Part 1

6 0 0
                                        

Ga suka nyontek kok, tapi...

Arkei note

Aku sering berpikir. Aku menempuh pendidikan selama belasan tahun hanya untuk ijazah? Benar-benar tidak berkelas. Seharusnya ketika semakin tinggi pendidikanku aku harus semakin berpikir bahwa aku harus menuruti nafsuku mencari ilmu yang aku mau, bukan demi selembar kertas berlafazkan ‘Ijazah’.

Sekali lagi gadis itu membetulkan letak kerudung yang sedang ia kenakan. Gadis berkacamata itu memainkan bolpoin miliknya. Sesekali memejamkan matanya. Ia menoleh ke kanan kirinya. Senyap. Pertanda bahwa ujian kali ini benar-benar menguras otak. Aku tersenyum kecut.

Sekelas Ratna saja harus menengok kanan dan kirinya, apalagi aku. Kertas ujianku belum penuh, tapi aku sudah tidak peduli. Siapa yang peduli dengan probabilitas orang membaca sebuah koran yang diletakkan di atas meja tamu? Tidak ada. Tapi di statistik induktif itu perlu dihitung. Siapa juga yang peduli dengan distribusi poisson dan teman-temannya, di tempatku bekerja aku tak akan berurusan dengan hal-hal seperti itu.

“Tapi ini penting, Ar!” pekik Eicha
“What for?” tanyaku tak peduli saat itu, aku sudah terlanjur kesal dengan dosen yang mengajar. Padahal awal masuk semester aku menjadikan statistik mata kuliah favorit setelah akuntansi, nyatanya pergantian dosen di tengah semester mempengaruhi tingkat rasa sukaku terhadap mata kuliah ini.
“Buat Skripsi,” kali ini Arsa yang menjawab dengan santai.
Aku sungguh tidak habis pikir. Aku harus bertahan kuliah hanya demi skripsi?

“Psst...psssttt, Ar,” Zizi membuyarkan lamunanku.
Zizi yang duduk tepat di belakangku menendang pelan kursiku.
“Apa?” balasku setengah berbisik. Aku dan Zizi kerap jadi sorotan pengawas lantaran kami sering bekerja sama.
“Nomer dua sama tiga, catatan yang mana? Gue lupa sama nggak ngerti,” setelah mengucapkan itu dia menyengir.
“Gue nomer dua udah, catetan yang judulnya ada pois...” ucapanku menggantung, Mister Kumis Tebal berdiri tepat di depanku saat aku sibuk membisikkan materi pada Zizi, Zizimengerjap pura-pura sibuk sendiri dan aku berpura-pura menggerakkan leherku, pura-pura pegal.

Sial. Si Kumis tau nggak ya?

“Kerjakan sendiri atau saya suruh kamu keluar dan nilai kamu nol?” Pak Kumis berkata tajam.

Aku cengengesan tidak jelas.

“Ujiannya kan sudah open book, kenapa harus contek-contekan?” Pak Kumis bertanya sarkastik pada semua peserta ujian.

Pak Kumis adalah pengawas ujian paling menyebalkan di kampusku, dia adalah sosok bertubuh pendek, dengan kepala tirus, badan kurus dan kumis tebal yang perlu diurus. Nama aslinya Pak Ibrahim. Sosoknya selalu bisa bikin para peserta gemas, karena bisa dipastikan dia tidak akan anteng di meja pengawasnya. Dia akan berkeliling dan matanya juga ikut mengawasi dengan seksama apa yang terjadi di dalam ruangan. Sekali ketahuan, dijamin. Nilaimu NOL.

Aku tetap cengengesan. Aku sudah terbiasa diomeli pengawas ujian, yang berisik lah, yang toleh sana sini lah, dan banyak hal lainnya. Tapi aku, Arkeina, tidak akan pernah berpikir untuk diam dan tidak menolong sesama korban pendidikan ini.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Zizi saat ini, yang aku tahu aku sudah berusaha membantu dan ditambah lagi pekerjaanku sudah selesai, aku tidak tahu benar atau salahnya. Hanya saja, aku sudah tidak peduli. Siapa yang peduli dengan nilai A asal kamu masih bisa makan, bekerja dan tertawa?

Aku tak bisa apa-apa dalam ruang ujian. Arsa dan Eicha ada di ruang tiga, dua ruangan dari ruang ujianku, sedangkan Sasa ada di ruang ujian dua, tepat di sebelah ruang ujianku. Aku hanya satu ruangan dengan Zizi, tapi aku sudah tidak bisa berkutik. Pak Kumis tetap berdiri di sampingku. Aku memutuskan untuk keluar, buat apa berada dalam ruangan pengap yang tidak bisa memberiku ccelah selain aku harus keluar dari ruangan.

Aku memasuukan buku-buku catatan, fotokopian dan beberapa alat tulis serta kartu ujian berwarna kuning milikku ke dalam ransel.
Aku bangkit berdiri dan menyangklong tas ranselku dengan sedikit dramatis. Teman-temanku memandangku dengan pandangan ‘lo kenapa ar?’. Aku berjalan keluar ruangan dengan langkah kaki yang kubuat sedramatis mungkin, ini bisa membuat pengawas mengalihkan pandangan selama beberapa detik, dan itu cukup berharga untuk para peserta ujian mencontek.

Sesampainya di luar aku pura-pura berteriak dramatis.

“Ya ampun, ternyata nomer dua itu yang distribusi poisson,” mulut toaku bekerja.

Aku dan Zizi biasa melakukan ini, jika salah satu dari kami tertawan pengawas maka salah satu dari kami akan keluar dan pura-pura berteriak soal materi yang keluar di soal ujian. Trik ini sudah kami lakukan berkali-kali. Semoga Zizi paham maksudku.

Aku masih tetap berteriak histeris dramatis di depan ruang ujian satu, sampai ada salah satu dosen keluar dan menegurku.

“Mbak, bisa dikecilkan suaranya, sangat mengganggu peserta yang lain,” tegurnya sinis. Aku tersenyum minta maaf dan pergi ke toilet terdekat.

Tak kusangka efek mulut toaku berefek cukup bagus, dosen yang barusan menegurku adalah dosen bahasa inggris yang kebetulan mendapat jatah menjadi pengawas di ruang dua, ruang ujian Sasa, Sasa juga sudah paham trikku. Aku yakin dia memanfaatkan jeda waktu tadi, ditambah tadi Pak Ibrahim sempat hampir keluar karena kesal dengan sikap berisikku.

Aku tak pernah setuju dengan mencontek sebenarnya, hanya saja aku tak bisa tahan melihat temanku kesusahan dalam ruang ujian padahal aku tahu dia sudah belajar mati-matian, bukan karena aku sok pintar atau apa, aku hanya merasa setidaknya aku bisa membantu mereka.

Aku mematut diriku di cermin toilet. Membetulkan letak kerudung instanku yang berwarna kunyit. Aku mendesah pelan, kulirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan kiriku, masih sepuluh menit lagi ujian hari ini baru selesai. Aku memutuskan untuk keluar, sebelum keluar aku mengecek kondisi luar toilet. Sudah ada beberapa mahasiswa yang keluar, ada yang menampakkan wajah tenang, kusut masai seperti tidak pernah gajian, ada yang tersenyum puas entah karena bisa atau karena banyak yang tidak bisa, entahlah, toh aku juga tidak tahu ujian mereka hari ini apa. Yang aku tahu mereka tidak satu jurusan denganku.

Drrrttt...
Ponselku bergetar. Aku menggeser slide pada layar ponselku.
Zizi meneleponku.
“Alo, Zi. Ada pa?” tanyaku sambil berjalan keluar toilet, sudah lumayan banyak yang keluar. Kulihat Sasa dengan sikap histerisnya yang selalu berkata, ‘gue ga bisa. Sumpah deh. Bodo amat’ tapi tetap kepikiran. Ya itu Sasa.

“Lo dimana? Gue di bawah ni, deket TU,” ucap Zizi di seberang.
“Oke, gue otw. Sama siapa lo?” tanyaku, aku berjalan ke arah Sasa yang tengah duduk dengan wajah kusut.
“Sendiri, soalnya gue cari lo tadi nggak ada, gue pikir di bawah, yaudah gue tunggu ya,” ucap Zizi dan tut tut sambungan telpon dimatikan.

Ternyata Arsa dan Eicha belum keluar.
“AAAAAARRRRRRRRR....” belum juga aku sampai Sasa sudah berteriak dan menghambur ke pelukanku. Kebiasaan setelah merasa tidak bisa mengerjakan soal ujian. Garis bawahi ya, MERASA. Karena seringnya ketika si Sasa bilang ‘Gue nggak bisa’ itu bakal muncul teka-teki baru.

“Masaaaaakkkk?” godaku, ini adalah salah satu cara membuat teman kita up lagi dan dengan ucapa “Gue juga nggak bisa tadi kok, santai aja kali. Terus itu betewe ada orang nyariin lo tadi minta katalog Shopie lo, mau order katanya,” jeng jeng jeng satu dua tiga.
“Mana Ar? Siapa sih?” seketika wajah Sasa yang tadi kusut berubah cerah. Dasar ratu olshop. Itu juga trik membuat Sasa ceria lagi. Orderan barang. Aku tertawa kecil. Padahal tadi aku Cuma ngarang. Aku diam pura-pura mengingat siapa gerangan orang yang tanya katalog milik Sasa.

“Gue lupa,” aku nyengir kuda dan berjalan kearah tangga.

Arsa dan Eicha sudah aku chat untuk bertemu di depan ruang TU.

Sasa masih menggandengku. Dia sudah melupakan ujian tadi. Dasar Sasa.

Aku dan Sasa menghampiri Zizi. Zizi tertawa dan bertos ria denganku.

“Thanks Ar mulut toa lo menyelamatkan umat,” kata Zizi dengan senyum mengembang.

Kami berdua tahu lima soal yang tadi kami kerjakan tidak ada jaminan akan benar semua, setidaknya kembali ke prinsip awal kami. Setidaknya terisi semua.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Aug 15, 2017 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Catatan Harian seorang cewek absurdHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora