aku tak bisa menyembunyikan rasa tak suka. Laki laki ini sudah beristri! Istrinya sedang hamil anak mereka, lalu untuk apa Sendi menemuiku?
"Pliiis.. Tia, aku hanya ingin ngobrol. Bolehkan? Sudah satu jam aku menunggu di lobi, HP selalu kamu matikan." Celotehnya membuatku muak.
"Aku sudah capek, aku mau pulang." Aku berusaha sesantai mungkin. Aku memang benar benar lelah. Lalu laki laki ini pun menambah ruwet rasaku.
"Kali ini saja Tia, Aku antar pulang ya..."
Aku langsung menggeleng. Sendi kini berdiri hanya beberapa meter di depanku. Aku bergegas membereskan berkasku.
"Aku tahu rencana pernikahanmu dengan Dika gagal kan?"
"Itu bukan urusanmu."
"Aku hanya ikut prihatin Tia..." Laki laki itu masih seperti dulu, selalu memanggilku dengan lengkap, TIA.
"Terimakasih.. tetapi aku tidak butuh itu." Berjalan cepat meninggalkan Sendi.
"Tia... sebentar..." Sendi tak kalah cepat menyusul langkahku. "Tia, aku masih cinta kamu. Aku tak bahagia dengan pernikahanku. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku nyesel, aku tidak bermaksud mengkhianati kamu. Maaf Tia."
Aku menghentikan langkah, menarik nafas dalam, mengumpulkan energy terbaikku untuk menjawab ungkapan Sendi. "Laki laki kesatria itu, siap bertanggungjawab pada perilakunya bukan hanya berani menyesap madu lalu kabur begitu saja. Lupakan aku dan kembali ke Riana." kalimatku tajam penuh penekanan.
Setengah berlari meninggalkan Lakilaki jangkung itu, laki laki bernama Adian Sendinaka. Teman pasca sarjana yang pernah mengikatku dalam tunangan panjang tak berujung. Laki laki penuh ambisi membesarkan perusahaan manufaktur miliknya. Laki laki yang aku kenal sibuk bekerja sehingga tak punya banyak waktu sekedar bertemu dan bercengkrama denganku. Aku berusaha memahami semua kesibukan bisnisnya yang harus membawanya kemana mana. Aku terlalu percaya dia laki laki hebat yang hanya sibuk bekerja.
Sampai pada bisnis yang melesat dan tesispun selesai mendahuluiku. Harus bertemu client di Pekanbaru, Manado, Surabaya, Bandung, Kendari dan entah dimana lagi. Sekali lagi aku percaya saja. Karena pesan sms selalu dia kirim padaku, tentang keberadaanya, tentang kesibukannya tentang semuanya. Dia sangat pandai bercerita. Dia sangat pandai mengarang cerita. Aku dibohongi, dia menipuku.
Dan begitu juga Dika!
Keluar dari lift sampai di lobi. Dan pulang paling akhir menunggu kantor sepi adalah kebiasaan baruku. Kecuali Jumat karena itu hari konsul rutin ke kampus. Bertemu profesor Aidil mentor Tesisku hanya punya waktu sepekan sekali. Sore ini ruang loby juga sudah kosong. Meja receptionist juga sepi. Lalu di pintu keluar berpapasan dengan security yang masih tegak berjaga. Pak Andang namanya.
"Mba. Tadi kayak lihat itu... emm.. mobil sport apa tuh... yang warna abu abu. Saya pernah lihat si masnya ketemuan sama mba Tia waktu itu."
"Siapa pak?" aku mengernyitkan dahi.
"Toyota apa mba yang besar itu?"
"Fortuner?" Reflek saja kusebut merk mobil milik Dika.
Lalu pak Andang mengiyakan. Dika ke kantorku? Ah tidak mungkin. Begitu banyak mobil fortuner abu abu di Jakarta ini. Tepisku dalam hati. Hàmpir yakin itu bukan Dika. Dia pasti sedang sibuk mempersiapkan keberangkatanya sepekan lagi. Aku kini bukan siapa siapanya lagi kan?