Kupejamkan mata ini meski deras embunnya mengalir tak terelakan. Aku paksa saja. Tak ada isak pada episode kali ini karena memang aku sedang tidak menangis. Hanya lelahnya begitu terasa menguasai seluruh raga, penatnya membuat jiwa tak mampu bangkit. Kali ini aku akui keterpurukan yang menghantui hidup beberapa bulan belakangan. Hidup enggan, mati tak mau. Begitulah kira-kira apa yang tergambar di mata sayu dan senyum samar-samarku belakangan ini. Jiwaku mati terhempas angan yang telah lalu meninggalkan. Sesal dan sesal saja yang di rasa. Untuk bernapas saja sesaknya bukan main, ditambah kepala pening ingin melupakan apa yang telah terjadi. Kuingin tidur, tidur, dan tak bangun lagi saja namun kadang tidurpun tak mau kompromi, ia sering menghadirkan mimpi-mimpi menyeramkan yang seakan mencekik tak karuan rasanya. Atau hal-hal yang telah lalu, semasa berjuang, semasa merasakan bagaimana bangganya sewaktu berjuang. Namun nyatanya kini keringat belum bisa terbayarkan. Tawa itu, inginku ulang lagi. Keringat itu inginku hadirkan kembali. Jauhku pada Tuhan, jarak kami yang dulu dekat, namun aku tak kuasa menanggung cobaan yang diberikan, sehingga kini aku semakin tak berbentuk. Rugi dalam segalanya. Masuk dalam kubangan hitam, kelam, dan kosong. Dimana Tuhan yang dulu sering menemani langkahku? Dimana Tuhan yang kusanjung setiap waktu? Apakah ini saatnya Engkau mengujiku? Sungguh, hadirkan kembali segala kebaikan dan anugerahmu, aku tak sanggup!!
Mataku terbuka menatap langit kamar. Huuuhh, Mimpi itu hadir kembali. Mimpi yang amat menyeramkan. Kulangkahkan kaki ke kamar mandi, kubasuh wajah dan menatap kaca, melihat bagaimana wajah yang dulu ceria menjadi tampak sayu dan menakutkan. Ada apa ini? Siapa aku akhir-akhir ini? Rumah sepi tandanya ayah dan bunda tidak ada di rumah. Ku cari handphone di kamar dan mulai menemukan kontak bunda.
"Halo bun, bunda dimana?"
"Bunda di rumah nenek Nya, kamu kan sudah tahu nenek sakit dan bunda harus jagain, kamu ini masih muda kok pelupa", kata bunda.
"Nenek sakit? Sejak kapan bun? Nenek sakit apa?", tanyaku heran.
"Lhoh..lhoh.. Nenek kan udah sakit diabet udah lama, minggu kemarin juga dirawat kamu jengukin, ini bocah kenapa si. Kamu sana mandi dulu, kumpulin nyawamu dulu. Anak gadis bangunnya siang, udah gitu linglung", ceriwis bunda.
"Ee.. Iya bun, aku mandi dulu ya.. Daa bundaa", jawabku heran sambil menutup telepon.
Nenek sakit? Kok aku lupa ya. Heranku dalam hati. Setelah makan dan bersih-bersih seadanya aku buka handphone dan membuka beberapa sosmed. Aku terpaku pada sebuah postingan lily temanku. Dia baru saja mendapat predikat siswa berprestasi dan kali ini dia menunjukan sebuah foto dirinya sedang berada di depan bangunan mewah dan caption yang menjelaskan bahwa ia mendapat beasiswa kuliah di Havard University. Gilaaa, kesal ku dibuatnya. Duh, beruntung banget si. Aku mulai berpikir macam-macam. Aku dan lily memang teman satu univeritas dan kami memang sedang mengincar beasiswa yang membantu kami sekolah di Havard, US. Dan dia yang mendapatkannya. Kututup hape-ku. Kesal rasanya melihat apa yang kita dambakan dinikmati orang lain. Kualihkan pandangan melihat keluar jendela. Rumah ini jauh dari kota. Dan aku jarang keluar dari rumah. Sekelilingku sepi bagai tak berpenghuni. Entah mengapa susah sekali move on dari lily. Aku harus bisa lupa. Harus. Kupasang earphone dengan volume keras dan mulai memejamkan mata. Menjauh dari nyata dan melupakan segalanya.
YOU ARE READING
Is it a miracle?
Short StoryBukan novel. Hanya potongan kisah yang tidak terkait. Telah dimodifikasi.
